Mengenal Sensus Laut Global Inisiasi Jepang-Inggris, Temukan Ribuan Spesies Baru

katadata.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Proyek eksplorasi laut berskala global bernama Ocean Census tengah berlangsung di berbagai wilayah perairan. Sesuai namanya, proyek ini bertujuan melakukan semacam "sensus" kehidupan laut. Targetnya ambisius: menemukan dan mendokumentasikan 100 ribu spesies laut baru dalam kurun waktu 10 tahun.

Ocean Census merupakan inisiatif yayasan filantropi Jepang The Nippon Foundation dan organisasi eksplorasi laut Inggris Nekton Foundation. Diluncurkan pada 2023, program ini didukung jaringan global yang melibatkan lebih dari 1.400 ilmuwan dan ahli taksonomi dari sekitar 660 institusi di 85 negara.

Selain mencari spesies baru, Ocean Census juga berupaya mempercepat proses identifikasi dan pendokumentasian spesies yang selama ini berjalan lambat. Selama ini, spesies yang telah ditemukan di alam membutuhkan waktu rata-rata 13,5 tahun sebelum akhirnya dideskripsikan secara resmi dan memperoleh nama ilmiah.

Untuk memangkas proses tersebut, Ocean Census mengembangkan platform data terbuka bernama NOVA. Melalui platform ini, temuan spesies baru dapat dipublikasikan hanya dalam hitungan hari atau pekan setelah diidentifikasi, tanpa harus menunggu seluruh proses penamaan ilmiah selesai.

Dengan cara itu, data dapat lebih cepat diakses dan dimanfaatkan oleh peneliti, pembuat kebijakan, pelaku inovasi, maupun pengelola konservasi dalam upaya melindungi ekosistem laut.

Lebih dari 90% Spesies Laut Belum Dikenal

Kepala Sains Ocean Census Michelle Taylor mengatakan dunia saat ini sedang berpacu dengan waktu untuk memahami dan melindungi kehidupan laut. Banyak spesies berisiko menghilang bahkan sebelum sempat didokumentasikan.

"Dengan mempercepat penemuan dan berbagi data secara global, kami tidak hanya menemukan bentuk kehidupan baru, tetapi juga menghasilkan bukti ilmiah yang dibutuhkan untuk mendukung pengembangan sains dan kebijakan pada momen yang sangat krusial," kata dia dikutip dari situs Ocean Cencus, Rabu (24/6). 

Sejauh ini, para ilmuwan memperkirakan baru sekitar 240 ribu spesies laut yang berhasil dideskripsikan secara ilmiah. Sedangkan jumlah spesies yang sebenarnya hidup di lautan diperkirakan mencapai dua juta bahkan lebih. Artinya, sekitar 90 persen spesies laut kemungkinan masih belum dikenal oleh sains.

Persentasenya yang belum dikenal bisa jadi jauh melampaui perkiraan. Pasalnya, para ilmuan mengestimasi kurang dari 0,001 persen dasar laut yang pernah diamati langsung oleh manusia.

Temuan Seribu Spesies Laut Baru dalam Setahun

Lewat 13 ekspedisi di sejumlah wilayah samudra paling terpencil dan paling sedikit dieksplorasi di dunia, Ocean Census baru-baru ini melaporkan telah menemukan 1.121 spesies laut baru hanya dalam satu tahun terakhir. Berikut dua di antaranya yang jadi sorotan karena bentuk, habitat, maupun potensi manfaatnya.

Hiu Hantu dari Laut Koral

Salah satu temuan yang paling menarik adalah seekor "hiu hantu" atau ghost shark yang ditemukan di Coral Sea Marine Park, Australia, pada kedalaman lebih dari 800 meter.

Meski dijuluki hiu, ikan dari kelompok chimaera ini sebenarnya bukan hiu sejati. Chimaera merupakan kerabat jauh hiu dan pari yang menempuh jalur evolusi sekitar 400 juta tahun lalu, jauh sebelum dinosaurus muncul di Bumi.

Kelompok ikan ini dikenal sebagai penghuni laut dalam yang misterius. Julukan hiu hantu muncul dari penampilannya yang pucat serta habitatnya yang gelap jauh di bawah permukaan laut.

Spesies tersebut ditemukan oleh ahli taksonomi William White dalam ekspedisi yang dipimpin lembaga riset Australia, CSIRO, di kawasan Laut Koral lepas pantai Queensland.

Temuan ini juga mengingatkan pada tekanan yang dihadapi kelompok hiu, pari, dan chimaera. Para peneliti mencatat sekitar sepertiga spesies dalam kelompok tersebut saat ini berada dalam kategori rentan terhadap ancaman kepunahan.


Hiu Hantu (Ocean Cencus The Nippon Foundation-Nekton Ocean Census-CSIRO)
Cacing Pita Beracun dari Timor-Leste

Di perairan dangkal Timor-Leste, ilmuwan menemukan spesies baru cacing pita laut dari keluarga Drepanophoridae pada kedalaman hanya satu hingga lima meter.

Tubuhnya yang berwarna mencolok diduga berfungsi sebagai sinyal peringatan bagi predator. Warna cerah tersebut menunjukkan bahwa organisme kecil ini memiliki pertahanan kimia yang kuat, karakteristik yang umum ditemukan pada kelompok Nemertea atau cacing pita laut.

Spesies yang ditemukan oleh ahli biologi laut Svetlana Maslakova ini berukuran kurang dari tiga sentimeter. Meski kecil, kelompok cacing pita laut menarik perhatian ilmuwan karena senyawa kimia yang mereka hasilkan berpotensi dimanfaatkan dalam pengembangan obat-obatan.

Sejumlah racun yang ditemukan pada kerabat dekat kelompok ini bahkan tengah diteliti untuk pengembangan terapi penyakit neurologis, termasuk Alzheimer dan skizofrenia.


Cacing Pita Beracun (The Nippon Foundation-Nekton Ocean Census/Gustav Paulay)

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hasil Portugal vs Uzbekistan: Selecao das Quinas Pesta Gol, Ronaldo Sumbang Brace
• 16 jam lalumedcom.id
thumb
Indonesia Dorong Investasi Konservasi melalui Pembiayaan Inovatif Taman Nasional di London Climate Action Week
• 10 jam lalupantau.com
thumb
Disentil Tuchel Main dengan 10 Bek, Pelatih Ghana: Saya tidak Bisa Memainkan Samba Ketika Mereka Memainkan Rock and Roll
• 11 jam laluharianfajar
thumb
Afiliasi UNTR Akuisisi 17,5% Saham Smelter HPAL di IMIP Senilai Rp3,03 Triliun
• 40 menit lalubisnis.com
thumb
Misi Garudayaksa FC, Temukan Marselino Ferdinan Berikutnya dari NTT
• 22 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.