JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Kehutanan (Menhut) RI Raja Juli Antoni menyampaikan, Indonesia kini memiliki dukungan politik pada tingkat tertinggi sekaligus landasan hukum kuat untuk memperkuat konservasi alam.
Hal tersebut ia sampaikan saat melakukan pertemuan bilateral dengan UK Special Representative for Nature Ruth Davis di Kew Gardens Orangery, London, Inggris, Selasa (23/6/2026).
“Indonesia telah memiliki landasan hukum yang kuat serta dukungan politik pada tingkat tertinggi untuk memperkuat konservasi alam," ujar Raja, dalam keterangannya, Rabu (24/6/2026).
Pertemuan Raja Juli dengan Utusan Khusus Inggris ini untuk menindaklanjuti dialog yang telah berlangsung pada April 2026, sekaligus menegaskan komitmen kedua negara untuk memperkuat kerja sama di bidang konservasi alam, perlindungan keanekaragaman hayati, dan pembiayaan berkelanjutan bagi kawasan lindung.
Baca juga: Menhut: Alam Harus Dikelola dan Diinvestasikan Secara Berkelanjutan
Kedua pihak turut membahas perkembangan implementasi Satuan Tugas Konservasi Bentang Alam dan Spesies Ikonik yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2026.
Satuan Tugas tersebut memiliki mandat untuk memperkuat konservasi, memobilisasi pembiayaan inovatif, mendukung pencapaian target FOLU Net Sink 2030, serta membangun model pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan.
Ia mengapresiasi dukungan pemerintah Inggris terhadap agenda konservasi Indonesia, termasuk dukungan awal sebesar GBP 2 juta yang telah diumumkan pada pertemuan Satuan Tugas bulan April 2026 lalu.
"Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan mandat tersebut menjadi reformasi kebijakan, proyek percontohan yang dapat direplikasi, dan hasil konservasi yang terukur bagi masyarakat maupun lingkungan,” tutur Raja.
Raja menyampaikan, Indonesia menegaskan bahwa pengembangan pembiayaan inovatif untuk konservasi merupakan pelengkap pembiayaan pemerintah dan bukan bentuk privatisasi taman nasional.
Baca juga: Upaya Putus Rantai Konflik, Menhut Serahkan SK Hutan Adat Seluas 1.175 Hektare
Seluruh pendekatan yang dikembangkan akan tetap menjunjung tinggi prinsip transparansi, akuntabilitas, integritas ekologis, serta manfaat yang adil dan inklusif bagi masyarakat sekitar kawasan.
Selanjutnya, kata Raja, kedua pihak juga bertukar pandangan mengenai pengembangan Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) sebagai salah satu model konservasi bentang alam yang mengintegrasikan perlindungan spesies kunci, penguatan ekonomi masyarakat, serta mobilisasi investasi jangka panjang untuk konservasi.
Sebab, Indonesia saat ini memiliki 57 taman nasional dengan luas hampir 18 juta hektar yang menjadi rumah bagi berbagai spesies ikonik dunia dan ekosistem penting.
Pemerintah Indonesia tengah mengembangkan pendekatan pembiayaan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kawasan, termasuk melalui skema blended finance, filantropi, dan pembiayaan publik, guna menutup kesenjangan pendanaan konservasi yang masih cukup besar.
Baca juga: Menhut Ingatkan Potensi Kemarau Panjang akibat El Nino di Forum PBB
Pertemuan bilateral ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi internasional dalam menghadapi tantangan global terkait hilangnya keanekaragaman hayati dan perubahan iklim.
Indonesia dan Inggris sepakat untuk terus memperkuat dialog serta menjajaki berbagai peluang kerja sama konkret guna mendukung pengelolaan kawasan lindung yang efektif, inklusif, dan berkelanjutan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




