Ringkasan Berita
- Pemkot Kediri dan OJK menggelar edukasi keuangan SICANTIK bagi kader PKK.
- Sebanyak 125 peserta mendapat pembekalan mengelola keuangan keluarga secara bijak.
- Edukasi juga membahas investasi, pinjaman daring, dan kewaspadaan terhadap keuangan ilegal.
- OJK menilai literasi keuangan perlu ditingkatkan agar sejalan dengan tingginya inklusi keuangan.
Kediri (beritajatim.com) – Pemerintah Kota Kediri bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kediri memperkuat literasi keuangan perempuan melalui program Sahabat Ibu Cakap Literasi Keuangan (SICANTIK). Kegiatan yang digelar di GOR Jayabaya ini diikuti 125 pengurus dan anggota PKK sebagai upaya meningkatkan kemampuan mengelola keuangan keluarga sekaligus mencegah masyarakat menjadi korban aktivitas keuangan ilegal.
Program SICANTIK hadir di tengah pesatnya perkembangan layanan keuangan digital yang membuat masyarakat semakin mudah mengakses pinjaman daring, investasi digital, hingga berbagai produk jasa keuangan lainnya. Melalui edukasi ini, peserta dibekali pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan keluarga, penggunaan produk keuangan secara bijak, serta cara mengenali risiko penipuan dan layanan keuangan ilegal.
Ketua Tim Penggerak PKK Kota Kediri, Faiqah Azizah Muhammad Qowimuddin atau Ning Faiqoh, menegaskan bahwa literasi keuangan menjadi bekal penting, khususnya bagi perempuan yang berperan sebagai pengelola keuangan keluarga.
“Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan layanan keuangan berlangsung sangat cepat dan semuanya terasa semakin mudah diakses. Karena itu, literasi keuangan menjadi sangat penting. Tema yang diangkat hari ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama bagi para ibu yang berperan besar dalam mengelola keuangan keluarga,” ujarnya.
Menurut Ning Faiqoh, edukasi ini diharapkan mampu membangun kebiasaan baik dalam mengatur keuangan rumah tangga, mulai dari menyusun perencanaan keuangan, membedakan kebutuhan dan keinginan, menyiapkan dana darurat, hingga lebih teliti sebelum menggunakan layanan keuangan yang belum jelas legalitasnya.
Ia juga berharap pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti pada diri masing-masing, tetapi dapat diteruskan kepada keluarga, kader PKK, serta masyarakat di lingkungan tempat tinggal.
“Saya berharap ibu-ibu dapat menjadi perpanjangan tangan untuk berbagi informasi dan edukasi kepada masyarakat. Dengan begitu, semakin banyak warga yang memahami cara mengelola keuangan secara aman, cerdas, dan bertanggung jawab,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala OJK Kediri, Ismirani Saputri, mengungkapkan bahwa tingkat inklusi keuangan nasional masih lebih tinggi dibandingkan tingkat literasi keuangan masyarakat. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) terbaru, tingkat inklusi keuangan mencapai 80,51 persen, sedangkan literasi keuangan berada pada angka 66,46 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan masih banyak masyarakat yang telah menggunakan produk dan layanan keuangan, namun belum memahami manfaat maupun risiko yang menyertainya.
Selain itu, survei juga mencatat tingkat literasi keuangan laki-laki mencapai 67,32 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan perempuan yang berada di angka 65,58 persen.
“Kami ingin mengajak ibu-ibu untuk terus meningkatkan pemahaman dan literasi keuangan. Melalui kegiatan ini, kami menyampaikan bagaimana cara mengelola keuangan dengan baik, mengenali dan menghindari aktivitas keuangan ilegal, serta menjadi pengguna teknologi yang cerdas. Ibu-ibu juga harus lebih bijak dalam menentukan aplikasi atau tautan yang aman untuk diakses dan diunduh melalui gawai,” jelas Ismirani.
Salah satu peserta, Wanti, anggota Pokja I Kelurahan Dandangan, mengaku telah membiasakan diri mencatat seluruh pengeluaran rumah tangga sebagai langkah mengelola keuangan keluarga secara disiplin.
“Semua pengeluaran saya catat, mulai dari kebutuhan makan, biaya sekolah anak, arisan, hingga kebutuhan mendesak lainnya. Dari situ saya bisa menghitung berapa yang harus ditabung dan memastikan pendapatan yang ada dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.
Menurut Wanti, kemampuan mengelola keuangan menjadi bekal penting bagi perempuan karena berdampak langsung terhadap kesejahteraan keluarga. Sebagai pengurus PKK di tingkat RW, ia berkomitmen membagikan materi yang diperoleh kepada masyarakat melalui berbagai forum di lingkungan kelurahan.
“Harapannya, ibu-ibu semakin cakap dan bijak dalam mengelola keuangan keluarga. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut karena sangat bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Kediri selaku Ketua Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, Kepala Bagian Administrasi Perekonomian, serta perwakilan sejumlah perbankan. Melalui kolaborasi ini, Pemerintah Kota Kediri dan OJK berharap semakin banyak perempuan yang memiliki kecakapan finansial sehingga mampu mengambil keputusan keuangan secara aman, cerdas, dan bertanggung jawab. [nm/kun]




