Masyarakat Ditipu, Terbongkar Fakta Harga Bensin Harusnya Turun Menyusul Redanya Perang Iran-Amerika

wartaekonomi.co.id
23 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mempertanyakan lambatnya penurunan harga bensin di negaranya usai redanya ketegangan perang dari Amerika Serikat dan Iran.

Trump menilai harga bahan bakar seharusnya sudah mengalami penurunan lebih besar seiring membaiknya situasi geopolitik di Timur Tengah.

Baca Juga: Terbongkar Awal Bencana Perang Iran: Trump Ogah Dengarkan Peringatan dari Jenderal Amerika Serikat

“Perusahaan-perusahaan minyak besar tidak menurunkan harga bensin sebanding dengan penurunan tajam harga minyak yang mereka bayarkan. Pelanggan sedang ditipu,” ungkap Trump, dikutip Kamis (25/6).

Menurut Trump, sejumlah faktor yang sebelumnya menjadi pemicu lonjakan harga energi kini telah berkurang. Salah satunya adalah dimulainya negosiasi antara Washington dan Teheran. Hal itu menurunkan risiko gangguan pasokan energi global menyusul dibuka kembalinya Selat Homruz.

Namun di Amerika, harga bensin masih berada di kisaran US$3,93. Angka tersebut memang turun sekitar tiga belas persen dibanding puncak kenaikan sebelumnya, namun masih jauh lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu yang berada di level sekitar US$3,22.

Trump menilai kondisi tersebut tidak sejalan dengan perkembangan harga minyak dunia yang mulai mengalami koreksi dalam beberapa pekan terakhir.

Kenaikan harga energi sebelumnya dipicu memanasnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Hal tersebut berujung pada penutupan sementara Selat Hormuz. Penutupan jalur tersebut sempat mengguncang pasar energi global dan menyebabkan lonjakan harga minyak internasional.

Namun setelah negosiasi damai kembali berjalan dan aktivitas pelayaran dibuka, pasar minyak mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Trump mengatakan masyarakat seharusnya sudah mulai merasakan manfaat dari meredanya konflik tersebut melalui penurunan harga bensin yang lebih signifikan di Amerika.

Isu harga bensin menjadi perhatian besar di negara tersebut karena berpengaruh langsung terhadap biaya hidup masyarakat, mulai dari transportasi hingga distribusi barang kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga: Dokter Tifa dan Roy Suryo Tak Ditahan, Polisi Lepas Tangan di Kasus Ijazah Jokowi: Tanya Kejaksaan

Para analis juga menilai arah harga energi ke depan masih sangat bergantung pada hasil negosiasi lanjutan antara Washington dan Teheran. Mereka khususnya menyoroti terkait isu program nuklir dan mekanisme pengawasan internasional terhadap fasilitas nuklir dari Teheran.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
DLH DKI Sebut Kali Gendong Sudah Bebas Sampah Usai 5 Hari Dibersihkan
• 6 jam laludetik.com
thumb
Kemenag dan Komisi VIII DPR RI Salurkan Bantuan Rp15,4 Miliar untuk Pemulihan Pendidikan Pascabencana di Aceh
• 22 jam lalupantau.com
thumb
Sidang Perdana, Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Mengaku Idap Stroke Mata
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kemensos-ITB Visi Nusantara Perkuat Pemberdayaan Desa & Lulusan Sekolah Rakyat
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Polisi Butuh Taufik Hidayat Tetap Sehat demi Pengusutan Kasus YTR
• 6 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.