Membongkar Kekuatan Tersembunyi Manusia yang Masih Sulit Ditiru oleh AI

viva.co.id
18 jam lalu
Cover Berita

VIVA – Di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang semakin mampu menulis, menggambar, hingga menganalisis data kompleks, muncul satu pertanyaan besar: apakah manusia masih punya keunggulan yang tidak bisa ditiru mesin?

Sejumlah riset internasional, dikutip VIVA Kamis, 25 Juni 2026, menunjukkan bahwa jawabannya adalah ya, manusia masih memiliki kekuatan tersembunyi yang sulit direplikasi oleh AI, terutama dalam aspek emosional, kreativitas, dan kesadaran moral.

Baca Juga :
Kupas Tuntas Lapangan Kerja yang Paling Aman di Tengah Perang AI
Mengintip Wajah Industri Digital di Era Kecerdasan Buatan

ilustrasi orang sukses (credit :google)
Photo :
  • U-Report

Konsep ini sering disebut sebagai hybrid intelligence, yaitu kolaborasi antara kemampuan manusia dan mesin yang saling melengkapi, bukan saling menggantikan.

Salah satu kekuatan utama manusia adalah empati, kemampuan memahami dan merasakan emosi orang lain. AI memang dapat mengenali pola emosi dari data, tetapi belum benar-benar “merasakan” seperti manusia.

Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan sosial seperti empati, komunikasi, dan manajemen konflik tetap menjadi keterampilan yang tidak tergantikan dalam banyak profesi manusia.

Dalam dunia kerja, kemampuan ini sangat penting, misalnya dalam pendidikan, kesehatan, hingga kepemimpinan, karena keputusan manusia sering melibatkan aspek emosional yang kompleks.

AI modern seperti model bahasa besar memang mampu menghasilkan teks, musik, bahkan puisi yang tampak seperti buatan manusia. Namun penelitian menunjukkan bahwa meski hasilnya sering sulit dibedakan, kreativitas manusia tetap memiliki dimensi pengalaman hidup dan makna personal yang tidak dimiliki mesin.

Manusia menciptakan karya berdasarkan pengalaman, emosi, dan intuisi, bukan hanya pola data. Inilah yang membuat karya seni, cerita, atau inovasi manusia tetap memiliki “jiwa” yang unik dan sulit digantikan AI.

Di era AI, manusia justru semakin dibutuhkan dalam hal pengambilan keputusan strategis. AI dapat memberikan rekomendasi berbasis data, tetapi tidak memiliki pertimbangan moral, intuisi, atau konteks sosial yang mendalam.

Ilustrasi AI masuk kantor.
Photo :
  • Freepik

Berbagai studi menunjukkan bahwa profesi seperti pemimpin organisasi, ilmuwan, hingga tenaga kesehatan tetap membutuhkan kemampuan analisis manusia yang tidak bisa sepenuhnya diotomatisasi.

Selain itu, manusia juga mampu beradaptasi dalam situasi tidak pasti, sesuatu yang masih menjadi tantangan besar bagi sistem AI saat ini.

Selain aspek mental, manusia juga memiliki kemampuan biologis yang unik. Dalam kondisi tertekan atau darurat, tubuh manusia dapat melepaskan adrenalin yang meningkatkan kekuatan, kecepatan, dan refleks secara drastis.

Baca Juga :
Masa Depan Profesi Ini di Ujung Tanduk
Airlangga Sebut Data Center Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Mengapa Profesi di Bidang Kreativitas Tidak Bisa Digantikan oleh AI? Jawabannya Bikin Banyak Orang Terkejut

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ibas Nilai Merah Putih Bond Bisa Perkuat Modal Domestik
• 5 jam laluviva.co.id
thumb
Menko AHY: Penerbangan RI Mulai Gunakan SAF di 2027 demi Tekan Emisi
• 2 jam lalumatamata.com
thumb
Relawan SPPG Unjuk Rasa di DPRD Jabar, Minta Jangan Hentikan Program MBG
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
‎Berharap Damai Demi Anak, Sarwendah Ajak Ruben Onsu Hadir di Pertemuan 11 Juli Mendatang
• 1 jam lalugrid.id
thumb
Tilap Uang Lelang Rumah Rp1,9 Miliar, Mantan Ketua PN Kudus Dipecat Tidak Hormat
• 15 menit lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.