Bisnis.com, JAKARTA - Nickel Industries Limited menandatangani perjanjian kerangka kerja (framework agreement) yang mengikat dengan mitra lokalnya di Indonesia yang dipimpin oleh Adi Wijoyo (mitra lokal) serta investor Indonesia, PT Jaya Agung Investasi (JAYA), untuk menjalin kerja sama strategis jangka panjang dalam proyek tambang nikel dan smelter nikel dengan teknologi high pressure acid leaching (HPAL).
Nickel Industries merupakan perusahaan tambang tercatat di bursa Australia yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Shanghai Decent Investment (Group) Co., Ltd.
Nickel Industries juga terafiliasi dengan PT United Tractors Tbk (UNTR) melalui anak usahanya PT Danusa Tambang Nusantara. Danusa tercatat sebagai substantial shareholder Nickel Industries dengan kepemilikan 20,14%.
Nickel Industries akan mengakuisisi 36% saham di proyek smelter HPAL milik PT Chengsheng New Energy (CNE) di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) yang memproduksi mixed hydroxide precipitate (MHP), bahan baku baterai kendaraan listrik (EV).
CNE, yang dirancang memiliki kapasitas produksi tahunan sebesar 28.357 ton nikel, merupakan pengembangan dari proyek HPAL Excelsior Nickel Cobalt (ENC) milik Nickel Industries yang juga berlokasi di IMIP. ENC saat ini sedang memasuki tahap commissioning (uji coba operasional).
Berdasarkan laman resmi IMIP, CNE merupakan salah satu perusahaan yang berada di bawah naungan Tsingshan Holding Group Company Limited.
Baca Juga
- Afiliasi UNTR Akuisisi 17,5% Saham Smelter HPAL di IMIP Senilai Rp3,03 Triliun
- Weda Bay Nickel Pangkas 65% Tenaga Kerja Imbas Kuota Produksi Turun
- Pasokan Seret, 50% Kapasitas Smelter Nikel RI Menganggur
Adapun, JAYA memiliki hak untuk mengakuisisi 85,7% kepemilikan saham di CNE. Berdasarkan perjanjian kerangka kerja tersebut, hak akuisisi tersebut akan diambil alih oleh Nickel Industries dan mitra lokal, sebagai imbalan atas 30% kepemilikan saham pada dua izin usaha pertambangan (IUP) dalam Proyek Sampala, yaitu PT Abadi Nikel Nusantara (ANN) dan PT Erabaru Timur Lestari (ETL).
"Kami telah lama menegaskan pentingnya nilai sumber daya bijih nikel dan integrasinya dengan fasilitas pengolahan hilir, khususnya terkait persyaratan RKAB [rencana kerja dan anggaran biaya]. Melalui pertukaran saham antara Proyek Sampala dan CNE HPAL, kami berhasil menggabungkan kedua aspek tersebut," ujar Managing Director Nickel Industries Justin Werner melalui pengumuman resmi, Rabu (24/6/2026).
Nilai yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan transaksi telah dinegosiasikan dan disepakati, yakni tambang ANN dan ETL senilai US$1,342 miliar (pre-money valuation) serta CNE senilai US$671 juta (pre-money valuation).
Karena transaksi ini merupakan pertukaran saham dengan saham, Nickel Industries tidak perlu mengeluarkan dana tunai untuk memperoleh kepemilikan di CNE.
"Transaksi ini memungkinkan Nickel Industries untuk terus bertumbuh dengan disiplin keuangan tanpa memerlukan tambahan modal ekuitas dari luar," kata Werner.
Nickel Industries sebelumnya telah menandatangani perjanjian akuisisi yang mengikat dengan mitra lokal untuk mengakuisisi 60% saham di tambang ANN dan ETL dengan nilai total US$149 juta.
Nickel Industries secara efektif memonetisasi 18% kepemilikannya di ANN dan ETL (dengan biaya akuisisi tersirat sebesar US$44,7 juta) sebagai imbalan atas 36% kepemilikan efektif di CNE (dengan nilai tersirat sebesar US$241,6 juta).
Setelah transaksi selesai, kepemilikan Nickel Industries di tambang ANN dan ETL menjadi 42%. Kemudian, JAYA akan menggenggam 30% dan mitra lokal 28%. Nickel Industries tetap menjadi pemegang saham terbesar sekaligus operator tambang.
Sementara itu, proyek CNE saat ini masih dalam tahap konstruksi dan ditargetkan mulai commissioning pada pertengahan 2027. Proyek Sampala, termasuk Nickel Industries sebagai pemegang sahamnya, tidak diwajibkan memberikan kontribusi dana untuk pembangunan CNE. Seluruh biaya pembangunan, modal kerja, serta pembiayaan proyek akan menjadi tanggung jawab JAYA melalui pendanaan eksternal atau pinjaman pemegang saham.
Sebagai hasil dari investasi di Proyek Sampala dan monetisasi sebagian kepemilikan tersebut ke dalam CNE, Nickel Industries akan memperoleh unit nikel dalam bentuk MHP dengan biaya sekitar US$10.500 per ton nikel, yang jauh lebih rendah dibandingkan intensitas belanja modal proyek-proyek HPAL sejenis di Indonesia.
Secara strategis, Proyek Sampala akan menjadi pemasok eksklusif bijih nikel untuk CNE sehingga Nickel Industries tidak hanya menjadi investor ekuitas tetapi juga pemasok bahan baku utama bagi proyek HPAL CNE.
Adapun, JAYA merupakan entitas yang terafiliasi dengan William Shangjaya, Direktur Nickel Industries. Oleh karena itu, JAYA dikategorikan sebagai pihak berelasi Perseroan dan memiliki kepentingan pribadi yang material dalam transaksi yang diusulkan.
Sehubungan dengan hal tersebut, Nickel Industries akan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa guna memperoleh persetujuan pemegang saham atas transaksi yang diusulkan sesuai ketentuan bursa Australia.




