POLITIK sering kali memperlihatkan ironi yang menarik. Musuh lama bisa berubah menjadi sekutu, sementara sekutu yang tampak tak terpisahkan bisa berubah menjadi lawan paling sengit.
Filipina baru saja menyaksikan ironi semacam itu. Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr. dan Sara Duterte memenangkan Pemilu melalui koalisi yang nyaris tak terkalahkan.
Namun, hanya beberapa tahun kemudian, hubungan keduanya terjebak ke dalam konflik terbuka yang membelah elite politik nasional Filipina sampai hari ini.
Di Indonesia, pertanyaan serupa mulai muncul. Ketika Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka memenangkan Pilpres 2024, banyak pihak melihat kemenangan tersebut sebagai puncak rekonsiliasi politik antara dua kekuatan yang selama bertahun-tahun berada di kubu berseberangan, yakni Prabowo dan keluarga Joko Widodo. Koalisi terlihat kokoh, bahkan nyaris tanpa celah.
Namun, sejarah politik mengajarkan satu hal yang sangat penting. Koalisi paling rentan justru sering lahir dari kemenangan terbesar.
Saat tujuan bersama telah tercapai, kepentingan yang sebelumnya disimpan rapat mulai muncul ke permukaan.
Ambisi yang dulu ditunda mulai mencari ruang untuk tumbuh. Dari titik inilah relasi politik biasanya memasuki fase yang semakin rumit dan sulit untuk dipahami.
Baca juga: Basa-basi Safari Politik Jokowi via PSI
Karena itu, membandingkan hubungan Marcos–Sara Duterte dengan relasi Prabowo–Gibran menjadi latihan akademik yang menarik.
Perbandingan semacam ini membantu membaca satu pertanyaan yang kini mulai mengemuka di Jakarta, apakah hubungan Prabowo dan keluarga Jokowi suatu hari akan mengalami nasib yang sama seperti hubungan keluarga Marcos dan keluarga Duterte?
Ketika Dua Mesin Politik Besar BersatuDi Filipina, keluarga Marcos membawa pengaruh historis yang kuat di Luzon. Sementara keluarga Duterte merupakan kekuatan dominan di Mindanao.
Ketika Bongbong Marcos dan Sara Duterte memutuskan berpasangan pada Pemilu 2022, mereka tidak hanya membangun koalisi politik, tapi menyatukan dua mesin elektoral terbesar yang pernah dimiliki Filipina pada saat itu.
Formula yang tidak jauh berbeda muncul di Indonesia menjelang Pilpres 2024. Setelah dua kali dikalahkan Jokowi dalam pemilihan presiden, Prabowo perlahan bertransformasi dari oposisi menjadi mitra politik pemerintah.
Prosesnya dimulai sejak Jokowi mengajaknya masuk kabinet sebagai Menteri Pertahanan pada 2019.
Selama lima tahun berikutnya, hubungan keduanya semakin erat. Prabowo memperoleh akses pada lingkaran kekuasaan yang sebelumnya tertutup baginya.
Sebaliknya, Jokowi menemukan figur yang dinilai mampu menjaga stabilitas politik dan melanjutkan sejumlah agenda strategis setelah dirinya meninggalkan Istana.
Puncaknya terjadi ketika Gibran Rakabuming Raka maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo. Di titik ini, koalisi Hambalang dan Solo resmi terbentuk.
Secara elektoral, kombinasi tersebut sangat efektif. Prabowo membawa pengalaman, jejaring partai, dan popularitas nasional. Gibran membawa efek elektoral Jokowi yang masih sangat kuat. Hasilnya adalah kemenangan satu putaran yang relatif meyakinkan.
Jika dilihat secara komparatif, terdapat satu kesamaan mendasar antara UniTeam di Filipina dan koalisi Prabowo–Gibran di Indonesia. Keduanya dibangun bukan oleh kedekatan ideologis, tapi kebutuhan strategis.





