Pakai masker, kualitas udara Jakarta terburuk kedua di dunia

antaranews.com
15 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Kualitas udara di Jakarta pada Kamis pagi masuk kategori tidak sehat dan menduduki peringkat kedua sebagai kota dengan udara terburuk di dunia.

Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 05.50 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di angka 174 atau masuk dalam kategori tidak sehat dengan polusi udara PM2.5 dan nilai konsentrasi 80 mikrogram per meter kubik.

Angka itu memiliki penjelasan tingkat kualitas udaranya tidak sehat bagi kelompok sensitif karena dapat merugikan manusia atau pun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan tumbuhan atau pun nilai estetika.

Situs tersebut juga merekomendasikan terkait kondisi udara di Jakarta, yaitu bagi masyarakat sebaiknya menghindari aktivitas di luar ruangan. Jika berada di luar ruangan menggunakan masker, kemudian menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor.

Kategori baik yakni tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan atau pun nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 0-50.

Baca juga: Kepulauan Seribu uji emisi puluhan mobil-motor cegah pencemaran udara

Kategori sedang yakni kualitas udaranya yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 51-100.

Kategori sangat tidak sehat dengan rentang PM2,5 sebesar 200-299 atau kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. Terakhir, berbahaya (300-500) atau secara umum kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi.

Kota dengan kualitas udara terburuk urutan pertama yaitu Kinshasa, Democratic Repiblic of the Congo di angka 204, urutan ketiga Dubai United Arab Emirates di angka 151, urutan keempat Kolkata, India di angka 135, dan urutan kelima Doha, Qatar di angka 132.

Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta meluncurkan platform pemantau kualitas udara terintegrasi yang didukung 31 tempat Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) tersebar di wilayah kota metropolitan tersebut.

Dari SPKU tersebut, data yang diperoleh ditampilkan melalui platform pemantau kualitas udara. Hal ini dibuat sebagai penyempurnaan dari yang sudah ada sebelumnya dan sesuai dengan standar yang berlaku secara nasional.

Laman ini juga menampilkan data dari 31 SPKU di Jakarta yang mengintegrasikan data dari SPKU milik DLH Jakarta, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), World Resources Institute (WRI) Indonesia dan Vital Strategies.



Baca juga: Masyarakat didorong wujudkan udara bersih di Jakarta

Baca juga: Legislator desak Pemprov DKI audit seluruh jaringan kabel udara


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gejala yang Berujung pada Kanker Usus Besar
• 3 jam lalubeautynesia.id
thumb
5 Besar THE Sustainability Impact Rankings 2026, Kemisikinan Isu Riset Kolaborasi USM-Indonesia
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Sempat Dirumorkan ke Persib, Eks Rekan Ronaldo di Real Madrid Ini Resmi Perpanjang Kontrak dengan Klubnya
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Makassar Siapkan Penetapan Wali Hukum Anak Panti Asuhan
• 6 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Bapanas: Penyaluran CBP untuk stabilitas pasokan capai 1,02 juta ton
• 9 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.