Aroma rempah coto makassar, sop konro, sop kepala ikan, dan aneka kuliner lainnya menyeruak menjelang malam di halaman Benteng Rotterdam, Makassar, Selasa (23/6/2026). Malam itu, bangunan bersejarah bekas benteng kerajaan sekaligus kediaman raja-raja Gowa ini berubah menjadi ruang makan terbuka dan panggung pertunjukan.
Di halaman yang berada di sisi kiri kompleks benteng, meja panjang dan kursi berwarna putih berjejer rapi. Tak jauh dari deretan meja makan, terdapat tenda-tenda tempat makanan disiapkan. Di tenda coto, tampak kuali gerabah berwarna cokelat berisi kuah yang mengepul. Ada pula potongan daging yang disiapkan di wadah lain.
Juru masak tak henti mengatur potongan daging dalam mangkuk kecil dan menyiramnya dengan kuah. Sop konro juga disiapkan di sini. Serupa coto, potongan tulang iga sapi ditata dalam mangkuk, lalu disiram kuah berempah. Pramusaji bolak-balik membawa nampan berisi mangkuk-mangkuk coto dan konro ke meja makan.
Tak jauh dari tenda coto, kesibukan juga tampak di area penyajian hidangan laut. Wadah pembakaran besar berisi aneka ikan, cumi, dan udang mengeluarkan asap yang mengepul. Sungguh, aromanya menggugah selera.
Puluhan tamu penting yang merupakan delegasi dari 28 negara duduk menikmati aneka hidangan. Selain coto makassar dan sop konro sebagai hidangan utama, berbagai makanan khas dari sejumlah kabupaten di Sulawesi Selatan turut disajikan.
Mereka tinggal memilih hidangan yang ingin dinikmati. Begitu penasaran dengan aneka sajian yang tersedia, banyak tamu mencicipi hampir seluruh makanan, meski hanya sesendok atau dua sendok.
Makan malam pada Selasa malam itu merupakan bagian dari Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS). Ini merupakan hajatan Kementerian Luar Negeri yang tahun ini menunjuk Makassar sebagai tuan rumah. Tahun 2026 menjadi tahun keenam penyelenggaraan IGS. Sebelumnya, kegiatan serupa telah digelar di sejumlah kota.
“Ini kesempatan mempromosikan Makassar. Kami berharap pertemuan ini membuka ruang yang sangat baik bukan hanya untuk mengenal Makassar dan potensinya, tetapi juga peran strategis Makassar sebagai pintu gerbang kawasan timur Indonesia. Harapannya bisa memberi dampak ekonomi tidak hanya bagi kota ini, tetapi juga daerah lain,” kata Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin.
Tak sekadar kuliner, para delegasi sebelumnya juga berkesempatan mengunjungi Museum La Galigo di Benteng Rotterdam. Kegiatan dilanjutkan dengan menyaksikan matahari terbenam dari salah satu sisi benteng.
Para tamu tidak hanya menikmati suasana senja, tetapi juga dibuat takjub oleh proses pembuatan lukisan tanah liat yang diperagakan maestro seni lukis tanah liat, Zainal Beta. Mereka juga menyaksikan pembuatan songkok guru atau songkok recca, penutup kepala khas laki-laki Bugis-Makassar.
Puncak acara malam itu ditutup dengan pementasan drama I La Galigo, kisah epik mitologis masyarakat Bugis yang dikenal sebagai salah satu karya sastra terpanjang di dunia.
Hajatan IGS 2026: Diplomatic Tour Goes to Makassar memang menjadikan kuliner, tradisi, dan budaya sebagai jembatan diplomasi. Bukan tanpa alasan, sebab makanan merupakan bahasa universal. Dalam ajang ini, orang-orang dari berbagai negara dan latar belakang budaya duduk bersama di satu meja, membincangkan banyak hal.
“IGS adalah salah satu alat untuk menjembatani hubungan antara pihak luar dengan daerah. Salah satu powerful tools dalam soft power diplomacy. Gastro menjadi jembatan untuk promosi budaya, pariwisata, perdagangan, investasi, hingga pendidikan,” kata Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri, Heru Hartanto Subolo.
Pemilihan Makassar sebagai tuan rumah juga bukan tanpa alasan. Heru mengatakan, selama berabad-abad Makassar telah menghubungkan manusia, budaya, dan perdagangan yang melintasi kepulauan Nusantara dan kawasan sekitarnya.
“Selama bertahun-tahun pula, gastrodiplomasi telah berkembang menjadi lebih dari sekadar ajang kuliner. Ini menjadi platform yang menghubungkan pemerintah daerah, komunitas, industri kreatif, dan mitra internasional. Melalui inisiatif ini, kami berusaha memperkenalkan kekayaan Indonesia. Wilayah yang kami pilih tahun ini merupakan salah satu kawasan yang sedang berkembang di Indonesia timur,” katanya.
Pertemuan ini memang tidak sekadar makan bersama. Dalam forum business-to-business, Wali Kota Makassar menawarkan sejumlah potensi kerja sama. Ekspor hasil laut, ekowisata, serta wisata olahraga berbasis pengelolaan berkelanjutan di sejumlah pulau di kawasan Spermonde menjadi sektor yang menarik perhatian sejumlah negara.
“Saat ini sudah ada delapan negara yang menjadwalkan pertemuan lanjutan untuk mendetailkan kebutuhan masing-masing pihak dan tindak lanjut yang bisa segera dilakukan. Harapannya, forum bisnis ini menghasilkan kesepakatan yang benar-benar dapat diwujudkan,” kata Munafri.
Dalam pertemuan ini, 28 negara mengirimkan delegasi, yakni Australia, Bosnia dan Herzegovina, Brasil, Bulgaria, Kamboja, Kosta Rika, Kuba, Etiopia, Fiji, Finlandia, Kepulauan Solomon, Jepang, Laos, Malaysia, Meksiko, Belanda, Nigeria, Pakistan, Peru, Filipina, Polandia, Rwanda, Serbia, Tunisia, Ukraina, Uruguay, Venezuela, dan Zimbabwe.
Sementara itu, sejumlah negara telah terlibat dalam penjajakan kerja sama. Negara-negara tersebut antara lain Filipina, Belanda, Meksiko, Venezuela, Ukraina, Etiopia, Tunisia, Kuba, Laos, Fiji, Kamboja, Nigeria, dan Kosta Rika.
Adapun delapan negara telah menyatakan kesediaan untuk melakukan pertemuan lanjutan dengan pemerintah dan pelaku usaha di Makassar. Delapan negara itu adalah Kosta Rika, Fiji, Polandia, Malaysia, Kamboja, Ukraina, Tunisia, dan Belanda. Mereka telah meminta pertemuan yang lebih intensif untuk membahas peluang kerja sama, termasuk kemungkinan menjalin hubungan sister city.
Namun, Makassar tidak egois. Dalam pertemuan ini, perwakilan kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan juga diundang hadir. Mereka turut menawarkan berbagai potensi yang dapat ditindaklanjuti melalui kerja sama.
“Investasi boleh jadi masuk ke daerah lain, tetapi Makassar tetap akan mendapatkan dampaknya karena kota ini merupakan hub, bukan hanya bagi daerah-daerah di Sulawesi Selatan, tetapi juga Indonesia timur,” tambah Munafri.
Pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Makassar yang turut hadir dalam forum bisnis tersebut menilai IGS menjadi ajang penting untuk memperkuat sekaligus memperluas jejaring usaha.
“Ini juga membuka wawasan pengusaha daerah untuk melihat potensi yang bisa dikembangkan, termasuk menjajaki pasar yang lebih luas. Salah satu komoditas yang dilirik adalah kopi,” kata pengurus Kadin Makassar, Mutia Haidir.
Pertemuan gastrodiplomasi ini berakhir pada Rabu sore. Namun, harapannya tidak berhenti begitu saja. Sejumlah agenda dan rencana kerja sama akan ditindaklanjuti oleh pemerintah maupun pelaku usaha.
Adapun Kementerian Luar Negeri bersiap mengawal berbagai tindak lanjut yang telah direncanakan.
“Kami akan terus mengawal proses ini. Pertemuan ini membuka peluang luar biasa bagi mitra asing untuk melihat potensi yang kita miliki. Intinya, diplomasi tidak berhenti pada pertemuan, tetapi pada dampaknya bagi masyarakat,” kata Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri, Heru Hartanto Subolo.





