Bisnis.com, PALEMBANG — Berawal dari pengalaman sebagai anak petani kelapa di Banyuasin, Sumatra Selatan, Alfius Dakhi dan Mustopa Patapa membangun Kulaku Indonesia, perusahaan pengolah kelapa yang kini mengekspor produknya ke Malaysia, Singapura, Korea Selatan, hingga sejumlah negara di Eropa.
Didirikan pada 2020, tepat sebelum pandemi Covid-19 melanda Indonesia, Kulaku Indonesia tumbuh menjadi salah satu pelaku industri pengolahan kelapa yang menembus pasar internasional. Namun bagi para pendirinya, keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur dari ekspor maupun pertumbuhan penjualan.
Meski saat ini sekitar 98% pendapatannya berasal dari bisnis B2B dan white label, Kulaku Indonesia dibangun dengan tujuan yang lebih luas, yakni meningkatkan kesejahteraan petani kelapa melalui berbagai program pemberdayaan.
Co-Founder Kulaku Indonesia, Alfius Dakhi, mengatakan bahwa pohon kelapa bagi banyak orang mungkin hanya tanaman biasa. Namun, baginya dan Founder Kulaku Indonesia, Mustopa Patapa, pohon kelapa merupakan bagian dari perjalanan hidup keluarga mereka selama puluhan tahun.
Masa kecil mereka dihabiskan di kebun, menyaksikan bagaimana ayah, ibu, kakek, dan nenek menggantungkan kehidupan dari hasil panen tanaman yang dikenal sebagai pohon kehidupan tersebut.
“Jadi sudah tahu pedihnya menjadi petani kelapa, kondisi ekonominya, kesibukannya. Itu yang jadi tekad kami untuk tetap menggeluti kelapa, tetapi dengan versi yang lebih baik,” ujarnya saat dibincangi Bisnis.
Baca Juga
- Ekspor Lobster Sumbar Turun Drastis, Budidaya Jadi Harapan Baru
- Pengamat: Kebijakan Tata Kelola Ekspor SDA Optimalkan Serapan DHE ke Pasar Keuangan Tanah Air
Berangkat dari pengalaman tersebut, Kulaku Indonesia tidak hanya berfokus pada produksi dan pemasaran produk, tetapi juga memosisikan diri sebagai perusahaan social enterprise.
Tujuannya bukan sekadar menghasilkan keuntungan, melainkan meningkatkan kesejahteraan petani melalui model bisnis yang melibatkan mereka tidak hanya sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga dalam proses pengolahan hingga pengembangan produk.
Dengan cara itu, mereka memperoleh pemahaman bahwa kelapa tidak harus dijual dalam bentuk bahan mentah yang bernilai ekonomi lebih rendah.
Gagasan tersebut lahir dari kenyataan bahwa Indonesia memiliki sekitar 3,2 juta hektare perkebunan kelapa, tetapi sebagian besar hasil panennya masih dipasarkan sebagai bahan baku.
Padahal, menurut Alfius, kelapa memiliki lebih dari seribu potensi produk turunan yang dapat memberikan nilai tambah lebih tinggi sekaligus meningkatkan pendapatan petani.
“Makanya bukan hanya pure membuat produk, tetapi juga melibatkan para petani kelapa di seluruh unit bisnis kami. Misalnya seperti rantai pasoknya kita beli dari petani langsung, kemudian untuk dipabrik kita libatkan petani dengan memberikan pelatihan lalu mereka yang mengolah produknya, dan terakhir kita juga buat program beasiswa khusus untuk anak petani kelapa,” jelas Alfius.
Berdasarkan temuan perusahaan di lapangan, produktivitas kebun kelapa rakyat di Indonesia rata-rata baru mencapai sekitar 30% dari potensi idealnya.
Karena itu, perusahaan melakukan intervensi langsung di tingkat budidaya melalui pelatihan Good Agricultural Practices (GAP), bantuan pupuk, perbaikan tata kelola kebun, hingga penggunaan bibit unggul.
Program yang dijalankan bersama sejumlah mitra, seperti Dompet Dhuafa dan Bank Indonesia, mulai menunjukkan hasil positif.
Produktivitas kebun petani binaan meningkat dari sekitar 30% menjadi 50% hingga 70% dari kapasitas produksi optimal. Sementara itu, pendapatan petani tercatat naik rata-rata 15% hingga 20% per tahun.
Kini, inisiatif yang berawal dari Banyuasin tersebut telah menjangkau berbagai daerah. Kulaku Indonesia menjalankan program pendampingan petani di Lampung, Papua, dan Sulawesi melalui beragam skema kemitraan dengan perusahaan maupun lembaga sosial.
"Konsep Kulaku adalah intervensi 360 derajat, yakni pendampingan menyeluruh dari hulu hingga hilir," katanya.
Komitmen sosial perusahaan juga diwujudkan melalui program Beasiswa Anak Petani Kelapa. Program tersebut telah membantu 13 penerima yang kini menempuh pendidikan di berbagai jenjang, mulai dari SMA hingga perguruan tinggi.
Bagi para pendiri Kulaku, program itu memiliki makna personal. Mereka pernah merasakan bagaimana keterbatasan ekonomi hampir memaksa mereka menghentikan pendidikan.
"Ada banyak anak petani yang sebenarnya punya kemampuan, tetapi tidak punya akses. Itu yang ingin kami bantu," ujar Alfius.
Selain memproduksi berbagai olahan kelapa, seperti virgin coconut oil (VCO), gula kelapa, dan nata de coco, Kulaku juga memiliki unit usaha Coconut Service Management yang berfokus pada pendampingan petani serta pengembangan perkebunan kelapa.
Layanan tersebut ditujukan bagi perusahaan maupun kelompok masyarakat yang ingin mengembangkan kebun kelapa, tetapi belum memiliki pengetahuan teknis memadai, mulai dari pembibitan, penanaman, hingga pengelolaan kebun secara berkelanjutan.
"Kadang ada perusahaan yang ingin membangun kebun kelapa, tetapi belum tahu bagaimana menyiapkan bibit, menanam, sampai mengelola kebunnya. Di situ kami masuk memberikan pendampingan," katanya.
Tidak hanya itu, Kulaku juga mengembangkan lini usaha jasa melalui penyediaan alat berat berupa ekskavator yang digunakan untuk membuka lahan maupun memperbaiki sistem drainase di kawasan perkebunan kelapa.
Bagi Alfius, keberhasilan Kulaku tidak hanya diukur dari volume ekspor atau pertumbuhan bisnis. Yang lebih penting, kata dia, adalah semakin banyak petani dan anak petani yang memiliki peluang hidup lebih baik dibanding generasi sebelumnya.





