Kunang-Kunang Mendadak Hilang, Ahli IPB Ungkap Ada Tanda Petaka

cnbcindonesia.com
5 jam lalu
Cover Berita
Foto: (Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kunang-kunang makin langka dan jarang bisa ditemui. Fenomena ini juga dirasakan oleh sejumlah warganet yang mengeluhkan sulit menemukan serangga bercahaya di alam liar.

Ternyata fenomena ini terkait dengan kualitas lingkungan. Dosen dan peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Kesumawati Hadi mengatakan kunang-kunang menjadi cerminan kesehatan suatu ekosistem.

"Kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan atau ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Ketika kualitas lingkungan memburuk, populasinya akan cepat menyusut bahkan menghilang," jelasnya, dikutip dari laman resmi IPB University, Kamis (25/6/2026).


Fenomena berkurangnya populasi kunang-kunang juga terjadi secara global. Data International Union for Conservation of Nature (IUCN) mencatat 11-20% spesies kunang-kunang masuk dalam kondisi terancam.

Bahkan sejumlah spesies di kawasan mangrove Indonesia, Malaysia dan Thailand juga masuk dalam kategori rentan.

Pilihan Redaksi
  • Google Sudah Ditinggalkan, Ramai-Ramai Pilih Pindah ke Penggantinya
  • Ilmuwan Jerman Bongkar Rahasia Praktik Dukun RI
  • Setelah 1.200 Tahun Akhirnya Mati, Inggris Berduka

Kerusakan habitat disebutnya jadi faktor utama penyebab menurunnya populasi kunang-kunang. Alih fungsi lahan hijau, rawa dan persawahan menjadi pemukiman dan industri membuat tempat hidup hewan itu hilang.

Faktor lainnya adalah polusi cahaya lampu LED yang terlalu terang mengganggu proses perkawinan kunang-kunang. Cahaya buatan menyulitkan kunang-kunang jantan mendeteksi sinyal cahaya dari betina dan membuat gagal bereproduksi.

Penggunaan insektisida kimia, perubahan iklim yang membuat kekeringan, semenisasi saluran irigasi dan urbanisasi juga menjadi faktor penyebab kunang-kunang jarang terlihat.

Kunang-kunang masih bisa ditemukan di tempat yang lembap, minim polusi cahaya dan bebas pencemaran. Misalnya kawasan mangrove, tepi sungai yang masih alami, rawa, persawahan tradisional, perkebunan organik, hingga lantai hutan tropis yang lembap.

Dengan fenomena ini, generasi mendatang berisiko tidak bisa melihat langsung kunang-kunang dan mengenalnya hanya dari buku, museum atau tayangan saja. Jadi masyarakat perlu melakukan beberapa langkah sederhana untuk bisa menjaga lingkungan.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan tidak menutup seluruh halaman dengan semen. Selain itu juga dapat mengurangi penggunaan lampu luar ruangan yang terlalu terang, memanfaatkan pupuk organis,dan menjaga kebersihan sungai serta saluran air.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Tantangan RI Perkuat Ekonomi Digital Lewat Industri Game, e-Sport & Sp

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Swiss Permalukan Kanada 2-1, Kedua Tim Sama-sama Lolos 32 Besar Piala Dunia 2026
• 10 jam laluharianfajar
thumb
12 Tahun Berlalu, Kasus Ade Sara Masih Membekas: Diculik Mantan Pacar, Disiksa 26 Jam hingga Tewas di Dalam Mobil
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Terendus Bea Cukai China, Kargo dari Amerika Berisi Ganja 10 Kg Gagal Tiba di Bali
• 21 jam laludisway.id
thumb
Pramono Sebut Jakarta Bakal Punya LPDP Sendiri Tahun Depan, Buka 75 Beasiswa Sekolah ke Luar Negeri
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Kinerja 2025 Solid: Pertamina Terus Jaga Ketahanan Energi Nasional
• 20 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.