Ruang Ingatan 2026 Ajak Warga Menelusuri Jejak Ujung Pandang dan Identitas Makassar di Benteng Rotterdam

terkini.id
5 jam lalu
Cover Berita

Terkini, Makassar — Perubahan nama Kota Makassar menjadi Ujung Pandang pada periode 1971 hingga 1999 menjadi salah satu jejak sejarah yang masih menyisakan ruang refleksi bagi masyarakat.

Berangkat dari pengalaman tersebut, perhelatan Ruang Ingatan 2026: Jejak Ujung Pandang, Wajah Makassar akan digelar pada 26–28 Juni 2026 di Benteng Rotterdam, Makassar.

Festival ini hadir sebagai ruang partisipatif yang mengajak masyarakat membaca kembali perjalanan sejarah kota melalui pengalaman imersif, seni, arsip, budaya, hingga memori kolektif warga.

Kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan pameran sejarah, tetapi juga membuka ruang dialog mengenai identitas kota dan hubungan masyarakat dengan ruang urban yang mereka huni.

Kurator Ruang Ingatan 2026, Dr. Sn. Irfan Palippui, S.S., M.Hum., mengatakan sejarah sebuah kota tidak hanya hidup dalam dokumen resmi, tetapi juga tersimpan dalam ingatan masyarakat yang mengalaminya secara langsung.

“Sebuah kota tidak hanya hidup di dalam arsip resmi. Ia hidup di dalam orang-orang yang mengingatnya. Pengunjung tidak diposisikan sebagai penonton pasif, melainkan sebagai aktor sejarah yang menavigasi ruang, mengurai tafsirnya sendiri, dan menjawab pertanyaan mendasar: wajah siapa yang sebenarnya kita akui sebagai wajah kota ini?” ujarnya kepada Makassar Terkini, Kamis 25 Juni 2026.

Ruang Ingatan 2026 dibangun melalui empat pilar utama, yakni Ruang Pengalaman, Ruang Pertunjukan, Ruang Komunitas, dan Ruang Rasa.

Pada Ruang Pengalaman, pengunjung diajak melewati tiga fase perjalanan emosional, yaitu Mengingat, Menyembunyikan, dan Mengungkap.

Setiap fase menghadirkan pengalaman interaktif yang merefleksikan perjalanan memori warga terhadap identitas kota, mulai dari kenangan masa kecil hingga pengalaman menghadapi perubahan sosial dan politik.

Penyelenggara memandang bahwa pengalaman hidup sehari-hari merupakan bagian penting dari arsip sejarah.

Ingatan yang diwariskan melalui keluarga, percakapan, benda-benda sederhana, hingga tradisi lisan dinilai memiliki nilai yang sama pentingnya dengan dokumen resmi dalam memahami perjalanan sebuah kota.

Salah satu instalasi utama festival adalah Triangle LED Screen setinggi sekitar enam hingga tujuh meter yang ditempatkan di kawasan Benteng Rotterdam.

Instalasi tersebut dirancang menyerupai televisi tabung era 1980-an dan berfungsi sebagai pusat visual sekaligus live event hub.

Creative Director Ruang Ingatan 2026, Ahmad Wildan Noumeiru, menjelaskan layar tersebut akan menampilkan ekspresi dan aktivitas pengunjung secara langsung sehingga masyarakat menjadi bagian dari narasi utama festival.

“Ruang Ingatan dirancang melalui jahitan narasi yang berlapis dengan satu napas utama: semua berawal dari warga, dan pada akhirnya dikembalikan kepada warga,” kata Wildan.

Festival ini juga menghadirkan para seniman dan budayawan sebagai Aktivator Memori, bukan sekadar pengisi hiburan. Mereka berperan menghidupkan kembali memori kolektif melalui musik, teater, sastra, bahasa, hingga pertunjukan budaya.

Sejumlah tokoh yang dijadwalkan hadir antara lain musisi Ridwan Sau, penyiar radio senior Willy “Opa” Ferial, Zaenal Beta, Ram Prapanca, Luna Vidya, Aco White, Maskur Daeng Ngesa, Hasrul Hendrawan, Rombongan Sandiwara Petta Puang, serta komunitas musisi jalanan Makassar (KPJ).

Selain pertunjukan seni, pengunjung dapat menikmati Ruang Rasa yang menghadirkan kuliner bernuansa nostalgia seperti Putu Bambu dan Pisang Epe’.

Pada malam hari, tersedia program Night Heritage Ride, yakni tur keliling Benteng Rotterdam menggunakan becak atau sepeda ontel yang dipandu narasi audio mengenai sejarah kota Makassar.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, panitia akan memberikan Anugerah Penjaga Ingatan kepada sejumlah tokoh yang dinilai berkontribusi dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya serta memori kolektif masyarakat.

Menutup penyelenggaraan festival, Irfan Palippui menegaskan bahwa Ruang Ingatan merupakan ruang perjumpaan berbagai bentuk memori masyarakat.

“Ruang Peristiwa ini adalah tempat di mana arsip, tubuh, suara, gambar, dan percakapan saling bertemu. Tempat sebuah kota diberi kesempatan untuk mengingat dirinya sendiri,” tutupnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Industri Kemasan Plastik Sambut Bea Masuk LPG 0%, Harga Jual Bisa Turun
• 15 jam lalukatadata.co.id
thumb
Pemerintah Tegaskan Pusat Finansial Internasional RI Tak Akan jadi Sarang Cuci Uang
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Polisi Selidiki Mayat Wanita dalam Mobil Pelat Merah di Bandara Juanda
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Menhub sebut Stasiun KRL JIS perkuat integrasi transportasi publik
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
Tiba-Tiba Ngeblank Pas Naik Gunung Bisa Jadi Tanda Awal Hipotermia
• 8 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.