London: Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan secara bertahap setelah penyedia data maritim Kpler mencatat 31 penyeberangan kapal komersial dan kapal terkait energi dalam sehari.
Dalam unggahan di platform X, Rabu, 24 Juni 2026, Kpler menyebut sebagian besar kapal bergerak dari barat ke timur, sementara jalur pelayaran Iran, Oman, dan jalur yang ditetapkan Organisasi Maritim Internasional (IMO) tetap digunakan.
Kpler juga melaporkan semakin banyak kapal tanker gas alam cair (LNG) kosong yang melintasi Selat Hormuz untuk mengambil muatan, menandakan upaya negara-negara Teluk meningkatkan kembali ekspor energi setelah tercapainya nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran.
Mengutip Anadolu, sebuah kapal LNG asal Tiongkok dilaporkan baru saja melintasi jalur tersebut. Selain itu, sedikitnya delapan kapal tanker yang terkait dengan Qatar memasuki Teluk Persia dalam sepekan terakhir.
Peningkatan aktivitas itu terjadi ketika Qatar dan Abu Dhabi National Oil Company berupaya mempercepat ekspor energi setelah kesepakatan sementara AS-Iran membantu meredakan kekhawatiran keamanan di salah satu jalur energi terpenting dunia.
Pemulihan Masih Berlangsung Hati-hati Data tersebut menunjukkan Selat Hormuz tetap beroperasi di bawah implementasi MoU AS-Iran sehingga arus pelayaran perlahan kembali normal setelah berbulan-bulan terganggu akibat konflik.
Pemulihan ini dinilai sangat penting bagi pasar LNG karena negara-negara Teluk mengandalkan Selat Hormuz untuk mengirim pasokan ke Asia dan Eropa.
Kedatangan lebih banyak kapal tanker kosong dipandang sebagai indikasi bahwa volume ekspor LNG diperkirakan meningkat dalam beberapa hari hingga pekan mendatang.
Meski demikian, Kpler mengingatkan proses normalisasi masih berlangsung secara hati-hati.
Perusahaan itu mencatat masih adanya aktivitas dark route, yakni kapal yang berlayar dengan sinyal pelacakan terbatas atau dimatikan, serta ketidakpastian mengenai kondisi setelah masa berlaku MoU selama 60 hari berakhir.
Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman merupakan jalur utama ekspor minyak mentah, bahan bakar olahan, dan LNG dari negara-negara Teluk.
Sejak tercapainya kesepakatan AS-Iran, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz menjadi salah satu indikator utama yang terus dipantau pelaku pasar energi global untuk menilai apakah distribusi energi dari kawasan Teluk dapat kembali normal tanpa gangguan keamanan baru.
Analis menilai normalisasi penuh akan bergantung pada adanya jaminan keamanan pelayaran yang lebih jelas, penurunan premi risiko perang, serta kepatuhan seluruh pihak terhadap kesepakatan sementara tersebut.




