Keluarga YTR (29), perempuan asal Kabupaten Bandung yang menjadi korban penyekapan dan penganiayaan oleh pacarnya Taufik Hidayat (30) hingga mengalami luka berat, mengaku sebenarnya sudah menaruh curiga sejak awal korban tidak lagi pulang ke rumah.
Namun, kecurigaan itu tak langsung berujung pada laporan ke polisi karena korban masih sesekali menghubungi keluarga dan mengaku sedang bekerja di luar kota.
Hal itu terungkap dalam perbincangan antara Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan ayah korban dan kakak iparnya. Dalam percakapan tersebut, keluarga mengungkapkan korban berpamitan untuk pergi menonton konser bersama dengan Taufik.
YTR sempat membawa Taufik ke rumah dan dikenalkan sebagai teman. Tak lama setelah itu, YTR sulit dihubungi dan nyaris hilang kontak selama lebih dari 2 tahun.
Keluarga sempat mengira YTR tetap bekerja seperti biasa, apalagi korban masih sempat mengirim kabar melalui WhatsApp dan mengaku pindah kerja ke Majalengka.
“Katanya mau dipindah kerja ke Majalengka, butuh perbantuan cepat di sana sekitar dua atau tiga bulan. Jadi kita pikir memang bekerja,” ujar kakak ipar korban dikutip dari kanal YouTube KDM.
Ayah korban mengatakan putrinya memang sudah lama bekerja di Bandung dan tinggal di kos dekat tempat kerjanya di kawasan Pasteur, tidak tinggal di rumah orang tua. Karena itu, saat korban tidak pulang selama beberapa waktu, keluarga awalnya menduga YTR hanya sibuk bekerja dan akan kembali seperti biasa.
Namun, kecurigaan mulai muncul ketika korban tak kunjung pulang dan keberadaannya tidak jelas. Suami kakak korban kemudian mendatangi kos YTR untuk memastikan kondisi adik iparnya. Setibanya di sana, korban ternyata sudah tidak berada di tempat tersebut.
“Ke kosannya, ada di kosannya enggak ada, sudah tidak ada,” ujar kakak ipar korban saat menceritakan upaya keluarga mencari YTR.
Meski begitu, keluarga belum juga melapor ke polisi. Pasalnya, korban masih bisa dihubungi dan terus memberikan alasan yang berbeda-beda.
Selain mengaku bekerja di Majalengka, YTR juga sempat mengatakan sudah bekerja di Jakarta.
Keluarga kemudian mengecek langsung ke perusahaan tempat korban bekerja di Bandung. Dari situ terungkap bahwa YTR ternyata sudah lama mengundurkan diri. Yang lebih mengejutkan, surat pengunduran diri korban disebut diantarkan oleh pelaku.
“Ternyata sudah tidak kerja, resign empat bulan yang lalu. Yang nganter surat resign-nya itu si cowok,” ungkap kakak ipar korban.
Setelah mengetahui korban tak lagi bekerja, keluarga mulai yakin ada kejanggalan. Kakak ipar korban mengaku sejak awal sudah memiliki firasat buruk terhadap pelaku. Bahkan, ia sempat menyampaikan kekhawatirannya kepada suami dan ibunda korban.
“Saya sudah curiga ini kayaknya laki-laki enggak benar. Saya sampai bilang ke mama, mungkin enggak ya kalau (YTR) itu disekap,” tuturnya.
Meski demikian, keluarga mengaku tetap tidak melapor ke polisi. Salah satu alasannya karena korban sempat mengancam tidak akan pulang jika keluarga nekat membuat laporan. Ancaman itu membuat keluarga bimbang, apalagi mereka masih berharap korban benar-benar bekerja dan dalam keadaan baik.
“Kalau kamu sampai lapor polisi saya enggak akan pulang,” kata kakak ipar korban menirukan ucapan korban kala itu.
Dedi Ingatkan Kasus Ini Jadi PelajaranDedi Mulyadi menilai kisah keluarga YTR harus menjadi pelajaran penting bagi para orang tua. Ia menegaskan bahwa ketika anak perempuan tidak pulang dalam waktu lama dan keberadaannya tidak jelas, keluarga seharusnya segera bertindak dan melapor ke polisi agar keberadaannya dapat segera terlacak.
Menurut Dedi, peristiwa yang dialami YTR menjadi gambaran bahwa orang tua tidak boleh lengah ketika anaknya pergi bersama laki-laki yang belum dikenal baik oleh keluarga. Ia menekankan pentingnya pengawasan keluarga agar kejadian serupa tidak terulang.
Kini, setelah korban ditemukan dalam kondisi memprihatinkan dan pelaku telah ditangkap polisi, keluarga berharap proses hukum berjalan maksimal. Di sisi lain, mereka mengaku dihantui penyesalan karena tidak lebih cepat mengambil langkah saat YTR mulai sulit dihubungi dan keberadaannya tak kunjung jelas.





