Jakarta, VIVA – Kasus dugaan penganiayaan dan penyekapan yang menimpa YTR (29) oleh kekasihnya, Taufik Hidayat (30), tengah menjadi perhatian publik. Peristiwa yang terungkap pada Juni 2026 itu memunculkan kembali ingatan masyarakat terhadap sejumlah kasus kekerasan dalam hubungan asmara yang pernah menghebohkan Indonesia.
Dalam kasus terbaru, YTR ditemukan dalam kondisi memprihatinkan setelah keluarganya menerima pesan misterius yang menyebut korban sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Saat ditemukan, korban mengalami luka berat di bagian kepala, wajah, tangan, dan kaki, serta trauma psikis yang mendalam.
Kasus tersebut membuat banyak orang teringat pada tragedi pembunuhan Ade Sara Angelina Suroto pada 2014. Saat itu, kasus tersebut menjadi sorotan nasional karena melibatkan mantan kekasih korban dan pacar barunya.
1. Jasad Ade Sara Ditemukan di Tol JORR
Kasus Ade Sara pertama kali terungkap pada pagi hari 5 Maret 2014. Jasad seorang perempuan muda ditemukan di pinggir Jalan Tol JORR arah Cakung menuju Cikunir, Bekasi.
Korban kemudian berhasil diidentifikasi sebagai Ade Sara Angelina Suroto, mahasiswi berusia 19 tahun. Identitasnya diketahui melalui e-KTP dan pencocokan sidik jari yang dilakukan aparat kepolisian.
Saat ditemukan, kondisi korban sangat mengenaskan. Wajahnya mengalami pembengkakan hingga sulit dikenali, sementara tubuhnya menunjukkan sejumlah bekas lebam.
"Yang ada bekas lebam di paha dan tangannya. Wajah dalam keadaan bengkak membiru dan tidak bisa dikenali," ujar AKP Siswo saat itu.
Penemuan jenazah Ade Sara langsung menjadi perhatian luas masyarakat karena misteri kematiannya yang sempat belum terungkap.
2. Korban Sempat Mengalami Teror dari Mantan Pacar
Setelah penyelidikan berjalan, terungkap bahwa Ade Sara diduga telah mengalami tekanan dan teror dari mantan kekasihnya, Ahmad Imam Al Hafitd.
Menurut keterangan ibunda korban, Elisabeth Diana, Hafitd merasa sakit hati setelah hubungan mereka berakhir. Ade Sara disebut meminta agar mantan kekasihnya tidak lagi menghubungi dirinya.
"Belakangan dia suka komen tidak baik ke Facebook anak saya," ungkap Elisabeth.
Rasa sakit hati tersebut diduga berkembang menjadi dendam yang kemudian berujung pada aksi kriminal yang merenggut nyawa korban.





