Daya Saing Indonesia Merosot Tantangan Struktural dan Tekanan Rupiah Menghantui

medcom.id
5 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Peringkat daya saing Indonesia dalam IMD World Competitiveness Ranking 2026 turun cukup tajam ke posisi 48 dari 70 negara, merosot dari peringkat 40 pada tahun sebelumnya. 
Penurunan tersebut dinilai mencerminkan semakin besarnya tantangan struktural yang dihadapi Indonesia di tengah persaingan regional yang semakin ketat.
 
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa mengatakan, meskipun kinerja ekonomi Indonesia masih relatif kuat dan menempati peringkat 24 dunia, sejumlah indikator lain menunjukkan perlunya perbaikan mendasar untuk menjaga daya tarik investasi jangka panjang.
  Baca juga:  Tingkat Daya Saing Keahlian SDM Singapura Peringkat ke-2 Dunia, Ini Resepnya
"Penurunan peringkat ini menunjukkan bahwa kekuatan fundamental makroekonomi saja tidak cukup. Investor juga sangat memperhatikan efisiensi birokrasi, kualitas infrastruktur, kepastian regulasi, dan produktivitas dunia usaha," ujar Jessica dalam risetnya.
 
Menurut dia, memburuknya efisiensi pemerintah dan dunia usaha menjadi salah satu faktor yang menekan daya saing nasional. Di saat yang sama, negara-negara pesaing seperti Vietnam terus memperkuat posisinya sebagai basis manufaktur dan tujuan investasi alternatif di kawasan Asia Tenggara.

Di tengah tantangan tersebut, pemerintah dan Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi. Salah satunya terlihat dari langkah Kementerian Keuangan yang mulai menarik dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) secara bertahap dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
 
Jessica menilai langkah tersebut merupakan bagian dari pengelolaan likuiditas yang lebih terintegrasi antara kebijakan fiskal dan moneter. Meski berpotensi mengurangi likuiditas perbankan dalam jangka pendek, dampaknya diperkirakan tetap terbatas.
 
"Pertumbuhan dana pihak ketiga masih cukup kuat, sementara perbankan juga memiliki akses terhadap berbagai sumber pendanaan alternatif dan fasilitas likuiditas Bank Indonesia. Karena itu, kami melihat dampak penarikan SAL terhadap sektor perbankan relatif terkendali," jelasnya.
 
Dari sisi pasar keuangan, Bank Indonesia pada lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) terbaru menyerap dana sebesar Rp18 triliun, turun sekitar 58 persen dibandingkan lelang sebelumnya yang mencapai Rp43 triliun. Meski demikian, bank sentral tetap mempertahankan tingkat imbal hasil yang tinggi untuk menjaga daya tarik instrumen berbasis rupiah.
 
Jessica mencatat yield SRBI tenor enam bulan berada di level 7,4 persen, tenor sembilan bulan 7,6 persen, dan tenor 12 bulan mencapai 7,7 persen. Permintaan investor kembali terkonsentrasi pada tenor 12 bulan yang menyumbang sekitar 93 persen dari total nominal yang dimenangkan.
 
"Minat yang tinggi pada tenor panjang menunjukkan investor masih bersedia mengunci imbal hasil yang menarik. Ini juga mencerminkan peran SRBI yang semakin penting sebagai instrumen stabilisasi nilai tukar di tengah tingginya premi risiko domestik dan ekspektasi suku bunga global yang bertahan tinggi lebih lama," kata Jessica.
 
Sementara itu, nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan dan sempat melemah hingga mendekati level Rp17.943 per dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut terjadi meskipun sentimen global menunjukkan perbaikan, ditandai dengan turunnya yield US Treasury dan melemahnya harga minyak Brent ke kisaran USD73,5 per barel.
 
Menurut Jessica, kondisi tersebut mengindikasikan bahwa faktor domestik masih menjadi penentu utama pergerakan rupiah. Penguatan indeks dolar AS (DXY) serta tingginya kebutuhan pembiayaan dalam negeri membuat tekanan terhadap mata uang Indonesia belum sepenuhnya mereda.
 
Di pasar obligasi, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun meningkat ke level 7,22 persen sehingga selisih imbal hasil dengan US Treasury atau spread INDOGB-UST melebar menjadi sekitar 274 basis poin. Oleh karena itu, Mirae Asset masih mempertahankan pandangan positif terhadap obligasi tenor pendek hingga menengah.
 
"Kami tetap lebih menyukai obligasi tenor pendek hingga menengah sambil menunggu perkembangan berikutnya, terutama hasil tinjauan sovereign rating Indonesia oleh S&P pada akhir Juli 2026 yang berpotensi menjadi katalis penting bagi sentimen investor dan arus modal asing," tutup Jessica.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pertamina Bukukan Laba Rp55,20 Triliun pada 2025, Perkuat Ketahanan Energi dan Transisi Rendah Karbon
• 13 jam lalupantau.com
thumb
Program Magang Nasional Dibuka Lagi, Simak Cara Daftar dan Syaratnya!
• 7 jam laluokezone.com
thumb
KPK Serahkan Uang Rampasan Rp 153 M Kasus Korupsi ke PT Taspen
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Polisi Ringkus Pria Residivis yang Mengaku Pegawai Pertamina, Rudapaksa Gadis Bantul di Penginapan Kulon Progo
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
PDIP Minta Publik Tak Generalisasi Mahasiswa Usai Kasus Ketua BEM UBK
• 8 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.