Dalam waktu yang hampir bersamaan, Kamis (25/6/2026) pagi WIB, dunia menyaksikan dua gempa besar mengguncang Jepang dan Venezuela yang sama-sama hidup di kawasan aktif tektonik. Namun, dampak dari gempa di masing-masing negara itu sangat berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa respons dan mitigasi terhadap gempa menjadi kunci daya tahan terhadap bencana geologi.
Di Jepang, gempa kuat di lepas pantai utara memicu peringatan tsunami dan evakuasi pesisir, namun tidak ada kerusakan dan korban. Di Venezuela, dua gempa besar yang terjadi hanya dalam selang sekitar 40 detik menyebabkan bangunan runtuh, infrastruktur rusak, dan memicu operasi penyelamatan besar-besaran.
Menurut data yang dirilis oleh Japan Meteorological Agency (JMA), gempa yang mengguncang Jepang pada 25 Juni 2026, pukul 07.30 waktu Jepang atau 05.30 WIB, memiliki kekuatan M 7,2. Sumber gempa di lepas pantai Prefektur Iwate.
Sementara itu, berdasarkan data United States Geological Survey (USGS), Venezuela juga diguncang gempa. Meski terjadi hampir bersamaan dengan gempa Jepang, tetapi Venezuela masih di zona waktu 24 Juni 2026. Gempa yang terjadi di Venezuela ini bukan satu gempa tunggal, melainkan rangkaian dua gempa besar yang terjadi hanya dalam selang waktu sekitar 39–40 detik. Gempa pertama berkekuatan M 7,2 terjadi pukul 18.04 waktu setempat atau pukul 5.04 WIB. Gempa kedua M 7,5 terjadi pukul 5.05 WIB.
Sekilas, kedua peristiwa itu tampak serupa. Magnitudonya sama-sama berada di atas 7. Keduanya terjadi di kawasan yang akrab dengan aktivitas seismik. Keduanya memicu kekhawatiran tsunami.
Namun hasil akhirnya sangat berbeda. USGS memberi gempa Jepang status ”Green”, yang berarti potensi korban dan kerusakan rendah, sedangkan gempa Venezuela mendapat label ”Red”, level tertinggi yang menunjukkan kemungkinan korban jiwa dan kerusakan ekonomi sangat besar.
Laporan sejumlah kantor berita juga menunjukkan dampak yang jauh berbeda. Jepang sejauh ini dilaporkan minim kerusakan dan korban, sementara di Venezuela kerusakan dan korban diprediksi besar.
Dalam pemberitaan bencana, magnitudo sering menjadi angka yang paling menonjol. Padahal para ahli kebumian telah lama mengingatkan bahwa besarnya magnitudo tidak otomatis menentukan tingkat kerusakan. Dampak gempa lebih dipengaruhi oleh kombinasi kedalaman gempa, jarak terhadap kawasan berpenduduk, kondisi tanah, serta kualitas bangunan.
Menurut laporan cepat USGS, dua gempa beruntun di Venezuela ini berpotensi merusak karena kuatnya guncangan. Reuters melaporkan bangunan runtuh di Caracas dan wilayah pesisir La Guaira. Infrastruktur mengalami kerusakan, layanan publik terganggu, dan tim penyelamat bekerja sepanjang malam mencari korban di bawah reruntuhan.
Menurut Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, sedikitnya 32 orang tewas dalam gempa bumi dan sekitar 700 orang terluka.
Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello, mengatakan pemerintah menghadapi kerusakan yang meluas. "Kami memiliki gedung, rumah dan bangunan yang runtuh, dan kami menangani semuanya dengan seluruh sumber daya keamanan dan bantuan sipil yang tersedia," katanya.
Wali Kota Chacao di Caracas, Gustavo Duque, mengatakan tim penyelamat berhasil mengevakuasi sejumlah warga dari bangunan yang ambruk. "Kami berupaya melakukan segala upaya untuk menyelamatkan korban yang masih mungkin bisa diselamatkan," kata dia.
Hingga pukul 12.00, menurut Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, sedikitnya 32 orang tewas dalam gempa bumi dan sekitar 700 orang terluka. Ini adalah angka pertama yang ia berikan mengenai jumlah korban tewas dan kemungkinan jumlahnya akan terus bertambah seiring banyaknya kerusakan.
Selain magnitudo, lokasi sumber gempa memainkan peran yang sangat menentukan terhadap kerusakan. Gempa Venezuela terjadi relatif dekat dengan kawasan metropolitan Caracas dan wilayah pesisir yang padat penduduk. Selain itu, sumber gempa tergolong dangkal sehingga energi guncangan mencapai permukaan dengan sedikit kehilangan kekuatan.
Dalam ilmu seismologi, gempa dangkal yang terjadi dekat pusat populasi sering kali jauh lebih berbahaya dibanding gempa yang lebih besar tetapi terjadi jauh di tengah laut.
Berbeda dengan situasi di Venezuela, Associated Press melaporkan gempa di Jepang minim kerusakan dan belum ada korban. Setelah gempa besar kali ini, pemerintah Jepang segera mengaktifkan prosedur darurat nasional. Jalur kereta cepat dihentikan sementara untuk inspeksi, peringatan tsunami dikeluarkan, dan warga pesisir diarahkan menuju lokasi aman.
Gempa sempat memicu kekhawatiran tsunami, namun JMA tidak mengeluarkan tsunami warning maupun tsunami advisory. Hingga beberapa jam setelah kejadian, tidak terdapat laporan tsunami yang signifikan.
Dari aspek episenternya, gempa di Jepang tidak terjadi di daratan, sehingga mungkin dampak guncangannya tidak terlalu besar. Namun faktor lokasi saja tidak cukup menjelaskan perbedaan dampak yang begitu besar.
Ada faktor lain yang lebih penting, yaitu kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap ancaman gempa. Jepang telah menghabiskan puluhan tahun membangun sistem sosial, teknik, dan kelembagaan yang memungkinkan masyarakat hidup berdampingan dengan gempa.
Negara itu berada di pertemuan empat lempeng tektonik utama dan mengalami ribuan gempa setiap tahun. Pengalaman panjang tersebut membentuk budaya mitigasi yang hampir tidak memiliki tandingan di dunia.
Setelah gempa Kobe 1995 yang menewaskan lebih dari 6.000 orang, Jepang merevisi Building Standard Law dan memperketat standar konstruksi nasional. Banyak gedung baru menggunakan teknologi base isolation yang memungkinkan bangunan bergerak mengikuti guncangan tanpa mengalami keruntuhan struktural. Di Tokyo saja, ribuan bangunan tinggi kini dilengkapi sistem peredam getaran yang dirancang untuk menghadapi gempa besar.
Gempa tidak membunuh manusia secara langsung. Yang membunuh adalah bangunan yang runtuh. Kasus Venezuela kembali memperlihatkan kebenaran pernyataan tersebut.
Jika Jepang adalah contoh investasi jangka panjang dalam mitigasi, Venezuela menunjukkan sisi sebaliknya. Wilayah ini dan Karibia sebenarnya memiliki sejarah kegempaan panjang. Caracas pernah dihancurkan gempa besar pada 1812 yang menewaskan puluhan ribu orang.
Namun hingga kini kerentanan bangunan masih menjadi persoalan utama. Ahli mitigasi gempa Brian Tucker, pendiri GeoHazards International, pernah menyampaikan prinsip yang kini menjadi dasar pengurangan risiko bencana modern, "Earthquakes don't kill people. Unsafe buildings do."
Gempa tidak membunuh manusia secara langsung. Yang membunuh adalah bangunan yang runtuh. Kasus Venezuela kembali memperlihatkan kebenaran pernyataan tersebut.
Bagi Indonesia, dua gempa besar minggu ini terasa seperti cermin. Secara geologi, Indonesia bahkan lebih kompleks dibanding Jepang maupun Venezuela. Negara ini berada di pertemuan Lempeng Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina.
Selain menghadapi ancaman gempa megathrust di laut, Indonesia juga memiliki ratusan sesar aktif di daratan. Bahaya terbesar justru sering datang dari sumber gempa yang dekat dengan manusia.
Serial Artikel
Gempa Lagi di Palu, Mengapa Rusak Lagi?
Sesar Palolo, Sausu, Palu-Koro, dan berbagai struktur geologi lain di Sulawesi Tengah akan terus bergerak, terlepas dari apakah manusia siap atau tidak.
Belajar dari gempa hari ini di Jepang dan Venezuela, perbedaan lokasi sumber gempa menjadi faktor yang sering diabaikan publik. Gempa Jepang terjadi sekitar 50 kilometer di bawah dasar laut lepas pantai Iwate. Sebaliknya, gempa utama Venezuela hanya berkedalaman sekitar 10 kilometer dan terjadi relatif dekat dengan kawasan berpenduduk.
Dalam ilmu seismologi, kedalaman 10 kilometer tergolong sangat dangkal. Artinya, energi guncangan mencapai permukaan dengan sedikit kehilangan kekuatan. Gempa dangkal seperti inilah yang sering menghasilkan kerusakan paling besar.
Pengalaman Indonesia menunjukkan pola yang sama. Gempa Yogyakarta 2006, Palu 2018, dan Cianjur 2022 bukanlah gempa terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Namun semuanya terjadi pada kedalaman dangkal dan dekat dengan permukiman, sehingga menghasilkan korban yang jauh lebih besar dibanding sejumlah gempa yang magnitudonya lebih tinggi.
Gempa Yogyakarta 2006 berkekuatan M6,3 menewaskan lebih dari 5.700 orang. Gempa Lombok 2018 berkekuatan M6,9 menewaskan lebih dari 500 orang. Gempa Cianjur 2022 yang hanya berkekuatan M5,6 menewaskan lebih dari 600 orang. Gempa Palu 2018 berkekuatan M7,5 menyebabkan lebih dari 4.000 korban jiwa.
Dari daftar itu terlihat bahwa tidak selalu gempa terbesar yang paling mematikan. Dan yang mematikan adalah gempa yang dangkal, dekat dengan permukiman, dan menghantam bangunan yang rentan.
Gempa M6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada Juni 2026 kembali menunjukkan bahwa ancaman tersebut masih nyata. Gempa dangkal itu memicu lebih dari 700 gempa susulan hanya dalam beberapa hari.
Sulawesi sendiri merupakan salah satu kawasan tektonik paling rumit di dunia, dengan jaringan sesar aktif seperti Palu-Koro yang terus bergerak. Artinya, sumber ancaman berada sangat dekat dengan jutaan penduduk.
Indonesia sebenarnya telah memiliki standar bangunan tahan gempa. Masalahnya terletak pada implementasi. Sebagian besar korban gempa di Indonesia berasal dari rumah-rumah sederhana yang dibangun secara swadaya tanpa pengawasan teknik memadai.
Indonesia masih memiliki tantangan yang lebih dekat dengan Venezuela dibanding Jepang. Kita kini mengetahui ancamannya. Kita memahami ilmunya. Tetapi penerapannya belum merata.
Rumah bata tanpa kolom pengikat, sambungan beton yang lemah, dan penggunaan material berkualitas rendah masih banyak ditemukan. Akibatnya, jutaan rumah di Indonesia pada dasarnya belum siap menghadapi gempa besar.
Dalam konteks ini, Indonesia masih memiliki tantangan yang lebih dekat dengan Venezuela dibanding Jepang. Kita kini mengetahui ancamannya. Kita memahami ilmunya. Tetapi penerapannya belum merata.
Kita tidak dapat memilih di mana lempeng bumi bergerak. Namun Indonesia dapat memilih apakah akan belajar dari Jepang atau menunggu tragedi berikutnya untuk belajar. Dan ketika saat itu tiba, yang menentukan jumlah korban bukanlah magnitudonya semata, melainkan kualitas rumah yang kita bangun, kota yang kita rencanakan, dan kesiapsiagaan yang kita tanamkan hari ini.





