JAKARTA, KOMPAS.com - Hidup di kota besar yang serba maju seperti Jakarta tak selalu mendatangkan kebahagiaan untuk para penduduknya.
Menjadi pusat perubahan, membuat ritme hidup di Jakarta begitu cepat sampai penduduknya kewalahan untuk mengimbanginya.
Di tengah ritme yang begitu cepat, warga Jakarta harus tetap bertahan, berjuang, bekerja, demi sebuah rupiah, meski taruhannya adalah kesehatan mental.
Psikolog Klinis Senior sekaligus Direktur Personal Growth dan Tim Ahli Kelompok Kerja Kesehatan Jiwa (Pokja Keswa) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), Ratih Ibrahim, mengatakan keluhan warga Jakarta yang paling sering ditangani adalah stres berkepanjangan, gangguan kecemasan, burnout, gangguan tidur, depresi, masalah relasi, serta kesulitan mengelola emosi.
Baca juga: Macet hingga Tekanan Ekonomi Picu Masalah Kesehatan Mental di Jakarta
Penyebab gangguan mental yang kerap dialam warga itu sangat beragam dan biasanya kombinasi dari beberapa faktor.
Seperti tekanan pekerjaan, masalah ekonomi, konflik keluarga, tuntutan sosial, kesepian, pengalaman traumatis, hingga penggunaan media sosial yang berlebihan.
Beban Kerja Banyak DikeluhkanBerdasarkan pengalaman praktik Ratih, dari banyaknya faktor yang dapat mengganggu kesehatan mental, soal pekerjaanlah paling banyak dikeluhkan warga Jakarta.
"Di tempat praktik saya, keluhan terkait pekerjaan masih menjadi alasan yang paling sering disampaikan," ungkap Ratih ketika dihubungi Kompas.com, Rabu (23/6/2026).
Psikolog itu bilang, banyak warga Jakarta yang mengeluh tentang beban kerja yang begitu banyak sampai merasa sangat berlebihan.
Selain itu, mereka juga kerap terbebani dengan target perusahaan yang tinggi dan rasanya sulit untuk dicapai.
Di tengah beban dan target kerja yang tinggi, warga Jakarta juga kerap dirundung rasa cemas karena ketidakpastian karier.
Baca juga: Menjaga Harga Transportasi Publik Jakarta di Tengah Tekanan Ekonomi
Banyak dari mereka yang sulit untuk menjadi karyawan tetap atau naik jabatan, meski sudah bekerja seoptimal mungkin.
Kemudian, kata Ratih, banyak pasiennya yang merasa kesulitan menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.
Di mana beban pekerjaan yang melebihi kapasitas, membuat masyarakat terpaksa menyelesaikannya di rumah.
Imbasnya, kehidupan pribadi seperti keluarga seolah terabaikan dan ini yang dapat memicu stres berkepanjangan.
Baca juga: SBY: Tekanan Ekonomi yang Lebih Berat Masih Dapat Dicegah




