Fenomena destinasi wisata yang mendadak ramai dikunjungi setelah viral di media sosial beberapa tahun terakhir. Di satu sisi, viralitas mampu meningkatkan eksposur dan mendatangkan wisatawan dalam jumlah besar. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran terkait dampak overtourism, kerusakan lingkungan, hingga menurunnya kenyamanan wisatawan.
Terkait itu, Radio Suara Surabaya menggelar polling dengan tajuk, “Jika Ada Tempat Wisata Viral, Apakah Anda Akan Berkunjung?”. Hasilnya, mayoritas masyarakat memilih tidak langsung mengunjungi destinasi wisata hanya karena sedang viral di media sosial.
Polling ini dihimpun melalui media sosial Instagram @suarasurabayamedia serta partisipasi pendengar melalui pesan WhatsApp dan telepon yang masuk saat Program Wawasan Polling Radio Suara Surabaya berlangsung hari ini Kamis (25/6/2026) mulai pukul 07.00-09.00 WIB.
Dalam diskusi Program Wawasan Polling, mayoritas pendengar menilai viralitas bukan satu-satunya faktor yang menentukan keputusan mereka untuk berwisata.
Berdasarkan data pendengar yang berpartisipasi melalui telepon dan pesan WhatsApp, sebanyak 73,45 persen atau 83 pendengar mengaku tidak akan berkunjung ke tempat wisata hanya karena viral. Sementara 26,55 persen atau 30 pendengar menyatakan akan berkunjung.
Sementara itu, hasil polling melalui Instagram @suarasurabayamedia menunjukkan kecenderungan serupa. Sebanyak 69 persen atau 220 pengguna memilih tidak akan berkunjung ke tempat wisata yang viral, sedangkan 31 persen atau 100 pengguna mengaku tertarik untuk datang.
Mengenai fenomena tersebut, Agustinus Lis Indrianto, Dekan Fakultas Kuliner, Teknologi Pangan, dan Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya, menjelaskan bahwa viralitas memang memiliki peran penting dalam memperkenalkan sebuah destinasi kepada masyarakat luas.
“Viral itu harus dianggap sebagai pintu masuk saja, bukan jangka panjang. Itu penting memang untuk meningkatkan pemahaman dan informasi orang, tapi itu tidak bisa diandalkan agar tempat menjadi sustain (bertahan), harus ada yang dibangun,” katanya saat mengudara di Program Wawasan Radio Suara Surabaya, Kamis (25/6/2026).
Menurut Agustinus, viralitas dapat memberikan dampak positif berupa peningkatan kunjungan wisata dan pergerakan ekonomi masyarakat sekitar destinasi.
“Kalau objek yang dulu (masyarakat) tidak tahu, tapi unik dan menarik lalu viral secara tidak sengaja, dampak ekonominya bagus. Kunjungan wisata naik, eksposur naik, itu positifnya,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa banyak destinasi belum siap menghadapi lonjakan wisatawan secara mendadak. Akibatnya, berbagai fasilitas dasar seperti akses jalan, area parkir, toilet, hingga tempat sampah menjadi kewalahan.
“Kekurangannya, banyak tempat tidak siap, over capacity. Lalu kita berbicara tentang akses wisatawan, toilet, tempat sampah dan lain-lain. Itu akan terjadi over tourism sehingga tingkat kenyamanan wisatawan atau masyarakat lokal menjadi kurang nyaman,” katanya.
Agustinus menilai pengelola destinasi wisata perlu memandang viralitas sebagai langkah awal untuk memperkenalkan tempat wisata, bukan tujuan akhir.
“Viral penting untuk membuka gerbang saja. Sustain bisnis harus memperhatikan manajemen bisnis dan produk,” tegasnya. (lta/ipg)




