JAKARTA, KOMPAS.com - Konsumen Pertamax menyebut kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi itu berdampak ke pengeluaran rutin mereka.
Salah satunya dirasakan Ahmad Sofian (36). Pemilik mobil Toyota CR-V itu harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli Pertamax usai beberapa pekan harganya naik.
Ia biasanya selalu mengisi bensin full tank seharga Rp 400.000.
"Kalau full cukup sampai tiga hari. Dan ini yang bikin kaget, biasanya Rp 400.000 dan sekarang Rp 700.000," ujar Sofian saat ditemui di SPBU kawasan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Kamis (25/6/2026).
Baca juga: Usai Harga Pertamax Naik, Rp 700.000 Habis dalam 3 Hari untuk Bensin
Meski pengeluaran untuk BBM meningkat, Sofian mengaku belum berencana beralih ke jenis bahan bakar lain.
Ia khawatir penggunaan BBM dengan kualitas berbeda bisa merusak kendaraan kesayangannya.
"Takut mesinnya kotor, rusak, malah biayanya lebih gede," katanya.
Keluhan serupa disampaikan Farhan (29). Pengendara roda empat itu mengaku kini hanya mampu mengisi Pertamax senilai Rp 200.000 setiap kali datang ke SPBU.
Farhan mengatakan kenaikan harga Pertamax membuatnya harus mengubah pola pengeluaran untuk BBM.
"Sekarang sudah di-budget beli dengan nyebutin nominalnya Rp 200.000. Kalau dulu bilangnya full ya, sekarang takut lebih dari Rp 200.000, jadi sesuai budget aja sanggupnya segitu," ujar Farhan.
Meski demikian, ia tetap memilih menggunakan Pertamax karena kendaraan roda empat miliknya sejak awal menggunakan BBM dengan angka oktan atau RON 92.
Baca juga: Kalau Uangnya Lari ke Pertamax, Pulang Tak Bawa Uang, Cerita Ojol Beralih ke Pertalite
Sementara itu, pengendara lainnya, Rifky Ghivari (32), mengaku kenaikan harga Pertamax memang menambah beban pengeluaran bulanan.
Namun, ia memilih tetap menggunakan BBM tersebut karena dinilai sesuai dengan spesifikasi kendaraan yang dimilikinya.
“Hitung-hitungannya udah mulai berubah, kalau dulu lebih banyak pengeluarannya buat ke belanja bulanan tapi sekarang ke bensin. Bensin hampir habis Rp 500.000 buat semingguan,” kata Rifky.
Menurut Rifky, kualitas bahan bakar menjadi pertimbangan utama dibandingkan selisih harga yang harus dibayar.
Penggunaan BBM yang sesuai rekomendasi pabrikan dapat membantu menjaga performa mesin kendaraan dalam jangka panjang.
Meski demikian, Rifky masih menaruh harapan agar harga BBM turun sehingga tidak semakin membebani masyarakat yang bergantung pada kendaraan pribadi untuk beraktivitas setiap hari.
“Kalau naik transportasi umum jugakan repot. Rumah saya di Cibubur sedangkan kerja harus ke sana-sini tidak satu tempat atau stay di kantor. Semoga masih bisa turun harganya, apalagi harapannya cuma turun harga” kata Rifky.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




