Jakarta, ERANASIONAL.COM – Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax diperkirakan mengalami penurunan mulai 1 Juli 2026.
Proyeksi tersebut muncul seiring melemahnya harga minyak mentah dunia yang kini bergerak di bawah level USD70 per barel.
Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai penyesuaian harga Pertamax sudah seharusnya dilakukan apabila tren penurunan harga minyak global terus berlanjut.
“Seharusnya pada awal Juli nanti harga Pertamax bisa diturunkan,” kata Fahmy di Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Menurut Fahmy, harga minyak dunia sebelumnya sempat melonjak hingga menembus USD100 per barel saat ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meningkat.
Kondisi tersebut diperburuk dengan terganggunya jalur distribusi energi global, termasuk dampak penutupan Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia.
Namun, setelah tensi mulai mereda dan jalur pelayaran kembali terbuka, harga minyak perlahan terkoreksi karena kekhawatiran kelangkaan pasokan ikut berkurang.
Meski demikian, Fahmy mengingatkan situasi antara Iran dan AS masih berkembang dan belum sepenuhnya menjamin terciptanya stabilitas jangka panjang.
“Pergerakannya masih sangat dinamis dan bisa berubah sewaktu-waktu. Tetapi untuk Indonesia, apabila setelah evaluasi harga Pertamax masih berada di atas harga pasar, pemerintah perlu melakukan penyesuaian,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menyampaikan kemungkinan turunnya harga Pertamax seiring penurunan harga minyak global.
Ia menilai prospek ekonomi dunia mulai menunjukkan sentimen positif karena terbukanya peluang tercapainya perdamaian antara AS dan Iran.
Jika kondisi tersebut benar-benar tercapai, stabilitas nilai tukar rupiah diperkirakan membaik, biaya pendanaan menjadi lebih kompetitif, serta iklim investasi semakin kuat.
Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan pemerintah tetap menyiapkan langkah antisipasi terhadap dinamika global, termasuk menjaga keamanan pasokan energi nasional.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menyebut perkembangan hubungan Iran dan AS memang memberi sinyal positif terhadap stabilitas harga minyak, tetapi situasinya masih perlu dicermati.
“Optimisme tetap diperlukan, namun langkah antisipatif juga harus terus disiapkan,” ujarnya. []





