Airlangga Respons soal Daya Saing RI pada 2026 Anjlok 8 Peringkat

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons soal turunnya peringkat daya saing Indonesia dalam IMD World Competitiveness Ranking (WCR) 2026. Airlangga mengatakan, pemerintah akan menelusuri penyebab turunnya peringkat daya saing Indonesia, sebelum menentukan langkah perbaikannya.

Peringkat daya saing Indonesia tahun ini merosot delapan tingkat ke posisi 48 dari 70 negara. Pada 2025, Indonesia masih berada di posisi 40. Penurunan tersebut juga menghapus capaian positif pada 2024 ketika Indonesia sempat menembus peringkat 27 dunia.

Airlangga mengatakan, evaluasi akan dilakukan bersama tim Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP) atau tim debottlenecking yang selama ini bertugas mengidentifikasi hambatan dalam pelaksanaan program pemerintah.

“Kita teliti lagi masalahnya di mana. Karena kan kita ada persiapan untuk tim di bottlenecking. Jadi kita akan lihat aja dari sana,” ujar Airlangga kepada wartawan, Rabu (24/6).

Menurut Airlangga, salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian dalam upaya meningkatkan daya saing nasional adalah sektor energi. Ia menilai ketersediaan dan stabilitas pasokan listrik menjadi salah satu pertimbangan utama investor saat menilai iklim usaha suatu negara.

“Ya tentu kita lihat kan sebetulnya daya saing per hari ini kan yang menjadi concern para investor itu energi,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, energi merupakan infrastruktur dasar yang menopang berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari industri manufaktur hingga sektor transportasi. Karena itu, negara yang mampu menjamin pasokan energi yang stabil umumnya dipandang memiliki lingkungan investasi yang lebih kompetitif.

“Tentu negara dianggap iklimnya baik kalau energi sebagai infrastruktur utama untuk apa pun. Apakah itu untuk manufaktur, apakah itu untuk sektor transportasi stabil,” kata Airlangga.

Airlangga menambahkan, Indonesia memiliki peluang untuk memperbaiki posisinya karena didukung potensi energi baru dan terbarukan yang saat ini semakin diminati investor global. “Kebetulan Indonesia sedang diminati karena kita punya renewable energy,” imbuhnya.

Selain melakukan evaluasi internal, pemerintah juga mengacu pada berbagai masukan dari lembaga internasional, termasuk hasil peninjauan yang dilakukan bersama Organization for Economic Co-operation and Development (OECD). Menurut Airlangga, sejumlah catatan yang muncul dalam proses tersebut relatif sejalan dengan hasil survei IMD.

Berdasarkan laporan IMD World Competitiveness Ranking 2026, Indonesia menghadapi lima tantangan utama. Tantangan tersebut meliputi meningkatnya konfrontasi ekonomi global yang berpotensi mengganggu ketahanan energi, pertumbuhan ekonomi yang relatif stagnan, penyesuaian alokasi belanja pemerintah, keterbatasan infrastruktur dan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta terbatasnya akses pembiayaan.

Posisi Indonesia juga melemah dibanding negara-negara lain di kawasan. Di Asia Pasifik yang mencakup 15 negara, Indonesia turun dari peringkat 11 menjadi 14. Sementara pada kelompok negara dengan jumlah penduduk di atas 20 juta jiwa, posisi Indonesia turun dari peringkat 16 menjadi 21.

Meski demikian, kinerja ekonomi masih menjadi salah satu penopang utama daya saing Indonesia. Dalam laporan IMD, Indonesia menempati peringkat 24 dunia untuk aspek kinerja ekonomi. Indikator harga berada di posisi 10 dan ketenagakerjaan di peringkat 28.

Di sisi lain, sejumlah indikator masih menunjukkan kinerja yang lemah. Perdagangan internasional tercatat berada di peringkat 50, sedangkan investasi internasional di posisi 37.

Pada aspek efisiensi pemerintah, kebijakan pajak menjadi indikator terbaik Indonesia dengan menempati peringkat 12 dunia. Namun kerangka kelembagaan berada di posisi 50, regulasi bisnis di peringkat 43, dan kerangka sosial di posisi 54.

Sektor infrastruktur masih menjadi tantangan terbesar. Infrastruktur dasar berada di peringkat 42, infrastruktur teknologi di posisi 47, serta infrastruktur ilmiah di peringkat 48. Adapun indikator kesehatan dan lingkungan serta pendidikan masing-masing berada di peringkat 65 dan 63, menjadikannya aspek dengan performa terlemah dalam laporan IMD tahun ini.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pernah Kabulkan Jadi Tahanan Rumah, Kini KPK Bantarkan Penahanan Eks Menag Yaqut Cholil
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Top 3 News: Kronologi Truk Terguling di Tomang, Besi 30 Ton Berjatuhan
• 7 jam laluliputan6.com
thumb
Siswa Penabur Diajarkan Nilai Kedisiplinan dalam Musik Orkestra
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Wakapolri: Ketahanan Pangan Bukan Hanya Soal Hasil Panen
• 23 jam laluokezone.com
thumb
Mario G. Klau Kenang Glenn Fredly Lewat Jejak Langkah
• 7 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.