EtIndonesia.com Putaran pertama perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss disebut menghasilkan kemajuan penting, dengan Iran dikabarkan membuat konsesi besar. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran telah menyetujui inspeksi terhadap program persenjataannya dan akan menggunakan dana yang dibekukan dan nantinya dicairkan untuk membeli produk pertanian Amerika Serikat.
Namun, Teheran kemudian membantah pernyataan tersebut. Perubahan sikap Iran memicu kekhawatiran mengenai prospek kelanjutan negosiasi.
Trump: Iran setuju menerima inspeksiPada Selasa (23 Juni), Presiden Trump mengatakan bahwa Iran telah sepenuhnya menyetujui dilaksanakannya inspeksi. Ia juga menyatakan bahwa dana Iran yang nantinya dibebaskan akan digunakan untuk membeli produk pertanian dan perlengkapan medis dari Amerika Serikat.
Selain itu, Amerika Serikat telah menyetujui agar Selat Hormuz tetap dibuka untuk pelayaran internasional. Namun, kapal perang dan pasukan militer yang ditempatkan di kawasan tersebut masih tetap dalam status siaga untuk mengantisipasi kemungkinan Iran melanggar kesepakatan.
Teheran membantahMeski demikian, pihak Teheran kemudian menyangkal pernyataan tersebut. Pejabat Iran tidak hanya membantah bahwa telah tercapai kesepakatan akhir, tetapi kepala negosiator Iran juga mengatakan kepada media pemerintah bahwa Selat Hormuz “tidak akan pernah kembali seperti sebelum perang” dan menegaskan bahwa Iran akan terus mempertahankan kendalinya atas jalur strategis pengiriman energi dunia tersebut.
Perubahan-perubahan sikap Iran ini menimbulkan kekhawatiran bahwa proses perundingan masih penuh ketidakpastian.
Pengamat: Perundingan berada pada tahap sulitPengamat politik Lan Shu mengatakan: “Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran saat ini berada dalam fase tarik-ulur yang cukup sulit. Sikap Iran yang terus berubah hanya menunjukkan dua hal.”
Ia melanjutkan: “Pertama, rezim keagamaan yang ekstrem di Iran sering berubah-ubah dan tidak konsisten dalam memegang komitmen. Kedua, hal ini menunjukkan bahwa nota kesepahaman yang sebelumnya dicapai antara AS dan Iran sebenarnya merupakan kesepakatan yang cukup menguntungkan bagi Amerika Serikat. Yang perlu dibaca adalah teks resmi yang dirilis Gedung Putih, bukan berbagai interpretasi dari media.”
Peluang tercapainya kesepakatan masih adaSejumlah analis menilai bahwa kemungkinan tercapainya kesepakatan akhir antara Amerika Serikat dan Iran masih terbuka.
Menurut analisis tersebut, Iran saat ini menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat dan kemampuan militernya juga mengalami kemunduran. Karena itu, pencabutan sanksi menjadi kebutuhan mendesak. Namun, pemerintah Iran juga tidak ingin terlihat seolah-olah menyerah, sehingga di satu sisi mempertahankan retorika keras, sementara di sisi lain tetap melanjutkan perundingan guna memperoleh manfaat ekonomi sebelum menyelesaikan persoalan nuklir.
Pengamat politik Li Linyi mengatakan: “Sangat mungkin kedua belah pihak pada akhirnya akan mencapai sebuah kesepakatan. Hal itu juga menguntungkan bagi Iran dalam mempertahankan kelangsungan pemerintahannya.”
Dua bulan ke depan menjadi periode pentingSecara keseluruhan, tingkat saling percaya antara Amerika Serikat dan Iran masih rendah. Persoalan program nuklir dan isu keamanan kawasan juga belum memperoleh penyelesaian yang jelas.
Karena itu, dua bulan mendatang dipandang sebagai periode yang sangat penting untuk mengamati apakah kedua pihak dapat mencapai kesepakatan yang lebih komprehensif.
Laporan disusun oleh reporter NTD Television, Chen Yue dan Chang Chun.





