Grid.ID- Dokter Tifa cerita kronologi lengkap penangkapan dirinya. Dia diketahui tak diberikan makan berjam-jam hingga GERD yang dideritanya kambuh.
Tersangka kasus tudingan ijazah palsu mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi), dokter Tifa baru-baru ini menceritakan kronologi penangkapan dirinya, pada Jumat (19/6/2026) lalu. Dia menjelaskan, saat itu, dirinya hendak berangkat dari apartemennya menggunakan mobil untuk ikut ujian disertasi secara daring di suatu tempat.
Namun, ketika mobilnya akan keluar dari area parkir bawah tanah, terdapat dua mobil berukuran besar. Kedua kendaraan itu disebut tiba-tiba menghalangi laju mobilnya dari depan dan juga belakang.
“Feeling saya menyatakan, ‘Hmm, ini dia harinya.’ Karena feeling saya, ‘Ini pasti polisi.’ Benar saja, ternyata total ada empat mobil; dua mobil di bawah dan dua mobil standby di atas lobi,” jelas dokter Tifa, dilansir dari Kompas.com.
Tak lama kemudian, ada sejumlah pria berpakaian hitam dengan penutup wajah turun dan menghampiri kendaraannya. Dokter Tifa mengaku bahwa dia mengenali mereka sebagai anggota kepolisian, karena selama tujuh bulan terakhir dia bolak-balik menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya.
Menurutnya, para penyidik sempat menyinggung kewajiban lapor yang disebutnya tidak dipenuhi pekan itu. Sang dokter sempat membela diri mengatakan dia akan pergi ke Polda selesai ujian disertasinya dilaksanakan.
“Mereka menyapa, ‘Selamat pagi dokter Tifa, gimana dok kok enggak wajib lapor?’ Saya jawab, ‘Enggak wajib lapor gimana? Saya ini habis ujian rencananya mau ke Polda,’” tuturnya.
Adapun, penyidik lalu menyerahkan lembaran kertas kuning berisi surat keterangan penangkapan. Perempuan bernama asli Tifauziah Tyassuma ini langsung teringat perkataan pengacaranya tentang langkah-langkah lanjutan setelah berkas perkara dinyatakan lengkap atau P21.
Menurut pengacara dokter Tifa, penyidik seharusnya memanggil dirinya dan Roy Suryo sebelum proses pelimpahan perkara. Karena itulah, dia mengaku memilih tidak menandatangani surat itu dan meminta menunggu kedatangan tim kuasa hukumnya.
Selain itu, dia juga sempat menanyakan alasan penangkapannya pada Jumat pagi itu. Namun menurut dokter Tifa, penyidik tidak memberikan penjelasan selain menyebut tindakan mereka dilakukan atas perintah dari atasan.
“Saya tegaskan, ‘Saya mau ikut kalian tapi dengan catatan saya harus dapat fasilitas tempat untuk ujian di sana.’ Mereka sempat rembukan dan akhirnya setuju,” ujar dokter Tifa.
Melansir dari Wartakotalive.com, setelah permintaannya untuk mendapatkan tempat itu disetujui, dokter Tifa juga meminta agar anak-anaknya diizinkan untuk mendampinginya selama ujian. Hal ini dilakukan sebagai bentuk dukungan moral bagi sang dokter.
Meski demikian, tim kuasa hukumnya tidak diizinkan untuk masuk ke ruangan tempat dia mengikuti ujian. Selama ujian berlangsung hingga siang hari, dokter Tifa mengaku terus didampingi sejumlah anggota kepolisian.
Dokter Tifa juga mengatakan bahwa kala itu dia bahkan belum sempat makan sejak pagi karena harus mempersiapkan ujian pendidikan magister di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Setelah ujian selesai dan pemeriksaan oleh penyidik berlanjut, Tifa mengaku tetap tidak diberi makanan.
Dalam dokter Tifa cerita kronologi lengkap penangkapan dirinya ini, di ruang penyidik Subdit Kamneg Ditreskrimum Polda Metro Jaya, dia sempat menjalani pemeriksaan kesehatan. Saat itu, tekanan darahnya disebut mencapai 165 mmHg.
Setelahnya dia ditempatkan di salah satu sel bersama lima tahanan lain di Direktorat Perawatan Tahanan dan Barang Bukti (Dittahti). Namun, sampai saat dokter Tifa masuk ke tahanan pun, dia mengaku belum juga menerima makanan.
"Dari jam 8 sampai jam 11.30, bayangkan dalam kondisi tidak makan. Lalu siang pun juga tidak ada makan, lalu kemudian saya dipindahkan. Jadi tidak heran bila tensi saya itu naik secara mendadak" tuturnya.
Permasalahan ini kemudian disampaikan ke Direktur Tahti yang langsung bergerak memberikan ransum yang menurut dokter Tifa tidak layak. Kondisi inilah yang kemudian membuat penyakit GERD yang diderita sang dokter kambuh hingga pihak kepolisian akhirnya membawanya ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati.
"Ketika saya diperiksa di UGD, diperiksa lengkap ya, lab, rontgen, semua lengkap, ternyata pihak rumah sakit menyatakan bahwa saya tidak sehat dan saya harus dirawat," ungkat dokter Tifa. (*)
Artikel Asli




