BOGOR, KOMPAS.com - Merry (49), petugas Sensus Ekonomi 2026, menceritakan pengalamannya pernah dikejar anjing saat bertugas mendata warga di wilayah Pabaton, Kota Bogor, Jawa Barat.
Semuanya bermula saat Merry ingin melakukan pendataan ke salah satu rumah warga di RW 03.
Saat itu, rumah di wilayah tersebut memang memiliki anjing peliharaan untuk menjaga kediaman masing-masing pemiliknya.
Baca juga: Mengikuti Petugas Sensus Ekonomi 2026 dari Rumah ke Rumah, Apa Saja yang Ditanyakan?
"Jadi sebelum orangnya keluar, anjingnya duluan yang menggonggong gitu kan ya, sampai dikejar gitu," kata Merry kepada Kompas.com di Pabaton, pada Kamis (25/6/2026).
Ia dikejar oleh dua ekor anjing, satu ekor sampai gerbang rumah dan satu lagi mengejarnya sampai ke jalan dengan kondisi lingkungan yang sepi.
Panik, Merry berlari dan teringat untuk berjongkok ketika dikejar anjing. Akhirnya hewan peliharaan milik warga itu berhenti mengejarnya.
Baca juga: Kenapa Sensus Ekonomi 2026 Tanyakan Rekening Pribadi? Ini Penjelasan BPS Bogor
"Dekat, sekitar satu, saya di sini anjingnya di situ, sekitar semeteran lah gitu ya. Untung yang punya rumah keburu keluar gitu, jadi (anjing) pada masuk lagi gitu," tuturnya.
Selain dikejar anjing, Merry juga kerap menerima penolakan dari sejumlah warga yang didatanginya untuk melakukan sensus ekonomi 2026.
Ia menyebut, terdapat warga yang menolak untuk disensus tanpa menyertakan alasan secara jelas. Hal itu dirasakan saat melakukan sensus ekonomi di wilayah RW 04.
Baca juga: Petugas di Lapangan Dapat Penolakan saat Sensus Ekonomi, Ini Pernyataan Kepala BPS Solo
Dia menuturkan, warga hanya menyatakan tidak ingin disensus.
"Padahal orangnya ada ya, jadi emang rumahnya besar, ada yang punyanya gitu. 'Maaf ya, saya tidak, tidak mau disensus,' terus saya 'Ibu, sebentar aja minta waktunya', dijawab lagi 'Nanti aja deh kalau ada suami saya' misal alasannya kayak gitu," tutur dia.
"Ataupun, 'Nanti aja, besok lagi' sampai berapa kali datang gitu, dua kali, tiga kali kayak gitu. Sering juga penolakan gitu," sambung dia.
Baca juga: BPS Solo Pastikan Sensus Ekonomi 2026 Tak Berkaitan dengan Pajak, Warga Diminta Tak Khawatir
Merry yang ditargetkan melakukan sensus terhadap 700 KK di wilayah Pabaton mengungkapkan, perlu menanyakan pertanyaan sesuai dengan acuan Badan Pusat Statistik (BPS).
Pertanyaan itu terkait penyesuaian Kartu Keluarga yang tinggal dalam satu bangunan, kepemilikan aset di luar rumah, status kepemilikan rumah, dan pendapatan.
"Sampai yang masalah mendetail pun ditanya, kayak mereka punya kendaraan apa, kita tanya gitu. Masalah usahanya, misalkan usaha di tempat bangunan rumah itu atau usaha di luar, pendapatan berapa, itu," tuturnya.
Baca juga: Jalani Sensus Ekonomi 2026, Bupati Ipuk Imbau Warga Banyuwangi Beri Data Jujur





