Cerita Warga Terdampak Debu Proyek PSEL Bantargebang: Sehari Menyapu 15 Kali hingga Gatal

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

BEKASI, KOMPAS.com – Sejumlah warga di sepanjang Jalan Pangkalan 5, Kelurahan Cikiwul, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, mengeluhkan polusi debu akibat lalu lalang truk pengangkut tanah.

Debu tersebut diketahui berasal dari kendaraan yang hendak menuju proyek pembangunan tempat Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Folder Ciketing Udik.

Setiap hari, warga harus menghadapi kepulan debu yang muncul dari lalu lalang kendaraan proyek.

Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kesehatan, tetapi juga berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat, terutama para pedagang yang usahanya berada di tepi jalan.

Baca juga: Warga Keluhkan Debu Proyek PSEL Bantargebang, Omzet Warung Turun hingga Anak-anak Sesak Napas

Rinto (60), pemilik usaha tambal ban di Jalan Pangkalan 5, mengaku polusi debu menjadi persoalan yang paling dirasakannya sejak aktivitas pengangkutan tanah berlangsung.

Menurut dia, truk pengangkut tanah beroperasi hampir sepanjang hari sehingga debu terus menumpuk di sekitar tempat usahanya.

"Apalagi ini tempat tambal ban, sehari aja bisa disapu sampai 15 kali. Soalnya gatal juga. Dirasanya juga kotor, jadi risih," ujar Rinto saat ditemui Kompas.com, Kamis (25/6/2026).

Ia mengatakan, warga kini terpaksa menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah karena khawatir mengalami gangguan kesehatan akibat debu yang beterbangan.

Baca juga: Gubernur Sumut Terima Audiensi Dubes Finlandia, Jajaki Kerja Sama PSEL

"Ini aja kalau mau keluar rumah harus pakai masker. Soalnya debunya udah banyak banget, kalau terhirup jadi batuk-batuk," katanya.

Rinto menduga material yang diangkut merupakan tanah merah. Meski muatan truk ditutup menggunakan terpal, menurut dia tanah tetap berceceran di sepanjang jalan dan menjadi sumber debu saat cuaca panas.

Ia mengaku sempat melihat adanya penyemprotan jalan menggunakan mobil tangki air. Namun, upaya tersebut dinilai belum cukup karena baru dilakukan beberapa kali.

Baca juga: DPRD DKI Minta Penanganan Sampah Jakarta Tak Hanya Andalkan PSEL

Keluhan serupa disampaikan Tia (41), pemilik warung makan yang telah berjualan di kawasan tersebut selama lebih dari satu tahun.

Menurut dia, polusi debu akibat proyek PSEL menjadi yang terparah sejak dirinya membuka usaha di lokasi tersebut.

"Sebagai pedagang makanan, benar-benar kena imbasnya. Jadi capek bersih-bersih. Tambah banyak kerjaannya," ujar Tia.

Ia mengatakan, jumlah kendaraan proyek yang melintas memang sudah berkurang dibandingkan saat awal pekerjaan pengurukan tanah dilakukan. Namun, debu yang ditimbulkan masih sangat mengganggu.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Baca juga: PSEL Denpasar Mulai Dibangun 8 Juli 2026, Kapasitas Olah 1.200 Ton Sampah Per Hari


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mesir Tiba-Tiba Respons Ekspor Sawit Lewat DSI, Bilang Begini
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Ancelotti Konfirmasi Neymar Siap Tampil Lawan Skotlandia
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
CATL Luncurkan BESS Berbahan Natrium Pertama di Dunia, Dorong Komersialisasi Sistem Penyimpanan Energi Berbasis Natrium
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Sebelum Kasus YTR, Taufik Pernah Dipenjara 1,5 Tahun soal Penganiayaan-Pencurian
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
5 Berita Populer: Penyanyi Iran Dicambuk; Fariz RM Tutup Pintu Maaf ke Syahravi
• 9 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.