Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi mengatakan pihaknya akan segera melakukan inspeksi nuklir di Iran pada Rabu (24/6). Keputusan ini dibuat setelah Amerika Serikat dan Iran menyelesaikan putaran pertama negosiasi damai.
"Inspeksi nuklir akan dilakukan," kata Grossi dalam konferensi pers di Jepang.
Menurut Grossi, IAEA dan Iran saat ini tengah membahas rincian teknis pelaksanaan inspeksi.
"Kami akan segera membahas mekanismenya—tanggal, prosedur, dan tempat," ujarnya.
Iran belum izinkan inspeksiWakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan, pihaknya belum berencana memberikan akses ke fasilitas nuklir Iran. Menurutnya, persoalan itu baru boleh dibahas jika AS-Iran sudah mencapai kesepakatan final. Selain itu, harus ada langkah nyata pencabutan sanksi terhadap Iran.
Pada Selasa (23/6), Iran menyatakan bahwa IAEA tidak akan diizinkan untuk memeriksa fasilitas nuklir yang pernah jadi sasaran serangan udara Amerika Serikat dan Israel tahun lalu.
Sejak fasilitas nuklirnya dibombardir, Iran belum mengizinkan IAEA mengakses lokasi-lokasi nuklir paling sensitif. Lembaga dunia itu memang masih sempat memeriksa sejumlah fasilitas lain, namun inspeksi dihentikan setelah AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari.
Trump: Iran telah "sepenuhnya sepakat" untuk inspeksiWakil Presiden AS JD Vance sempat menegaskan bahwa Iran telah setuju mengizinkan kembali inspektur IAEA untuk masuk ke negaranya.
Senada dengan wakilnya, Presiden AS Donald Trump pada Selasa (23/6) mengatakan Iran telah "sepenuhnya sepakat" untuk mengizinkan inspeksi nuklir. Ia juga menyebut angkatan laut AS tidak akan memblokade Selat Hormuz lagi.
Uranium diperkaya Iran jadi bahasan dalam negosiasi damaiPada Senin (22/06), AS dan Iran menandatangani 14 poin nota kesepahaman (MoU). Isinya mencakup kesepakatan prinsip untuk mengakhiri perang. Mereka menyepakati peta jalan menuju kesepakatan final dalam 60 hari. Dalam kurun waktu itu, kedua negara akan membahas isu-isu yang lebih rumit, termasuk program nuklir Iran.
Salah satu isu utama yang kini jadi perbincangan adalah uranium Iran yang telah diperkaya hingga 60 persen. Jika mencapai 90 persen, uraniumnya bisa digunakan untuk senjata nuklir.
"Paragraf 8 dalam MoU ini secara eksplisit menyatakan bahwa aktivitas yang berkaitan dengan nuklir akan diawasi oleh IAEA," kata Grossi.
"Dengan begitu, kami harus melakukan inspeksi. Entah lusa, satu minggu lagi, atau 10 hari lagi, inspeksi itu akan dilakukan. Tentu saja dengan restu Iran. Jika tidak, akan ada masalah lain," ujarnya.
Namun, Iran tampak menepis pernyataan Grossi. Wamenlu Iran Gharibabadi mengatakan, izin inspeksi masih bergantung pada kemajuan perundingan. Terutama mengenai pencabutan sanksi terhadap Iran.
"Kegaduhan media tidak dapat digunakan untuk memaksakan fakta di lapangan," tulis Gharibabadi di platform X.
Hingga kini, Iran belum memberi tahu IAEA berapa banyak uranium diperkaya yang masih tersisa setelah serangan tahun lalu. Mereka juga masih merahasiakan lokasi penyimpanannya.
Sebelum serangan Israel pada 13 Juni 2025, IAEA memperkirakan Iran memiliki sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen. Jika diperkaya lebih lanjut, jumlah tersebut diperkirakan cukup untuk memproduksi sekitar 10 senjata nuklir.
IAEA meyakini lebih dari 200 kilogram uranium yang diperkaya hingga tingkat tinggi masih disimpan di kompleks terowongan di Isfahan, Iran tengah. Lokasi tersebut sempat menjadi sasaran serangan, tetapi tidak mengalami kerusakan besar.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Felicia Salvina
Editor: Rizki Nugraha
width="1" height="1" />
(ita/ita)




