8 Tradisi Unik Masyarakat Era Ottoman, dari soal Istri Naik Tangga hingga Hidangan Kopi

republika.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Kesultanan Ottoman didirikan pada 1299 dan berakhir pada 1924. Dengan demikian, kekuasaan Ottoman berlangsung selama lebih dari enam abad dan mencakup wilayah yang sangat luas di Asia, Afrika, dan Eropa.

Masa pemerintahan yang panjang tersebut melahirkan banyak tradisi dan kebiasaan khas Ottoman.

Baca Juga
  • Gagalnya Kemenangan Mutlak Netanyahu yang Merugikan Militer Israel
  • Ilusi Perang Irak, Suriah, Lebanon, dan Iran: Hentikan Segera Israel Raya Jika Ingin Dunia Damai
  • Hubungan Memanas, AS Waspadai Spionase Intelijen Israel hingga Level Membahayakan

Meskipun masyarakatnya terdiri dari beragam suku, budaya, dan agama, terdapat sejumlah kebiasaan yang dipraktikkan secara luas oleh berbagai kelompok yang hidup di bawah pemerintahan Ottoman.

1. Kedermawanan kaum kaya yang menjaga martabat kaum miskin

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Kalangan kaya pada masa Ottoman dikenal sangat dermawan. Namun, mereka berusaha membantu orang miskin tanpa membuat penerimanya merasa malu atau berutang budi secara langsung.

Salah satu caranya adalah dengan mendatangi toko kelontong, pedagang sayur, atau tempat usaha lainnya yang biasa memberikan utang kepada pelanggan.

Mereka kemudian meminta buku catatan utang dan diam-diam melunasi sebagian atau seluruh utang beberapa orang tanpa menyebutkan identitas mereka.

Akibatnya, orang-orang miskin sering kali mendapati utang mereka telah lunas tanpa mengetahui siapa yang membayarnya. Dengan cara ini, mereka terbebas dari beban utang tanpa harus merasa rendah diri atau sungkan kepada para dermawan.

 

Arsitektur peninggalan Ottoman - (republika)

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gempa Susulan Masih Terjadi di Palu, Warga Masih Tidur di Luar Rumah karena Trauma
• 6 menit lalusuarasurabaya.net
thumb
"Susah kalau Semua Harga Mahal" Cerita Ojol Beralih Pertalite Setelah Pertamax Naik
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Seskab: Ada 5.000 Jembatan yang Ditargetkan Rampung Pembangunannya Akhir 2026
• 11 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Dokter Ingatkan Mata yang Sering Berair Bisa Menjadi Tanda Mata Kering
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Gempa M6,8 Guncang Jepang, BMKG Sebut Tak Berpotensi Tsunami di Wilayah Indonesia
• 12 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.