Matahari Sebagai Pusat Tata Surya: Karakteristik, Suhu, dan Teori Pendukungnya

medcom.id
2 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Tata surya adalah sekumpulan benda langit yang tersusun dari planet yang memutari matahari, komet, asteroid, dan benda langit lainnya. Pusat tata surya adalah sebuah bintang kuning yang disebut Matahari.
 
Matahari tersusun dari gas hidrogen, helium, dan senyawa lainnya seperti besi, nikel, silikon, sulfur, magnesium, karbon, neon, kalsium, dan kromium. Ilmuwan percaya matahari terbentuk dari sekumpulan gas dan debu yang berputar, kemudian membentuk nebula dan berubah menjadi matahari. 
 
Diameter matahari sebesar 1.392.684 kilometer, 109 kali lipat dari diameter bumi, dan massa matahari sebesar 1,989 x 10 pangkat 30 kilogram, atau setara dengan 330.000 kali massa bumi. Besarnya matahari ini membuat ia menjadi objek terbesar sekaligus jantung tata surya. 
 
Matahari adalah benda di tata surya yang menghantarkan panas ke bumi. Panas inti matahari 40.000 kali lebih panas dari air mendidih, atau sekitar 15 juta derajat celcius. Sedangkan untuk permukaan matahari berada di sekitar 5.500 derajat celcius. 
 
Meskipun panasnya luar biasa, jarak antara matahari dengan bumi adalah 93 juta mil. Sehingga ketika panas matahari sampai ke bumi, hanya terasa cukup hangat ketika sampai di bumi. 

Karena jaraknya yang jauh, diperlukan waktu 8 menit 19 detik untuk cahaya matahari sampai ke bumi. Menurut NASA, jika ingin mengikuti besarnya energi matahari yang diberikan kepada bumi, diperlukan 100 miliar ton dinamit/detik untuk diledakkan. 
 
Ada dua teori terkait pusat tata surya, yakni: Teori Geosentris Teori ini diumumkan oleh Claudius Ptolomeus, seorang ilmuwan dari Yunani yang mengatakan bumi adalah pusat tata surya, atau yang disebut sebagai teori geosentris. Hal ini diungkapkan karena jika sedang melihat benda-benda langit, terasa benda-benda tersebut bergerak mengelilingi bumi. 
 

Baca Juga :

Mengenal Urutan Planet dalam Tata Surya, Dari yang Terdekat hingga Terjauh dari Matahari 
Teori Geosentris ini dipercayai oleh ilmuwan lain seperti, Socrates, Plato, Aristoteles, Tales, Anaximander, dan Phytagoras. Di masa ini urutan planet dibaca mulai dari bumi sebagai pusat tata surya.
 
Pada akhirnya teori ini dipatahkan karena tidak bisa menjelaskan fenomena di mana matahari dan bulan bergerak mengelilingi bumi, namun planet lain bergerak tidak teratur ke arah timur. Teori Heliosentris  Pada tahun 1543 Nicolaus Copernicus dalam karyanya yang berjudul De Revolutionibus Orbium Coelestium kepada Paus Pope II, menulis hasil penelitiannya bahwa matahari adalah pusat tata surya. 
 
Alasannya Copernicus pada saat itu adalah matahari yang dikelilingi dan menjadi pusat tata surya lebih logis dan indah. Penelitiannya ini kemudian ditolak oleh gereja karena berlawanan dengan pandangan gereja yang menganggap bahwa manusia adalah pusat alam semesta. Marthin Luther bahkan mengolok dan mengatakan bahwa Copernicus sudah gila, karena teorinya tidak sejalan dengan Injil.
 
Namun teori Copernicus mendapat dukungan dari ilmuwan lain, diantaranya adalah Galileo, Kepler, dan Newton. Hingga saat ini teori heliosentris masih diyakini kebenarannya, bahwa matahari adalah pusat tata surya. 
 
Besarnya gaya gravitasi yang dimiliki oleh matahari membuatnya juga memiliki gaya tarik gravitasi yang besar. Bahkan kemampuan gravitasinya bisa membuat planet, asteroid, komet, meteor, meteorit, dan benda langit lainnya mengitari matahari. 
 
Tata Surya terdiri dari berbagai objek langit, mulai dari asteroid, komet, hingga delapan planet utama yang berputar dalam harmoni gravitasi.  Selain planet, tata surya juga memiliki benda langit lainnya, seperti sabuk asteroid, Sabuk Kuiper yang terdapat di bagian terluar, 173 satelit yang berhasil diidentifikasi, lima planet kerdil, serta jutaan benda langit lainnya seperti meteor, komet, asteroid, dan lain-lain.
 
Matahari bukan hanya merupakan pusat tata surya, melainkan juga pusat keseimbangan dalam kehidupan di bumi ini. Sinarnya yang hangat mampu menciptakan sumber daya, membantu tanaman untuk berfotosintesis, hingga menjadi sumber kehangatan yang utama bagi bumi. 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kopdes Merah Putih Jalan Terus Meski Dinodai Meninggalnya Calon Manajer dalam Pelatihan Semi Militer
• 6 jam laludisway.id
thumb
Pabrik Kertas (TKIM) Bagikan Dividen Rp93 Miliar di Akhir Juli
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Panglima TNI Lantik 1.737 Perwira Baru di Akmil Magelang
• 6 jam laluokezone.com
thumb
Hasil Skotlandia vs Brasil: Vinicius Junior Menggila, Selecao Sikat Tartan Army dan Kunci Juara Grup C
• 15 jam lalumedcom.id
thumb
Hasil Piala Dunia 2026 Brasil vs Skotlandia 3-0: Vini Jr Brace, Neymar Comeback! 
• 16 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.