Dalam acara konferensi pers di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (25/6), grup yang digawangi Tria, Qibil, Alda, Dipa, dan Erick itu turut membagikan proses kreatif di balik album Wow Ma.
“Ya kalau, tadi pertanyaannya semakin karya kita udah 20 tahun, dan kita selalu menciptakan karya yang apa yang kita suka. Apa yang kita alami di masa sekarang ini. Tanpa harus merelate-relatekan dengan keadaan gitu,” kata Dipa. Ciptakan Lagu yang Mudah Dibawakan Bassist tersebut menambahkan bahwa trek-trek dalam album Wow Ma sengaja dibuat dengan aransemen yang lebih sederhana agar mudah dibawakan di atas panggung.
Menurutnya, pendekatan ini menjadi semacam upaya kembali ke akar bermusik The Changcuters. Terutama setelah mereka berstatus sebagai band independen yang memiliki kebebasan lebih besar dalam proses kreatif, mulai dari rekaman hingga mastering.
Baca Juga :
The Changcuters Punya Aturan Baru Imbas Pingsannya Tria di Panggung“Jadi, di album ini memang bener-bener kayak, ‘Oh yaudah. Kita bikin ini.’ Kayak tadi kata Qibil, kita kayak back to origin. Kita bikin lagu itu gampang dibawain di panggung gitu. Hal-hal yang lebih simple. Tanpa harus ngejelimet gitu,” ungkap Dipa.
“Kalau secara penciptaan, kayaknya dari awal The Changcuters itu emang sebenernya harusnya kerasa sih. Itu, ya, emang seperti itu. Bahkan, di Sony Music juga kita tidak pernah apa ya, diatur-atur lah gitu,” tambahnya.
Dipa bahkan menilai bahwa The Changcuters sudah lama tidak terlalu memikirkan formula lagu hit. Ia menyebut "Main Serong" sebagai salah satu lagu terakhir mereka yang benar-benar meledak di pasaran. Tidak Lagi Berorientasi pada Lagu ‘Hit’ Qibil turut mempertebal pernyataan terakhir Dipa terkait lagu hit. Ia setuju bahwa The Changcuters sudah tidak lagi berorientasi pada single yang berpotensi untuk menembus pasar mainstream.
“Kalau kita, sih, udah berhenti, apa namanya, mikirin bikin hits atau enggak itu dari album tiga. Udah ‘ah dont care lah’ dengan hits gitu,” ujarnya.
Baca Juga :
Tria The Changcuters Alami Hilang IngatanMusisi yang akrab disapa Kapten Qibil itu mengatakan bahwa kini mereka lebih fokus menciptakan lagu yang lahir dari ketulusan serta pengalaman hidup yang sedang dijalani.
“Kita ini semuanya penyuka musik gitu. Bukan orang-orang yang tiba-tiba sukanya musik yang gimana gitu. Tapi emang menyukai musik yang enakeun gitu. Jadi kita pun berusaha untuk bikin musik yang enakeun gitu,” ucap Qibil.
“Dan pada saat (buat lagu) tujuannya untuk bikin hits, kayaknya terlalu muluk-muluk,” nilainya.
Anggap Lagu 'Hit' Sebagai Bonus
Qibil menegaskan bahwa popularitas bukan lagi ukuran utama keberhasilan sebuah album bagi The Changcuters. Jika ada lagu yang meledak di pasaran, mereka menganggapnya sebagai bonus.
“Maksudnya, apalagi kita udah band berusia 22 tahun gitu, ya kita sih bikin album itu, ya Alhamdulillah. Kalau hits, ya itu bonus aja gitu,” anggapnya.
Meski tak lagi menjadikan lagu hit sebagai target utama, The Changcuters tetap serius dalam mempromosikan karya-karya mereka. Qibil mengatakan bahwa bandnya terus beradaptasi dengan perkembangan cara promosi musik yang berubah dari waktu ke waktu.
“Tapi kita juga tetap berusaha sih. Gimana sih caranya mempromosikan album, mempromosikan lagu dengan sendiri gitu. Sekarang tuh budayanya gimana sih mempromosikan single itu, kita tetap turn up. Ya, cuma kalau tujuannya bikin hits dan lain sebagainya, kita sudah melakukan itu sejak 2011,” pungkasnya.
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)





