jpnn.com, DENPASAR - Program pemberdayaan masyarakat di sekitar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) mulai membuahkan hasil nyata dalam mendorong kemandirian ekonomi.
Pengelola KEK Kura Kura Bali resmi menjadikan Festival Penjor Desa Serangan sebagai ruang praktik lapangan bagi para remaja setempat setelah mendapatkan pembekalan manajemen acara.
BACA JUGA: Dorong KEK Kura-Kura Bali jadi Katalisator Teknologi, Airlangga: Ini Baby Step Indonesia
Peralihan peran pengelolaan ini dikonfirmasi oleh Kepala Departemen Komunikasi PT Bali Turtle Island Development (BTID)—selaku pengelola KEK Kura Kura Bali—Zefri Alfaruqy, di Denpasar pada Kamis (25/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk melatih kemampuan manajerial generasi muda.
BACA JUGA: Transformasi Pariwisata Bali, Pemerintah Pacu Percepatan KEK Sanur dan KEK Kura-Kura
“Jadi beberapa tahun belakangan kami mempunyai program event management, nah festival penjor ini salah satu pembekalannya. Sebelumnya kami yang menyelenggarakan festival, tapi tahun ini sudah yowana (kelompok pemuda),” kata Zefri.
Pengelola KEK Kura Kura Bali itu menjelaskan pada gelaran festival ketiga akhirnya para yowana desa mampu bergerak menggali potensi ekonomi dari agenda budaya seperti itu.
BACA JUGA: Menko Airlangga: KEK Kura-Kura Bali Serap Investasi Rp 104,4 Triliun & 100 Ribu Tenaga Kerja
Terbukti secara mandiri mereka mampu mengantongi 10 perusahaan sebagai sponsor acara, di depan Pura Sakenan kini terpasang lima penjor megah yang dibuat dengan modal masing-masing Rp8 juta hingga Rp10 juta dan akan diperlombakan.
“Dua kali festival penjor sebelumnya memang 100 persen dari kami, nah yang ketiga ini karena sudah dibekali akhirnya pemuda pemudi Serangan dapat 10 sponsor cari sendiri, sekarang mereka bisa melihat potensi-potensi yang bisa dikerjasamakan,” ujar Zefri.
Lebih jauh, ketika para generasi muda di Pulau Serangan mampu membaca peluang ekonomi kawasan, KEK Kura Kura Bali tidak menutup kemungkinan menggandeng mereka dalam pembangunan.
“KEK kan pembangunannya terus berlangsung selama 25 tahun ke depan, seperti kalau mereka melihat kesempatan-kesempatan ekonomi misalnya, kami butuh sesuatu dan mereka jadi vendornya bisa saja, apalagi mereka bisa seni dan kreatif,” katanya.
Festival Penjor Desa Serangan sendiri hadir pertama kali tahun 2025 lalu, di mana semangat itu muncul dari pihak KEK Kura Kura Bali yang melihat penjor kreasi sedang menjadi tren, dibarengi keinginan untuk berkontribusi pada Puja Wali Pura Dalem Sakenan di Hari Raya Galungan dan Kuningan.
Tiang bambu melengkung yang dihiasi janur dan hasil bumi sebagai sarana upacara keagamaan itu menjadi sorotan, bahkan banyak wisatawan sengaja datang ke Bali di periode Hari Raya Galungan dan Kuningan demi melihat penjor secara langsung.
Zefri berharap berangkat dari festival penjor, masyarakat Desa Serangan dapat memotret peluang-peluang lain khususnya yang dapat mendukung perekonomian.
Jro Bendesa Desa Adat Serangan I Nyoman Gede Pariatha menyampaikan dalam festival itu lima banjar terlibat yaitu Banjar Dukuh, Banjar Peken, Banjar Ponjok, Banjar Kawan, dan Banjar Kaja.
Menurut dia, festival penjor tersebut bukan hanya soal ekonomi dan estetika namun bagaimana melahirkan generasi muda desa yang kompak juga teguh memegang pakem filosofis yang melambangkan ungkapan rasa syukur dan kemakmuran kepada alam semesta.
“Tujuan utama kita adalah Pujawali Pura Sakenan, yang kedua bagaimana anak-anak muda ini menunjukkan kreativitasnya sekaligus menjaga nilai-nilai budaya yang ada, perkembangan terjadi, penjor ada aksesorisnya ini menjadi sebuah ajang menunjukkan kreativitas anak-anak muda,” ujar dia.(antara/jpnn)
Redaktur & Reporter : Budianto Hutahaean




