JAKARTA, KOMPAS.com - Suara klakson kendaraan pribadi saling bersahutan setiap pagi dan sore hari di pusat Kota Jakarta.
Kemacetan masih menjadi pemandangan sehari-hari, meski moda transportasi umum yang melintas di jalur yang sama kerap terlihat lengang.
Padahal, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta terus menggencarkan pembangunan transportasi umum guna mengatasi kemacetan dan mempermudah mobilitas warga.
Bahkan, konektivitas transportasi umum di wilayah Jakarta dan sekitarnya diklaim telah mencapai 93 persen.
Baca juga: Pemilik KTP Non-DKI Bisa Nikmati Transportasi Umum dan Wisata Gratis Saat HUT Jakarta
Dengan ketersediaan tersebut, seharusnya masyarakat dapat bepergian tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi.
Namun faktanya, sebagian besar warga Jakarta masih memilih menggunakan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor.
Salah satunya adalah Krisna (24), karyawan swasta yang setiap hari mengandalkan sepeda motor Honda Beat miliknya untuk berangkat kerja.
Ia menempuh perjalanan sejauh 45 kilometer dari rumahnya di Tangerang menuju kantornya di Jakarta Utara.
Krisna mengaku sebenarnya ingin menggunakan transportasi umum, tetapi berbagai pertimbangan membuatnya belum beralih.
Baca juga: BTN JAKIM 2026 Digelar 13–14 Juni, Peserta Diimbau Gunakan Transportasi Umum
"Karena sebenarnya saya ingin naik transportasi umum, cuma karena pekerjaan membutuhkan mobilitas tinggi dan jarak dari tempat kerja ke rumah lumayan jauh, jadi saya lebih memilih naik motor," tutur dia saat ditemui Kompas.com di kawasan Jakarta Utara, Kamis (25/6/2026).
Pilih Terjebak Kemacetan
Krisna menyadari risiko menggunakan kendaraan pribadi adalah terjebak kemacetan.
Namun, waktu tempuh dinilai tetap lebih singkat dibandingkan menggunakan transportasi umum.
Jika menggunakan Transjakarta atau KRL Commuter Line, waktu perjalanan bisa mencapai dua jam karena harus berpindah-pindah moda dari halte ke stasiun.
Sementara dengan sepeda motor, waktu tempuhnya sekitar 1,5 jam meski harus menghadapi kemacetan.