Adopsi Melaju, AI Dituntut Menghasilkan Dampak Nyata

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Setelah melampaui masa hype atau euforia artificial intelligence, perusahaan kini mulai menuntut pemanfaatan akal imitasi alias AI yang benar-benar memberi dampak positif terhadap produktivitas, pendapatan, efisiensi biaya, dan kualitas layanan.

Namun, untuk berhasil, perusahaan dinilai perlu menata ulang cara kerja, memperkuat infrastruktur data, dan menempatkan kecerdasan buatan sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar proyek teknologi dan informasi.

Presiden Direktur HP Indonesia Juliana Cen mengatakan, tingginya tingkat penggunaan AI belum otomatis berarti penggunaan itu telah memberi manfaat optimal.

Menurut dia, tantangan perusahaan saat ini adalah memastikan AI tidak hanya menjadi fitur tambahan, tetapi benar-benar menghilangkan hambatan kerja dan memperbaiki kinerja organisasi.

Juliana menyebut, berdasarkan HP Work Relationship Index 2025, sebanyak 94 persen pekerja pengetahuan (knowledge worker) di Indonesia telah menggunakan AI dan sekitar separuh di antaranya memakai AI setiap hari.

Data dari AWS dan Strand Partners dalam laporan Unlocking Indonesia’s AI Potential pun menunjukkan 18 juta bisnis di Indonesia telah mengadopsi AI. Sayangnya, hanya 10 persennya yang bisa menghasilkan kontribusi nyata pada transformasi bisnis atau menciptakan produk baru.

”Jadi, apakah penggunaannya benar-benar memberikan dampak yang lebih baik? Itu yang masih belum banyak terlihat,” kata Juliana dalam acara HP Elevate yang digelar di Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Menurut Juliana, momentum adopsi AI di Indonesia perlu diikuti dengan peningkatan keterampilan. HP, kata dia, menyiapkan program skilling melalui HP IDEA dan akan meluncurkan lebih banyak guru AI di Indonesia untuk membantu pekerja, pelaku usaha kecil dan menengah, serta pelajar memahami pemanfaatan AI.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah organisasi membutuhkan AI, melainkan bagaimana AI bisa menghasilkan ROI lebih cepat.

Baca JugaDampak AI pada Ritel Sangat Besar

Senior Vice President and Managing Director Asia Pacific HP Mike Boyle mengatakan, Indonesia menjadi salah satu pasar dengan tingkat adopsi AI yang sangat tinggi. Ia menyebut hampir seluruh pekerja pengetahuan di Indonesia telah memanfaatkan AI dalam pekerjaan mereka.

”Jadi, saat ini bukan lagi soal hype adopsi AI, melainkan bagaimana menghasilkan output nyata,” ujar Boyle.

HP memperkirakan AI dapat memberi kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia. Pada 2030, nilai keluaran ekonomi yang dapat didorong oleh AI diperkirakan mencapai 366 miliar dolar AS atau sekitar 12 persen dari produk domestik bruto Indonesia.

Boyle mengatakan, masa depan kerja akan semakin ditandai oleh kehadiran AI sebagai kolaborator. AI diharapkan membantu manusia mengubah gagasan menjadi tindakan dengan lebih cepat. Dampaknya akan terlihat dalam berbagai sektor, termasuk tiga sektor yang menurut dia akan mendapat dampak terbesar, yakni ritel, kesehatan, dan perjalanan.

Di sektor ritel, AI dapat membantu perusahaan memahami kebutuhan dan tujuan konsumen dengan lebih baik. Di bidang kesehatan, AI dapat membantu meningkatkan akurasi sistem dan mendukung hasil layanan bagi pasien. Dalam perjalanan lintas negara, teknologi biometrik dan AI dapat membuat pengalaman penumpang lebih lancar, aman, dan efisien.

”AI dapat menyederhanakan proses dan pengalaman yang lebih memudahkan bagi pengguna,” kata Boyle.

Merealisasikan potensi

Guru Besar Sistem Informasi BINUS University Meyliana mengatakan, penerapan AI di Indonesia sedang bergerak dari fase eksperimen menuju realisasi nilai. Pada tahap awal, AI banyak dipahami melalui chatbot dan analitik prediktif. Kini, perusahaan mulai menuntut AI yang dapat memberi manfaat langsung bagi bisnis.

Baca JugaAI Makin Terjangkau, Investasi di Indonesia Bisa Lebih Optimal

Menurut Meyliana, tingkat kematangan tiap industri tidak sama. Sektor perbankan dan teknologi finansial relatif lebih maju karena memiliki data yang kuat dan kebutuhan analisis yang tinggi. Di sektor manufaktur, AI mulai digunakan untuk pemeliharaan prediktif, inspeksi, dan pengembangan pabrik cerdas.

Kendati demikian, sebagian industri masih menghadapi keterbatasan data, talenta, dan investasi.

”Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah organisasi membutuhkan AI, melainkan bagaimana AI bisa menghasilkan ROI (return on investment) lebih cepat,” ujar Meyliana.

Keberhasilan penerapan AI dinilai tidak ditentukan oleh teknologi semata. AI dinilai perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi organisasi, bukan sekadar proyek teknologi informasi.

Meyliana mengatakan, penerapan AI harus dimulai dari masalah bisnis yang jelas. Setelah itu, organisasi dapat menentukan data, infrastruktur, proses, dan bentuk kolaborasi manusia dengan AI yang paling tepat.

”Kalau mau mengimplementasikan AI, mulailah dari masalah bisnis, bukan dari teknologi,” ujar Meyliana.

Managing Director Accenture AI & Data Budiono mengatakan, banyak perusahaan telah mengadopsi AI, tetapi belum mampu membawanya ke skala yang lebih besar.

Baca JugaAI Lebih Banyak Digunakan untuk Tujuan Tak Produktif

Ia merujuk pada riset MIT tahun 2025, bertajuk ”The GenAI Divide” yang menyebut hanya sekitar 5 persen inisiatif AI generatif yang menghasilkan dampak positif secara langsung terhadap pendapatan perusahaan.

Artinya, hampir sebagian besar inisiatif AI yang diterapkan perusahaan gagal meningkatkan pendapatan.

Budiono menilai perusahaan perlu menata ulang cara kerja, bukan sekadar menempelkan AI pada proses bisnis sebelumnya. Perubahan dapat menyentuh model bisnis, cara pencarian produk, layanan pelanggan, hingga otomatisasi pengiriman layanan.

”Kalau prosesnya tidak ditata ulang, dampaknya tidak akan besar,” kata Budiono.

Hambatan

Vice President Business Integration & Strategic Parenting Telkom Indonesia Fauzan Feisal mengatakan, Telkom telah memakai AI sejak 2023. Menurut dia, pada level konsumen, adopsi AI memang berlangsung cepat, tetapi penerapan AI di perusahaan masih dihadapkan pada berbagai hambatan yang tidak selalu terlihat.

Fauzan menyebut, lebih dari 200 use case AI yang diterapkan pernah gagal. Salah satu pengalaman awal Telkom adalah pengembangan layanan chat berbasis AI yang diuji tiga bulan di laboratorium, tetapi kemudian mengalami gangguan dalam waktu 36 jam setelah digunakan karena menerima berbagai variasi permintaan yang tidak sesuai dengan rencana dari pengguna.

Menurut Fauzan, pihaknya kini mengarahkan kembali inisiatif AI di tingkat grup Telkom menuju pendekatan AI-native. Artinya, alur kerja dibangun dengan AI sebagai bagian inti sejak awal, bukan hanya alur kerja lama yang ditambahi AI.

Ia menilai kepercayaan karyawan terhadap AI menjadi ukuran penting. Tahun ini, salah satu metrik Telkom adalah human trust, di mana para karyawan mempercayai dan dapat menggunakan AI.

Target akhirnya tetap berkaitan dengan pertumbuhan pendapatan, peningkatan produktivitas, dan optimalisasi belanja modal.

Fauzan mengatakan, perusahaan tidak bisa menunda terlalu lama. Menurut dia, AI sudah menjadi bagian dari perubahan cara berbisnis pada saat ini. ”Sekaranglah waktunya,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Link Live Streaming Curacao vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026, Kick-off Pukul 03.00 WIB
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Prabowo Minta Percepat Pengembangan Industri Farmasi hingga Mobil-Motor Nasional
• 20 jam lalukatadata.co.id
thumb
Rekomendasi Saham Hari Ini: Ada TINS hingga TOWR
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Bahlil Bakal Bahas Harga Gas Industri dengan PGN
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Sidang Perdana, Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Mengaku Idap Stroke Mata
• 21 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.