JAKARTA, KOMPAS.com - Deretan bus Transjakarta, KRL Commuterline, MRT, hingga LRT, sudah siap siaga mengantar perjalanan warga Jakarta bahkan sebelum matahari sepenuhnya terbit.
Berbagai jenis transportasi umum (transum) itu disediakan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta agar mempemudah mobilitas warga setiap harinya.
Bukan hanya jumlah moda transportasi yang diperbanyak, wilayah cakupannya pun juga ikut diperluas.
Namun, untuk sebagian warga, keberadaan transportasi umum belum cukup untuk membuat mereka meninggalkan kendaraan pribadi.
Meski harus menghadapi kemacetan hampir setiap hari, banyak yang tetap memilih mengemudi sendiri karena menganggap perjalanan dengan transportasi umum justru lebih panjang, melelahkan, dan menyita waktu.
Baca juga: HUT Ke-499 Jakarta, Pengamat Sentil Klaim Pramono soal Transportasi: Trayek Ada, Busnya Mana?
Tetap terjebak macetSalah satu pengendara motor bernama Krisna (24) mengaku, alasannya malas naik kendaraan umum seperti Transjakarta atau Jaklingko adalah tetap terjebak kemacetan.
Hal itu disebabkan karena banyak kendaraan pribadi yang masuk ke jalur Transjakarta, sehingga kemacetan tetap tidak terurai.
"Iya, jadi tetap macet. Kecuali untuk rute seperti Puri Beta ke Kuningan yang jalurnya berada di atas (layang), sehingga tidak ada kendaraan lain yang masuk dan perjalanannya cepat," ucap dia ketika ditemui di kawasan Jakarta Utara, Kamis (25/6/2026).
Jika sudah terjebak kemacetan di dalam Transjakarta yang penuh, tenaganya sangat terkuras habis.
Sedangkan jika terjebak kemacetan di atas sepeda motor, ia tetap bisa salip menyalip, sehingga waktu tempuh untuk sampai ke tujuan juga jauh lebih cepat.
Oleh karena itu, Krisna berharap, agar ke depannya jalur Transjakarta benar-benar dibuat steril dari kendaraan lain agar perjalanannya tetap lancar dan tidak terjebak kemacetan seperti kendaraan pribadi.
Di sisi lain, keberadaan dari aparat kepolisian atau petugas Transjakarta untuk menjaga jalur tersebut benar-benar sangat dibutuhkan.
Sebab jika tidak dijaga, maka pengendara tetap saja akan nekat menerobos jalur Transjakarta tersebut.
Pengendara motor dan mobil bernama Putri (30), juga enggan naik transum karena tak menjamin terbebas dari kemacetan.
"Belum lagi kalau naik Transjakarta tetap kejebak macet juga, karena banyak kendaraan pribadi yang masuk ke jalurnya, ujungnya kita kejebak macet juga, mendingan naik motor deh bisa salip menyalip," ucap dia ketika ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis.
Baca juga: Pramono: Jakarta Masih Macet, tapi Transportasi Umumnya Lebih Aman dan Nyaman





