Volatilitas pasar saham Indonesia masih berada pada level tinggi meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.
IDXChannel - Volatilitas pasar saham Indonesia masih berada pada level tinggi meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi setelah sempat tertekan dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi ini membuat investor dinilai perlu tetap berhati-hati, sembari menjaga peluang investasi ketika pasar kembali membaik.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Novani Karina Saputri dalam riset yang terbit Jumat (26/6/2026) menyebutkan, IHSG masih menghadapi tekanan akibat ketidakpastian global dan domestik.
Hingga 24 Juni 2026, IHSG tercatat mengalami koreksi sekitar 32 persen secara tahunan berjalan (year to date/YTD) dan turun 4 persen secara bulanan (month to date/MTD), mencerminkan tingginya gejolak pasar belakangan ini.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan dengan perdagangan di atas level Rp17.900 per USD.
Kondisi tersebut menunjukkan risiko eksternal serta sikap hati-hati investor asing terhadap pasar negara berkembang masih belum sepenuhnya mereda.
Menurut Novani, pergerakan pasar saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen investor dan faktor eksternal dibandingkan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia.
Ketidakpastian arah suku bunga global, arus modal asing, serta perkembangan geopolitik masih menjadi faktor utama yang membentuk perilaku investor dan meningkatkan volatilitas pasar.
Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat. Ketahanan tersebut didukung oleh permintaan domestik yang stabil serta pengelolaan kebijakan ekonomi yang relatif prudent, sehingga memberikan fondasi positif bagi prospek pasar dalam jangka menengah hingga panjang.
Di tengah ketidakpastian yang masih tinggi, kata Novani, pendekatan investasi yang lebih defensif menjadi semakin relevan.
Ia menyarankan investor mempertahankan alokasi yang seimbang antara aset berisiko seperti saham dan instrumen dengan risiko lebih rendah.
Pada instrumen pendapatan tetap, investor dapat lebih selektif dengan memilih portofolio berjangka pendek hingga menengah yang memiliki kualitas penerbit baik.
Strategi tersebut dinilai dapat membantu mengurangi sensitivitas terhadap perubahan suku bunga sekaligus menjaga ketahanan portofolio ketika pasar masih berfluktuasi.
Selain itu, Novani menilai pengelolaan likuiditas perlu menjadi prioritas investor saat ini. Reksa dana pasar uang dapat menjadi salah satu alternatif untuk menjaga likuiditas sekaligus melakukan diversifikasi portofolio.
"Dengan risiko yang relatif rendah, likuiditas tinggi, serta potensi imbal hasil yang kompetitif dibandingkan deposito perbankan, reksa dana pasar uang dapat membantu mempertahankan nilai aset sekaligus memberikan fleksibilitas bagi investor untuk kembali masuk ke aset berisiko ketika peluang investasi mulai terbuka," ujarnya. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.





