Jarum jam baru menunjukkan pukul 04.00 WIB, matahari pun belum menyingsing di ufuk Jakarta, tetapi kesibukan sudah memecah keheningan di Brigif 1 Marinir Cilandak, Jakarta Selatan. Ratusan peserta pelatihan sudah bangun dan bersiap-siap menembus dinginnya embun pagi.
Mereka, para calon manajer Koperasi Desa Merah Putih, beranjak dari barak-barak prajurit yang tengah ditinggal bertugas pemiliknya. Di ruangan berdinding putih itu, dua tumpuk ranjang besi tersusun dan berjajar rapi.
Di depan ranjang mereka terdapat lemari. Koper ditumpuk tepat di atasnya. Suasana itu menjadi saksi bisu transisi mendadak para penghuninya, dari warga sipil pekerja kantoran menjadi ”pasukan” semi-militer.
Bagi Bintan Puturay (33), rutinitas barunya adalah sebuah lompatan drastis. Selama delapan tahun terakhir, hari-harinya dihabiskan di balik meja dengan ruangan dingin sebagai pegawai di sejumlah bank nasional dan perusahaan swasta. Kini, pria asal Sumedang, Jawa Barat, itu harus membiasakan diri dengan embun pagi, berbagi kamar mandi, hingga memahami materi.
Kedisiplinan ditegakkan tanpa kompromi. Peserta yang datang terlambat apel harus rela menebus kesalahannya dengan hukuman jalan jongkok bersama-sama. Hujan deras pun bukan alasan untuk menghentikan latihan.
Saat air tumpah dari langit, aktivitas para calon manajer koperasi itu digeser ke area yang teduh. Mereka harus bisa mendengar dan memahami materi yang disampaikan meski suara para pelatih kerap tertelan riuh hujan. Kondisi tersebut menuntut mereka untuk fokus dan berkomunikasi ke rekannya ketika tak mendengar beberapa materi.
”Awal-awalnya kaget juga. Kenapa ada latihan militernya, tujuannya apa?” tutur Bintan saat ditemui di sela-sela pelatihannya di Brigif 1 Marinir Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (25/6/2026).
Pas medical check-up cukup detail soalnya kami masuk satu per satu ke dalam ruangan. Per orang kemarin saya dapat kalau enggak salah dua sampai tiga menit, ya, untuk pemeriksaan jantung.
Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai melihat makna di baliknya. Rutinitas harian hingga hukuman fisik ringan, seperti push-up, dimaknainya sebagai upaya mempererat solidaritas, sekaligus menyehatkan badan. ”Sakit satu sakit semua, senang satu senang semua,” kata Bintan.
Hal senada dirasakan William Tinting (25), perantau asal Sulawesi Selatan yang sebelumnya bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. William, yang memang gemar berolahraga, menjadikan jadwal padat dari pukul 04.30 hingga 21.30 sebagai tantangan untuk mendisiplinkan diri.
Di luar tempaan fisik, materi kelas yang diberikan pun dirasa membuka wawasan baru. Bintan mencontohkan materi navigasi darat dan pembacaan peta manual.
”Titik koperasi itu, kan, tidak semuanya di kota. Ada yang di pelosok yang susah sinyal. Jadi, kita diedukasi bahwa tidak semua alat elektronik bisa diandalkan,” ujar Bintan.
Terdapat 674 orang yang seluruhnya laki-laki menerima pelatihan di Brigif 1 Marinir Cilandak. Mereka dibagi ke dalam empat kompi. Setiap kompi dibagi ke dalam beberapa kelas yang kepemimpinannya disusun bak militer.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Rico Sirait mengatakan, pendidikan dan pelatihan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) tahun 2026 diikuti oleh 35.476 peserta.
Mayoritas, yakni 30.000 orang, disiapkan untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), sedangkan 5.476 lainnya untuk Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Pelatihan masif ini disebar di 67 lembaga pendidikan jajaran Kemenhan dan TNI di seluruh penjuru Tanah Air.
”Program ini berlandaskan UUD 1945, UU tentang Pertahanan Negara, serta UU tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional. Pelatihan berorientasi pada pembentukan karakter, kepemimpinan, disiplin, dengan prinsip tanggap, tanggon, dan trengginas,” jelas Rico.
Selintas, desain latihan dasar kemiliteran ini tampak seperti formula ideal. Komandan Batalyon Latihan Brigif 1 Marinir Cilandak Letnan Kolonel (Mar) Agus Mutaqim menyebut pelatihan di barak militer bertujuan menanamkan jiwa korsa agar kelak para manajer memegang integritas di lapangan.
Akan tetapi, realitas di barak dan lapangan tidak selalu selaras dengan ambisi di atas kertas. Standardisasi fisik yang dipukul rata bagi puluhan ribu warga sipil itu menyimpan ironi yang akhirnya berujung tragedi. Tiga peserta di satuan pendidikan lain meninggal di tengah pelatihan dasar kemiliteran.
Peserta calon manajer yang meninggal adalah Anisa Muyassaroh di Balikpapan akibat heat stroke dan henti jantung. Sementara itu, Yonanda Muhammad Taufiq meninggal di Baturaja akibat cardiac arrest dan Novia Rahmadhani Sihotang meninggal di Jakarta setelah menjalani perawatan akibat gangguan kesehatan berkaitan dengan tuberkulosis (TBC).
Tragedi meninggalnya peserta di tengah pelatihan dasar kemiliteran pun memantik polemik di publik. Mereka mempertanyakan bagaimana seleksi kesehatan yang dilakukan dalam rekrutmen manajer KDKMP/KNMP.
Saat ditanya, William menyebut proses seleksi medis (medical check-up/MCU) awal yang dilakukan panitia di tingkat pusat berlangsung selama dua sampai tiga menit per orang. Ia beserta ratusan peserta lainnya diperiksa secara bergantian.
”Pas medical check-up cukup detail, soalnya kami masuk satu per satu ke dalam ruangan. Per orang kemarin saya dapat kalau enggak salah dua sampai tiga menit, ya, untuk pemeriksaan jantung,” ungkap William.
Kasus meninggalnya tiga calon manajer KDKMP membuat pelatih di Brigif 1 Marinir memutar otak untuk meningkatkan proses seleksi kesehatan. Agus Mutaqim mengakui, pihaknya akhirnya turun tangan menyaring ulang riwayat medis, hingga mencoret peserta dengan riwayat asma, hipertensi, atau tuberkulosis dari daftar kegiatan yang membutuhkan ketahanan fisik.
Meski penanganan medis di Cilandak diklaim sigap, nasi telah menjadi bubur bagi tiga nyawa yang melayang di Satdik lain. Kematian mereka menjadi tamparan keras sekaligus memantik pertanyaan mendasar, apakah mencetak manajer koperasi perdesaan mutlak mengharuskan mereka berlatih kemampuan yang menguras fisik?
Menjawab pertanyaan tersebut, Direktur Eksekutif Imparsial Ardi Manto Adiputra menilai rentetan tragedi menjadi bukti nyata bahwa sistem pendidikan militer tak sepatutnya diterapkan serampangan kepada warga sipil. Ia mengatakan, tidak ada korelasi antara profesionalisme kerja mengurus koperasi dengan pelatihan bergaya kemiliteran.
”Pendekatan militeristik ini sangat berpotensi mengikis budaya berpikir kritis dan inovatif, menutup ruang dialog partisipatif yang biasa dijalankan dalam organisasi sipil demokratis,” ucap Ardi.
Alih-alih melahirkan manajer yang solutif, Ardi khawatir nilai kepatuhan, komando, dan hierarki justru mematikan kebebasan berpikir dan berargumentasi saat mereka bertugas di desa kelak. Ardi pun membandingkannya dengan program pendidikan barak militer bagi remaja bermasalah yang pernah diterapkan di Jawa Barat sebelumnya, yang akhirnya juga dihentikan karena dinilai bukan pendekatan yang tepat.
Melihat jatuhnya korban jiwa dan kecacatan konsep tersebut, Imparsial menuntut adanya investigasi dan penegakan hukum yang transparan. Struktur komando penanggung jawab atas pelaksanaan program ini diminta bertanggung jawab secara penuh.
”Program KDMP ini sudah cacat sedari awal dan sebaiknya dihentikan dulu sebelum ada konsep matang yang mengikuti prinsip-prinsip organisasi masyarakat sipil. Termasuk semua program pemerintah yang dijalankan dengan pendekatan militer juga sebaiknya dihentikan,” kata Ardi.





