Dua gempa bumi dahsyat yang mengguncang pantai utara Venezuela, menewaskan lebih dari 180 orang, merupakan fenomena yang dikenal sebagai gempa doblet atau gempa kembar. Peristiwa langka ini menjadi perhatian para ahli karena dua gempa besar terjadi hampir bersamaan sehingga memperbesar kerusakan. Fenomena serupa ternyata pernah terjadi di Indonesia.
Gempa bermagnitudo M 7,2 mengguncang Venezuela pada Rabu (24/6/2026) pukul 18.04 waktu setempat atau Kamis (25/6/2026) pukul 05.04 WIB. Hanya 39 detik kemudian, wilayah yang sama kembali diguncang gempa M 7,5.
Hingga Jumat (26/6/2026), otoritas Venezuela melaporkan sedikitnya 180 orang meninggal dunia, sekitar 1.500 orang terluka, dan ribuan lainnya dinyatakan masih hilang. Kerusakan paling parah terjadi di negara bagian pesisir La Guaira, di utara Caracas, dengan banyak bangunan runtuh dan infrastruktur rusak berat. Tim penyelamat masih mencari korban yang diduga tertimbun reruntuhan.
Besarnya dampak bencana tidak hanya dipengaruhi kekuatan gempa dan kerentanan bangunan, tetapi juga mekanisme gempa doblet yang membuat wilayah terdampak diguncang dua kali oleh gempa besar dalam waktu yang hampir bersamaan.
Dalam seismologi, seperti dijelaskan Chih-Wen Kan dari Pusat Seismologi Biro Cuaca Pusat Taiwan, dalam Geophysical Journal International (2010), gempa doblet adalah sepasang gempa bumi yang memiliki magnitudo hampir sama serta terjadi berdekatan dalam ruang dan waktu.
Ahli gempa dari University of California, Los Angeles (UCLA), Yan Y Kagan, menjelaskan definisi yang lebih rinci. Menurut Kagan, gempa doblet terjadi ketika pusat gempa kedua berada sangat dekat dengan zona patahan gempa pertama dan jeda waktunya jauh lebih pendek dibandingkan siklus pengulangan normal pada sesar tersebut.
”Meskipun tidak sesering gempa bumi biasa yang diikuti gempa susulan kecil, gempa kembar dapat terjadi di mana saja di dunia,” kata Direktur Earthquake Science Center USGS Christine Goulet kepada Associated Press.
Serial Artikel
Jepang Bertahan, Venezuela Hancur: Pelajaran dari Dua Gempa Besar Hari Ini
Dua gempa besar dengan magnitudo hampir sama mengguncang Jepang dan Venezuela dalam selang kurang dari setengah jam, tetapi menghasilkan dampak sangat berbeda.
Berbeda dengan gempa susulan (aftershock) yang umumnya lebih kecil, pada gempa doblet kedua gempa sama-sama merupakan gempa utama (mainshock) dengan magnitudo hampir setara.
Menurut penelitian E Nissen dari Colorado School of Mines dan tim yang dipublikasikan di Nature Geoscience (2016), mekanisme ini terjadi karena gempa pertama tidak hanya melepaskan energi, tetapi juga memindahkan tegangan batuan (coulomb stress transfer) ke segmen sesar lain yang sudah berada di ambang patah.
Akibatnya, segmen sesar kedua yang sebelumnya telah menyimpan tegangan selama puluhan hingga ratusan tahun memperoleh ”dorongan terakhir” hingga akhirnya ikut patah. Karena kedua segmen sama-sama menyimpan energi besar, gempa kedua juga dapat memiliki magnitudo hampir sama dengan gempa pertama.
Tim penyelamat harus menghadapi guncangan besar berulang.
Fenomena ini dapat dianalogikan seperti deretan domino yang sudah hampir roboh. Gempa pertama menjatuhkan domino pertama, lalu dalam hitungan detik memicu runtuhnya domino berikutnya yang sama besarnya.
Karena terjadi hanya dalam hitungan detik, masyarakat praktis tidak memiliki kesempatan untuk pulih dari guncangan pertama sebelum diguncang kembali oleh gempa kedua yang sama kuatnya. Inilah yang membuat gempa doblet berpotensi menimbulkan kerusakan jauh lebih besar dibandingkan satu gempa tunggal dengan magnitudo serupa.
Selain memperparah kerusakan bangunan yang telah melemah akibat guncangan pertama, gempa kedua juga meningkatkan risiko longsor, likuefaksi, runtuhnya bangunan yang semula masih berdiri, hingga menyulitkan proses evakuasi karena tim penyelamat harus menghadapi guncangan besar berulang.
Gempa kembar di Venezuela kali ini menunjukkan kompleksitas sistem patahan di negara tersebut. Kedua gempa terjadi pada batas antara Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan yang bergerak relatif sekitar 2 sentimeter per tahun.
Pergerakan tersebut membentuk sistem Patahan Boconó, salah satu patahan aktif utama di Venezuela yang membentang sekitar 500 kilometer di sepanjang Pegunungan Andes Venezuela.
Menurut Christine Goulet, karakter patahan itu sebanding dengan Patahan San Andreas di California karena sama-sama merupakan patahan geser (strike-slip fault), yakni dua blok batuan bergeser secara horizontal.
Wilayah ini juga pernah mengalami gempa kembar pada September 2025 dengan magnitudo 6,2 dan 6,3 yang merusak wilayah Zulia dan Lara. Sejak tahun 1900, USGS mencatat sedikitnya lima gempa berkekuatan M 7 atau lebih pernah terjadi di Venezuela utara. Gempa paling mematikan terjadi pada tahun 1812 yang diperkirakan menewaskan sekitar 30.000 orang.
Fenomena gempa kembar bukan hal baru bagi Indonesia yang berada di pertemuan Lempeng Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina. Ahli gempa bumi dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menyebut salah satu contoh paling jelas terjadi di Bengkulu pada September 2007.
Gempa pertama berkekuatan M 7,9 mengguncang lepas pantai Bengkulu pada 12 September 2007. Kurang dari 24 jam kemudian, gempa kedua dengan magnitudo yang sama kembali mengguncang wilayah Kepulauan Mentawai.
Meskipun jeda waktunya lebih lama dibandingkan kasus Venezuela sehingga tidak sepenuhnya memenuhi definisi gempa doblet klasik, kedua gempa tersebut memperlihatkan bagaimana patahan besar di zona subduksi Sumatera dapat mengalami kegagalan berantai (cascade rupture).
Menurut Daryono, pada 11 April 2012, barat Aceh juga pernah mengalami gempa kembar dalam waktu berdekatan, yaitu M 8,6 dan M 8,1. ”Gempa saat itu memicu tsunami kecil,” katanya.
Peristiwa serupa terlihat pada rangkaian gempa Lombok tahun 2018. Dalam kurun kurang dari satu bulan, Pulau Lombok diguncang sedikitnya lima gempa besar, yakni M 6,4 pada 29 Juli, M 7 pada 5 Agustus, M 5,8 pada 9 Agustus, serta M 6,9 dan M 6,2 pada 19 Agustus.
Bagi Indonesia, fenomena gempa doblet menjadi pengingat bahwa ancaman gempa tidak selalu berakhir setelah guncangan pertama. Indonesia memiliki banyak sistem sesar aktif dan zona subduksi yang terdiri atas sejumlah segmen patahan yang saling terhubung. Dalam kondisi tertentu, patahnya satu segmen dapat mengubah distribusi tegangan ke segmen lain yang telah berada dalam kondisi kritis sehingga meningkatkan peluang terjadinya gempa besar berikutnya.
Risiko seperti ini terdapat di sejumlah wilayah, antara lain sepanjang zona subduksi Sumatera, megathrust selatan Jawa, kawasan Banda, hingga beberapa sistem sesar aktif, seperti Sesar Sumatera, Palu-Koro, Sorong, dan Flores Back Arc.
Karena itu, para ahli mengingatkan agar masyarakat tidak langsung menganggap bahaya telah berakhir setelah satu gempa besar terjadi. Selama otoritas belum menyatakan kondisi aman, masyarakat perlu tetap berada di area terbuka dan mengantisipasi kemungkinan terjadinya gempa kuat berikutnya, baik berupa gempa susulan maupun, dalam kasus yang lebih jarang, gempa doblet.





