REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melanjutkan pelemahan dalam beberapa hari terakhir. Diprediksi, pada akhir pekan ini, Mata Uang Garuda berpotensi kembali menembus level Rp 18.000 per dolar AS.
“Pagi ini sesuai prediksi rupiah melemah, pelemahannya cukup tajam sebesar 47 poin, diperdagangkan di level Rp 17.990 per dolar AS. Kemungkinan besar di akhir pekan ini rupiah akan menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS,” kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Jumat (26/5/2026).
- PT Suri Nusantara Jaya Jadi Pengusaha Pusat Logistik Berikat, Perkuat Industri Pangan Nasional
- Karya Musisi Dalam Negeri Dominasi 80 Persen Tangga Lagu Spotify
- Berawal dari Konsep Siluman AS, Seberapa Canggih J-20 China hingga Sulit Dideteksi Radar?
Ibrahim menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan terkoreksinya rupiah, baik dari faktor eksternal maupun internal. Faktor eksternal diantaranya adalah data ekonomi AS yang menyokong penguatan indeks dolar AS, sehingga menekan mata uang emerging markets seperti rupiah.
“Memang ada beberapa data yang cukup menguatkan indeks dolar AS. Salah satunya data di AS sendiri, karena tadi malam memang banyak sekali data yang dirilis di AS, yang kita tahu bahwa data tersebut sangat menentukan fluktuasi harga indeks dolar,” tuturnya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Data AS yang dirilis diantaranya, data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I 2026 yang direvisi naik menjadi 2,1 persen secara tahunan, meningkat signifikan dari sebelumnya 1,6 persen. Sementara itu, data pengangguran di AS yang mengalami penurunan. AS merilis, klaim awal tunjangan pengangguran turun 12 ribu menjadi 215 ribu klaim, jauh lebih baik dibandingkan perkiraan ekonom di angka 225 ribu.
Kemudian, data Indeks Harga Pengeluaran Konsumen Pribadi Inti (Core PCE) AS berada di angka 3,41 persen secara tahunan untuk periode Mei 2026, naik dari 3,3 persen pada bulan sebelumnya.
“Data-data ini membuat dolar terjadi gap up, sehingga dolar menguat cukup tajam,” tegasnya.
Indeks dolar AS saat ini terpantau berada di kisaran 101,40—101,50. Secara teknikal, diperkirakan pergerakannya akan menguat ke level 102.
Faktor lainnya yang memengaruhi penguatan indeks dolar adalah spekuasi mengenai kebijakan suku bunga Bank Sentral AS/The Federal Reserve. Kebijakan Bank Sentral AS di bawah kepemimpinan Kevin Warsh dinilai lebih hawkish.
“Spekulasi tentang Bank Sentral AS yang akan kembali menaikkan suku bunga di tahun 2026 dua kali, bulan Juli atau September, kemudian di bulan Desember,” terangnya.
Prediksi tersebut tak terlepas dari pengamatan terhadap data inflasi AS yang terus naik. Juga harga-harga pokok, termasuk gasoline yang mengalami kenaikan. Dikabarkan Presiden AS Donald Trump sudah menunjuk Jaksa Agung untuk melakukan investigasi tentang kenaikan harga.
Diketahui, tingkat inflasi tahunan AS naik menjadi 4,2 persen pada Mei 2026, melonjak dibandingkan bulan sebelumnya di angka 3,8 persen (yoy). Angka tersebut jauh dari target inflasi The Fed sebesar 2 persen.
“Trump mengatakan bahwa pascaperang usai antara AS dan Iran, harga-harga akan kembali stabil, inflasi akan mendekati 2 persen,” ujar Ibrahim.
Sementara itu, dari dalam negeri, Ibrahim menerangkan beberapa sentimen internal yang membuat rupiah mengalami tekanan. Pasar tengah menyoroti berbagai data ekonomi Indonesia, mulai dari data inflasi hingga neraca perdagangan.




