JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Prabowo Subianto disebut ikut memantau kasus meninggalnya tiga peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI), yang dipersiapkan menjadi calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih saat mengikuti latihan dasar militer (Latsarmil).
"Monitor semua dong," ujar Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (26/6/2026), saat ditanya apakah Presiden Prabowo memantau perkembangan kasus tersebut,
Prasetyo mengatakan, pemerintah juga akan mengevaluasi penyelenggaraan pelatihan tersebut apabila ditemukan prosedur yang perlu diperbaiki.
Baca juga: Calon Manajer Kopdes Jalani 30 Hari Latsarmil dan 15 Hari Materi Manajerial
"Kalau evaluasi jelas dong. Kan semua proses kan kita lakukan kalau ada misalnya salah prosedur, oh itu kita perbaiki. Dan kalau salah prosedur itu ada yang mengarah kepada hal-hal kelalaian, ya itu juga bagian dari evaluasi," kata Prasetyo.
Meskipun demikian, Prasetyo mengatakan, pemerintah belum menemukan indikasi adanya kelalaian dalam tiga kasus kematian peserta SPPI tersebut.
Sebab, peristiwa itu terjadi pada hari-hari awal pelaksanaan latihan.
"Saya rasa belum ya, karena kan itu kalau kami dengar laporan itu baru di hari pertama, hari kedua ya. Kita tentunya pertama kita menyampaikan keprihatinan dan duka cita yang mendalam ya. Tapi, mari kita terus untuk memperbaiki gitu," kata dia.
Baca juga: Usai 3 Peserta Meninggal, Latihan Militer Calon Manajer Kopdes Dievaluasi
Prasetyo juga belum dapat memastikan apakah pemerintah akan menghentikan sementara pelaksanaan latihan dasar militer menyusul tiga peserta yang meninggal dunia.
Menurut dia, keputusan tersebut akan bergantung pada hasil evaluasi yang sedang dilakukan.
"Kita lihat hasilnya ya," kata politikus Partai Gerindra itu singkat.
Calon manajer Kopdes meninggalDiberitakan sebelumnya, Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengonfirmasi meninggalnya satu peserta Program SPPI untuk calon pengelola Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), yakni Novia Rahmadhani Sihotang.
Novia meninggal saat mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan Pusat Bahasa Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Udara (Satdik Pusbahasa Kodiklatau) Jakarta.
Baca juga: Calon Manajer Kopdes Meninggal, Anggota DPR Minta Latsarmil Tetap Lanjut, Ini Alasannya
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan, Novia mengalami gangguan kesehatan pada 22 Juni 2026 dan sempat mendapat penanganan dari tim kesehatan satuan sebelum dirujuk ke Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) dr. Esnawan Antariksa.
"Meskipun telah memperoleh perawatan intensif, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia pada 23 Juni 2026. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kondisi kesehatan yang dialami berkaitan dengan penyakit Tuberkulosis (TB)," ujar Rico.
Sebelum Novia, dua peserta SPPI lainnya juga meninggal dunia saat mengikuti Latsarmil.
Baca juga: Anggota DPR Nilai Calon Manajer Kopdes Seharusnya Fokus Pelatihan Manajemen Koperasi
Peserta pertama, Anisa Muyassaroh, mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan Dodikjur Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) VI/Mulawarman, Balikpapan.
Berdasarkan keterangan Kemhan, Anisa meninggal akibat heat stroke.
Sementara itu, peserta kedua, Yonanda Muhammad Taufiq, mengikuti pendidikan di Satdik Pusat Pendidikan dan Latihan Tempur (Puslatpur) Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklatad) Baturaja.
Kemhan menyebut Taufiq meninggal dunia akibat cardiac arrest atau henti jantung.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




