Bisnis.com, JAKARTA — PT Kimia Farma (Persero) Tbk. (KAEF) mempercepat optimalisasi penggunaan bahan baku obat (BBO) dalam negeri, efisiensi operasional, hingga peluncuran produk inovatif berbasis Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tinggi untuk memperkuat fundamental bisnis sepanjang 2026.
Strategi tersebut akan digenjot pada tahun ini untuk meningkatkan daya tahan kinerja di tengah tekanan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian rantai pasok global.
Direktur Utama Kimia Farma Djagad Prakasa Dwialam mengatakan penguasaan rantai pasok dari sisi hulu melalui strategi change of source menjadi salah satu strategi utama perusahaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor yang selama ini masih mendominasi industri farmasi nasional.
"Melalui inisiatif ini, KAEF sedikit demi sedikit akan mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor," ujarnya melalui keterangan tertulis, Jumat (26/6/2026).
Strategi tersebut dinilai penting mengingat lebih dari 95% kebutuhan bahan baku industri farmasi nasional masih bergantung pada impor.
Kondisi itu membuat industri rentan terhadap fluktuasi nilai tukar, kenaikan biaya logistik, hingga gangguan pasokan akibat konflik geopolitik global.
Baca Juga
- Kimia Farma (KAEF) Garap Layanan Kesehatan Lansia di Indonesia, Segini Potensinya
- Siasat KAEF Jaga Kinerja saat Rupiah Tembus Level Rp18.000 per Dolar AS
- KAEF Tunggu Lampu Hijau untuk Keluar dari Holding Farmasi BUMN
Selain mengembangkan industri hulu, Kimia Farma melakukan efisiensi melalui integrasi pengadaan secara terpusat (centralized procurement), transformasi digital, hingga penajaman portofolio produk dengan beralih dari produk berbiaya tinggi menuju produk inovatif bermargin lebih besar.
Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil. Sepanjang 2025, penjualan bahan baku obat domestik dan ekspor Kimia Farma meningkat 124% dibandingkan periode sebelumnya.
"Penguasaan lini hulu, peluncuran produk inovatif, serta capaian TKDN hingga 59% merupakan fondasi utama Kimia Farma saat ini. Dengan struktur biaya yang lebih efisien, perusahaan memiliki daya tahan yang lebih baik menghadapi dinamika ekonomi global," imbuhnya.
Direktur Produksi dan Supply Chain Kimia Farma Hadi Kardoko mengatakan gejolak geopolitik, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah, telah memberikan dampak nyata terhadap industri farmasi melalui terganggunya rantai pasok global dan meningkatnya biaya energi maupun distribusi.
Untuk mengurangi risiko tersebut perseroan juga mengoptimalkan utilisasi fasilitas produksi dan memperkuat industri hulu melalui PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP) di Cikarang yang telah mengantongi Nomor Izin Edar (NIE) untuk bahan baku obat.
Saat ini KFSP telah memproduksi 19 jenis bahan baku obat bersertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), dengan 18 di antaranya juga telah memperoleh sertifikasi halal.
Perkuat Portofolio ProdukSebagai bagian dari optimalisasi kinerja, Kimia Farma juga memperkuat portofolio produk melalui peluncuran empat obat baru yang menyasar kebutuhan terapi prioritas nasional, yakni Fentakaf (Fentanyl Injeksi) sebagai substitusi impor untuk kebutuhan anestesi, Sildenafil untuk terapi kesehatan pria, Pantokaf (Pantoprazole) untuk gangguan lambung, serta Moxifloxacin guna mendukung program penanggulangan tuberkulosis.
Di sisi lain, perusahaan terus meningkatkan kandungan lokal pada sejumlah produk strategis. Obat antiretroviral TLE 300 mg dan 600 mg untuk penanganan HIV telah memiliki nilai TKDN mencapai 52,78%, sedangkan Rosuvastatin untuk terapi penyakit kardiovaskular mencatat TKDN sebesar 59%.
Hingga kuartal I/2026, KAEF membukukan laba bersih sebesar Rp123,6 miliar. Capaian ini berbalik dari periode yang sama tahun sebelumnya, di mana perseroan masih mencatatkan rugi bersih Rp126,4 miliar.





