Densus 88 Anti Teror (AT) Polri menggandeng Pemerintah Kota Cilegon untuk mencegah masyarakat dari pengaruh paham radikal. Langkah ini dilakukan melalui penguatan ketahanan sosial dan wawasan kebangsaan guna mencegah penyebaran paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET).
Kegiatan bertajuk 'Wawasan Kebangsaan: Peran Keluarga dalam Menjaga Keutuhan Bangsa' ini digelar di Hotel Permata Krakatau, Kota Cilegon. Sebanyak 400 peserta yang terdiri dari penyuluh agama, perangkat desa, hingga Bhabinkamtibmas hadir untuk memperkuat peran sebagai benteng utama di tengah masyarakat.
Kepala Satgaswil Banten sekaligus Jubir Densus 88 AT Polri, Kombes Mayndra Eka, menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap propaganda di media sosial. Menurutnya, medsos telah menjadi sarana utama penyebaran paham radikal sejak tahun 2014.
"Media sosial telah menjadi salah satu sarana utama penyebaran propaganda intoleransi, radikalisme, dan terorisme sejak tahun 2014, sehingga pengawasan sekaligus edukasi kepada masyarakat menjadi kebutuhan yang mendesak," kata Mayndra melalui keterangan, Kamis (25/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Mayndra juga berbicara tentang fenomena anak yang berhadapan dengan hukum akibat masuk dalam kelompok seperti True Criminal Community (TCC).
"Terhadap tujuh anak di wilayah Banten telah dilakukan langkah pengamanan dan pembinaan," ujar Mayndra.
Karena itu, dia mendorong pemerintah daerah untuk menyusun kebijakan strategis yang sejalan dengan Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE) Fase 2. Dia menekankan bahwa penanggulangan terorisme tidak bisa hanya mengandalkan aparat.
"Penanggulangan radikalisme dan terorisme tidak dapat dibebankan kepada aparat semata, melainkan menuntut keterlibatan seluruh elemen masyarakat," tegasnya.
Mayndra mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga lingkungan keluarga, sekolah, hingga tempat ibadah dari konten kebencian dan ajakan intoleran. Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir agen perubahan dari kalangan tokoh agama dan pemuda yang mampu menyuarakan perdamaian.
Dalam yang sama, Wali Kota Cilegon Robinsar memberikan apresiasi atas langkah kolaboratif Densus 88. Dia menyatakan bahwa sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan tokoh agama adalah kunci.
"Pencegahan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme memerlukan keterlibatan seluruh elemen bangsa melalui sinergi pemerintah, tokoh agama, lembaga pendidikan, dan masyarakat," ujar Robinsar.
Senada dengan hal itu, Wakapolres Cilegon Kompol M. Ridzky Salatun mengingatkan bahwa ancaman keamanan saat ini telah bergeser ke ranah ideologi. Ia menekankan pentingnya literasi digital bagi masyarakat.
"Ancaman keamanan saat ini tidak hanya berbentuk kejahatan konvensional, tetapi juga penyebaran ideologi yang dapat mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu, upaya deteksi dini, penguatan toleransi, serta peningkatan literasi digital menjadi langkah penting," jelas Ridzky.
Sementara itu, Kepala Kemenag Kota Cilegon, Amin Hidayat, menyoroti peran vital keluarga sebagai unit terkecil masyarakat. Ia menilai keluarga adalah filter pertama bagi generasi muda.
"Keluarga merupakan lingkungan pertama yang menanamkan nilai moral, toleransi, dan semangat kebangsaan sehingga mampu menjadi benteng terhadap pengaruh intoleransi dan ekstremisme, khususnya di era perkembangan media sosial yang semakin pesat," pungkas Amin.
Adapun kegiatan ini turut dihadiri oleh jajaran Kesbangpol Provinsi Banten dan Kota Cilegon, FKUB, serta MUI Kota Cilegon sebagai bentuk komitmen lintas sektor dalam menjaga keutuhan NKRI.
(ond/azh)





