Popularitas music streaming atau aliran musik dalam format audio terus meningkat dari waktu ke waktu. Tak peduli bahasanya dapat dipahami atau tidak, tetapi musik bersifat universal. Alunannya mampu dinikmati ragam kelompok dengan latar belakang berbeda-beda.
Spotify, salah satu platform audio yang diluncurkan pada 2008 ikut andil merevolusi tren mendengarkan musik. Siniar menjadi salah satu produk susulan yang kini banyak dinikmati generasi muda. Pada 2022, Spotify melangkah lagi untuk masuk ke pasar buku audio (audiobook) yang bertumbuh pesat, sehingga makin membentuk lanskap audio masa depan.
Berdasarkan data Spotify, platform itu menaungi lebih dari 100 juta musik (track), 7 juta judul siniar, serta 700.000 buku audio. Debutnya sebagai perusahaan rintisan (startup) asal Swedia ini, sekarang memiliki 761 juta pengguna, termasuk 293 juta pelanggan di 184 pasar.
“Faktanya pada tahun lalu, (karya) artis-artis Indonesia didengarkan pertama kali oleh pendengar pemula di Spotify lebih dari 6,3 miliar kali pada 2025. Itu adalah angka yang besar. Itu adalah angka yang masif. Musik Indonesia terus tumbuh makin kuat,” tutur Managing Director Spotify for Southeast Asia Gustav Back dalam Spotify Loud & Clear Indonesia 2026 di Jakarta, Jumat (25/6/2026).
Dalam kesempatan itu, hadir pula sejumlah pejabat publik lainnya. Dua di antaranya adalah Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya dan Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha. Ada pula perwakilan musisi, yakni Reality Club dan IDGITAF.
Tren itu merupakan pertumbuhan yang berkelanjutan, didorong oleh para artis dan penggemar seiring berkembangnya kreativitas. Dari tahun ke tahun, artis-artis Indonesia menyentuh para audiens baru, lintas batas, dan akhirnya membentuk kariernya.
Kondisi ini mungkin belum banyak terjadi pada sedekade lalu, ketika ada platform yang mewadahi musik-musiknya bisa menemukan para penggemarnya. Para pecinta musik yang bahkan tidak memahami bahasa yang dinyanyikan. Hal itu menonjolkan kekuatan streaming lintas batas.
Spotify berupaya menjadi platform yang bisa melahirkan artis dan musisi-musisi baru, sehingga musik-musiknya dapat menemukan penggemar yang tepat. Ragam program dilakukan untuk mewadahi sekaligus memperkenalkan musisi baru ini, antara lain Spotify Radar. Program itu memang dirancang untuk mempromosikan musisi pendatang baru guna memperluas basis penggemarnya secara global.
Para musikus Indonesia, Back melanjutkan, memiliki basis pendengar di luar negeri. Lebih dari 60 persen seluruh royalti yang dicetak para artis Indonesia di Spotify 2025 disumbang oleh para pendengar dari luar negeri.
“Para artis berhak tahu dan memahami sistem di mana mereka bekerja. Karena kami mempercayai transparansi stream, pemasukan Spotify berasal dari dua sumber, yakni iklan dan pelanggan,” kata Back.
Sekitar 70 persen pemasukan Spotify akan kembali ke pemilik hak. Pada 2025, jumlahnya mencapai lebih dari 11 miliar dolar AS yang dibayarkan ke industri musik secara global. Nominal itu setara Rp 197,36 triliun dengan kurs Rp 17.942 per dolar Amerika Serikat (AS) sekaligus pembayaran terbesar dalam setahun yang dibayarkan peritel musik dalam sejarah. Dalam dua dekade, Spotify telah membayarkan hampir 70 miliar dolar AS atau Rp 1.255,94 triliun.
“Dan satu hal yang kami perhatikan bahwa Spotify tidak membayar artis secara langsung. Kami membayar royalti ke para pemegang hak, seperti label, distributor, penerbit, dan sebagainya. Besaran yang diterima tiap artis berdasarkan kesepakatan dengan pihak-pihak tersebut,” tutur Back.
Head of Music for Spotify Southeast Asia Kossy Ng mengatakan, platform streaming di Indonesia menjanjikan karena terus tumbuh dari waktu ke waktu. Royalti di Indonesia tumbuh 16 persen secara tahunan.
Dengan platform ini, industri ekonomi kreatif dapat makin bergeliat karena menghapus sejumlah penghalang. Musik-musik lokal terus bertumbuh dengan ragam artis baru, sehingga kanal-kanal distribusi juga makin mudah mengakomodasi mereka.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengemukakan, platform streaming membawa industri musik dengan membuka banyak peluang baru bagi para musisi. Alhasil, mereka dapat terkoneksi dengan audiens dunia.
“Hari ini, ketika musik Indonesia didengarkan di Malaysia, AS atau negara-negara lain, kegiatan itu lebih dari sekadar menghibur. Hal itu memperkenalkan pendengar tentang kisah-kisah Indonesia, budaya, dan identitas bangsa,” tuturnya.
Selain memperkenalkan musikus ke kancah global, platform streaming juga membantu mereka untuk mendapatkan hasil yang pantas atas jerih payahnya. Bentuknya berupa royalti yang menjadi fondasi kokoh dan berkelanjutan bagi para artis, komposer, dan pemegang hak cipta.
“Hal ini tak hanya memberdayakan para kreator individu untuk membangun karier jangka panjangnya, tetapi juga memperkuat pertumbuhan dan daya tahan ekonomi kreatif Indonesia,” kata Teuku.
Saat ini, ia tak menampik bahwa salah satu pekerjaan rumah pemerintah adalah memperbaiki ekosistem Indonesia, termasuk soal royalti. Berkaitan hal itu, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sedang menggodok revisi Undang-Undang Hak Cipta, termasuk mekanisme royalti musik di Indonesia. Namun, prosesnya sedang dinanti banyak pihak sebagai inisiatif DPR dengan koordinator sektor di bawah Kementerian Hukum.
Tantangan yang dihadapi sejauh ini, Teuku melanjutkan, banyak musisi yang masih merasa belum mendapat keadilan dalam pembagian royalti. Pengawasan dan audit royalti juga perlu diperbaiki. Ada pula isu pembajakan yang bercokol sejak lama.
Tak hanya itu, penggunaan kecerdasan imitasi atau artificial intelligence (AI) yang marak juga perlu diatur guna melindungi hak cipta dan royalti musisi. Pemerintah menyebut sedang bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital untuk menyusun peta jalan, termasuk mengenai aturan dan etika dalam penggunaan AI di Indonesia.
“Di satu sisi, AI ini peluang, tetapi tantangan juga bagi para kreator di Indonesia. Dan ini kita harus jaga karena kami sendiri juga melihat bahwa AI itu semestinya adalah core para kreator, sebagai added value, tetapi bukan menggantikan para kreator atau para musisi, seniman di Indonesia,” tutur Teuku.
Ketika ditanya persoalan yang sama, Head of Music for Spotify Southeast Asia Kossy Ng mengemukakan bahwa pihaknya telah memperkirakan dan mulai mengantisipasi kehadiran AI. Tiap generasi artis dan musisi selalu menggunakan teknologi baru, termasuk ini dengan berkembangnya AI-generated yang tumbuh pesat.
“AI sedang membantu para artis untuk lebih kreatif, mendorong inovasi. Sama halnya dengan kita melihat The Beatles, misalnya, mereka mengelola untuk menuntaskan sebuah lagu sekarang dan ke depannya karena memanfaatkan teknologi,” kata Kossy.
Saat ini, Spotify juga memanfaatkan AI untuk mengkurasi ragam lagu agar sesuai dengan telinga pendengar. Personalisasi menjadi kuncinya.
Fitur AI DJ, misalnya, dapat menyusun deretan lagu berdasarkan selera musik pengguna. Fitur ini dapat menyiapkan daftar lagu yang akan diputar, setelah menyaring musik terbaru dan menampilkan lagi beberapa lagu favorit lama pendengar yang bahkan sudah bertahun-tahun tidak didengarkan. Daftar lagu akan terus diperbarui berdasarkan umpan balik pengguna.
Meski demikian, Kossy menyadari bahwa tetap ada pihak-pihak yang berniat buruk dengan memanfaatkan AI. Spotify memastikan bahwa isu-isu, seperti meniru (imitasi), spam, dan perilaku curang lainnya. Hal-hal seperti ini sebenarnya bukan masalah baru.
“Sejak dulu, kami sangat fokus untuk menjamin bahwa artificial streaming dan aktor-aktor jahat tidak dapat masuk dalam sistem kami. Seluruh nilai yang terkandung dalam suatu musik akan kembali pada artis yang sebenarnya. Bagi kami, sebagai platform, sangat penting untuk memikirkan inovasi produk yang akhirnya menguntungkan artis dan para penggemarnya,” ujar Kossy.
Ia juga menegaskan bahwa Spotify tidak memberi ruang untuk aspek-aspek peniruan (impersonation). Pihaknya melindungi identitas para artis, sehingga mereka yang menggunakan suara musisi tertentu akan ditindak. Hingga kini, setidaknya Spotify telah mengkurasi lebih dari 75 juta musik-musik “sampah” atau spam.
Dalam laporan Spotify, masa depan industri musik akan ditentukan oleh para penggemarnya. Banyak peluang untuk berinovasi, berkolaborasi, dan berkreasi akan tumbuh seiring dengan berlanjutnya dukungan bagi para musisi lintas platform streaming. Dengan akses global terhadap musik yang beragam dan budaya yang mengakar, artis akan terus mendorong batasnya dan penggemar akan memainkan peran lebih signifikan untuk musik era selanjutnya.





