jpnn.com, JAKARTA - Dewan Komisaris PT Pertamina (Persero) bergerak cepat mendorong direksi untuk segera memproyeksikan penurunan harga BBM secara bertahap seiring melandainya tren harga minyak mentah dunia.
Komisaris Utama Pertamina Mochamad Iriawan menyatakan bahwa langkah strategis ini diambil setelah dirinya bersama Direktur Utama Pertamina dipanggil langsung oleh Kepala Negara ke Istana beberapa waktu lalu.
BACA JUGA: Demo Mahasiswa di DPR, Massa Kritik Kebijakan Menaikkan Harga BBM saat Tengah Malam
Pria yang akrab disapa Iwan Bule tersebut menegaskan bahwa instruksi Presiden melekat kuat sebagai kewajiban mutlak untuk mengutamakan kepentingan bangsa.
"Pesan itu saya maknai sebagai kewajiban mutlak untuk mengutamakan kepentingan bangsa, menjaga integritas, dan memastikan Pertamina benar-benar bekerja untuk masyarakat Indonesia," ujar Iriawan dengan nada penuh penekanan.
BACA JUGA: Harga Minyak Dunia Turun 4%, DPR Desak Pemerintah Evaluasi Harga BBM
Sebagai bentuk konkret kepatuhan terhadap arahan tersebut, Dewan Komisaris kini gencar menjalankan fungsi pengawasan. Manajemen Pertamina diminta untuk terus memproyeksikan struktur biaya secara ketat agar penurunan harga dapat segera dinikmati publik.
"Untuk itu, kami telah memberikan masukan kepada Direksi dan terus mendorong dan proyeksikan di awal bulan depan ini diharapkan sudah mulai ada penyesuaian atau penurunan harga secara bertahap," ungkapnya.
Sinyal positif ini disampaikan mantan Penjabat Gubernur Jawa Barat tersebut seusai melaksanakan ibadah salat Jumat di Masjid Jami' Darussalam, Kuningan, Jakarta, Jumat (26/6/2026).
Tampil bersahaja dengan baju koko dan kopiah hitam, Iriawan yang baru keluar dari masjid langsung disambut rentetan pertanyaan oleh awak media, terkait keluhan masyarakat yang mempertanyakan mengapa harga BBM domestik belum kunjung turun di saat pasar internasional sedang melemah.
Menanggapi kegelisahan publik, Iriawan secara runtut edukatif menjelaskan bahwa fluktuasi minyak mentah dunia tidak bisa serta-merta mengubah harga eceran di SPBU setiap harinya. Ada mekanisme formula legal, logis, dan rantai pasok yang harus dilalui.
"Pertamina menggunakan formula harga rata-rata satu bulan sebelumnya. Jadi, minyak yang kita proses dan distribusikan saat ini sebenarnya adalah hasil pembelian dengan harga rata-rata bulan lalu, yang posisinya saat itu memang masih relatif tinggi, di atas USD 80 per barel. Ada jeda waktu dalam proses pengadaan hingga produksi,” urai Iriawan secara rinci.
Ia sekaligus menepis anggapan bahwa Pertamina lamban merespons dinamika pasar global. Menurutnya, formula evaluasi berkala yang diterapkan korporasi justru menjadi instrumen pelindung konsumen agar tidak terombang-ambing oleh volatilitas harga harian yang ekstrem.
"Coba bayangkan kalau mekanismenya berubah setiap hari. Ketika harga minyak dunia tiba-tiba melonjak, Pertamina tidak langsung menaikkan harga hari itu juga. Ini demi melindungi konsumen dari ketakutan, antrean panjang, atau bahkan risiko kelangkaan di lapangan. Jadi, formula rata-rata ini adalah instrumen pengaman, baik saat harga naik maupun turun," tegasnya, seraya meminta masyarakat untuk sedikit bersabar.
Iriawan menambahkan, kalkulasi penurunan yang lebih signifikan baru akan terlihat penuh pada periode berikutnya. "Proyeksi baru akan terlihat pada periode bulan berikutnya, yaitu per 1 Agustus, karena saat itulah harga rata-rata bulanan kita sudah sepenuhnya menangkap momentum turunnya harga minyak dunia,” ungkapnya.
Kabar Baik dari Selat Hormuz
Di samping komitmen menurunkan beban ekonomi rakyat lewat penyesuaian harga BBM, Iriawan juga memberikan kabar baik terkait ketahanan energi nasional dari sisi logistik global.
Di tengah tingginya tensi geopolitik Timur Tengah yang sempat memicu kekhawatiran, armada laut Pertamina berhasil melewati zona bahaya.
"Alhamdulillah, Kapal Gamsunoro milik PT Pertamina International Shipping (PIS) berhasil melintasi Selat Hormuz pada hari Rabu (24/6) lalu waktu setempat dan telah mencapai titik aman," ungkap Iriawan melegakan.
Ia memastikan, Pertamina tidak pernah lengah menjaga pasokan energi untuk tanah air. Tim crisis center PIS terus memonitor situasi secara penuh selama 24 jam dengan berkoordinasi erat bersama Kementerian Luar Negeri serta KBRI di Iran.
"Sementara untuk armada lain seperti VLCC Pertamina Pride di Teluk Arab, saat ini sedang dalam persiapan bergerak dengan terus mengevaluasi perkembangan risiko serta rekomendasi internasional,” pungkas Iriawan.(ray/jpnn)
Redaktur & Reporter : Budianto Hutahaean




