Harga Gas Industri Naik, ESDM Bakal Evaluasi Hulu Produksi Gas 

idxchannel.com
5 jam lalu
Cover Berita

Kementerian ESDM berjanji menurunkan harga gas alam cair (Liquified Natural Gas atau LNG) yang membebani industri.

Kementerian ESDM berjanji menurunkan harga gas alam cair (Liquified Natural Gas atau LNG) yang membebani industri. (Foto: iNews Media/Iqbal Dwi Purnama)

IDXChannel - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berjanji menurunkan harga gas alam cair (Liquified Natural Gas atau LNG) yang membebani industri. Salah satu potensi untuk menurunkan harga yakni mengevaluasi sisi hulu produksi gas.

Sebagai informasi, pelaku usaha mengeluhkan harga LNG yang selama ini menjadi alternatif di tengah kekurangan pasokan gas bumi dari pipa. Untuk gas pipa, harga gas dalam program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) tetap sesuai di kisaran USD6,5-USD7 per MMBTU, sedangkan LNG melesat hingga USD20 imbas kondisi geopolitik.

Baca Juga:
Isu Harga Gas Industri Jadi Atensi Prabowo, Bakal Ditentukan dalam 1-2 Hari

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaiman mengatakan, Kementerian ESDM telah bertemu dengan Kementerian Perindustrian, SKK Migas, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk atau PGN (PGAS), hingga pelaku industri yang memanfaatkan HGBT.

Dia mengungkapkan, berdasarkan pertemuan tersebut, ada potensi penurunan harga LNG dengan mengevaluasi sektor hulu yang membebani biaya produksi. Laode tak mengungkapkan secara rinci meski area ini biasanya terkait dengan skema bagi hasil untuk negara.

Baca Juga:
Pemerintah Cari Formula Baru Harga Gas Industri di Tengah Tekanan Pasokan, Pastikan Win-Win Solution

"Ada potensinya seperti itu, karena kemarin sudah diberikan arahan sama Pak Menteri (ESDM) agar kita bicarakan dengan PGN-nya, bagian-bagian mana yang bisa kita adjust (sesuaikan), seperti itu. Di hulunya juga seperti apa sehingga nanti ada potensi untuk kita bisa atur lebih rendah dari sebelumnya," ujarnya saat ditemui di Kementerian ESDM, Jumat (26/6/2026).

Selama ini, pelaku usaha yang masuk dalam HGBT seperti keramik dan kaca memanfaatkan gas alam dari dua sumber, yakni gas pipa dan LNG. Laode tak menyebut harga LNG saat ini. "Saya tidak ingin menyebut angkanya, tapi intinya itu memberatkan bagi industri," katanya.

Dia menerangkan, harga LNG dipengaruhi banyak faktor mulai dari biaya transportasi, penyimpanan gas, hingga biaya regasifikasi. Selain itu, kondisi geopolitik terutama akibat perang di Timur Tengah sangat memengaruhi harga LNG sebagai substitusi minyak mentah (crude oil)

"Kan harga (LNG) ini juga dipengaruhi oleh crude, karena situasi dinamika global. Jadi ya formulanya link (berhubungan) dengan kenaikan global, harga gas itu pun juga naik yang LNG. Seperti itu," katanya.

Sejalan dengan itu, pemerintah juga akan melakukan pemutakhiran data kebutuhan dan pasokan gas industri yang ada. Laode berharap ke depan tidak ada lagi industri yang mengaku kekurangan pasokan gas industri lewat skema HGBT.

"Jadi di situ kita sudah bisa dapat gambaran dari awal bahwa ini cukup atau berapa. Jadi jangan sudah terjadi kekurangan baru industrinya melakukan klaim bahwa, 'Oh ini kita kekurangan HGBT nih,' padahal belum tentu seperti itu kenyataannya," katanya.

(Rahmat Fiansyah)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menhaj Ingatkan Pentingnya Menyiapkan Petugas Haji yang Profesional-Kompeten
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Tolak Bela Timnas Indonesia, Bek Keturunan Rp347 Miliar Jadi Rebutan Raksasa Serie A dan Liga Inggris
• 6 menit lalutvonenews.com
thumb
Menkeu: BGN Siapkan Penghematan Besar, Pengawasan Program MBG Juga Diperketat
• 6 jam lalunarasi.tv
thumb
Gempa Venezuela Hancurkan 250 Banguna, Ratusan Warga Tewas
• 2 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Bukan Cuma Disekap dan Disiksa, YTR Juga Alami Kekerasan Seksual oleh Taufik Hidayat?
• 16 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.