Kebijakan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75% memberikan sentimen negatif kepada emiten yang sensitif terhadap suku bunga seperti properti. Emiten properti bahkan mengaku realisasi pendapatan dan laba bersih 2026 diperkirakan turun hingga dua digit imbas kebijakan tersebut.
Bagi PT Ciputra Development Tbk (CTRA), naiknya suku bunga acuan mau tak mau membuat perseroan ikut menaikkan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR). Direktur Utama CTRA Candra Ciputra mengatakan, kebanyakan penjualan dari CTRA memang ditopang oleh KPR. Namun dia memandang cicilan KPR panjangnya 10 sampai 15 tahun dan sifatnya fix. Pihaknya juga berharap penjualan KPR dapat dibantu dengan kebijakan pemerintah lainnya yaitu Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP).
“Jadi hopefully saya berharap dengan PPN DTP juga kita akan tertolong ke depannya begitu,” kata Candra dalam Paparan Publik CTRA, Jumat (26/6).
Senada dengan Chandra, Direktur CTRA Nanik J Santoso mengatakan ketika suku bunga acuan naik, maka strategis yang ditempuh CTRA untuk mengejar target penjualan adalah dengan menaikkan kredit.
“Tidak ada cara lain selain naikkan harga. Selain mengembalikan harganya pada harga yang normal. Dan yang mudah-mudahan pada saat itu, pada saat insentif sudah tidak ada lagi, kondisi ekonominya jauh lebih baik,” ujar Nanik.
Pada kuartal pertama 2026, CTRA membukukan laba bersih Rp 518,30 miliar. Jumlah tersebut merosot 21,57% dari laba bersih perseroan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 660,4 miliar. Seiring dengan itu, pendapatan perseroan terpantau juga turun menjadi Rp 2,55 triliun dari Rp 2,73 triliun secara tahunan atau year on year.
Selama 2026, CTRA menyatakan akan mengalami penurunan laba bersih dan pendapatan sebesar 10% secara tahunan.
Sekretaris Perusahaan CTRA Aditya Ciputra Sastrawinata menjelaskan, proyeksi penurunan tersebut disebabkan oleh turunnya penjualan properti, khususnya di segmen residensial. Sementara itu, untuk pre sales tahun ini akan datar di Rp 9,5 triliun seperti target tahun lalu.
“Jadi penurunan pendapatan di perusahaan properti mengikuti presales tahun sebelumnya. Kalau pre sales tahun 2025 turun, pendapatan 2026 turun juga,” ujar Adit.
Lebih rinci, dia menjelaskan faktor penurunan pre sales karena turunnya daya beli di segmen menengah ke bawah. Meski begitu, dia mengatakan properti investasi masih naik seperti mal, rumah sakit hingga klinik. Namun, jelas Adit, kenaikan investasi tidak dapat menutupi penurunan di residential sehingga net pendapatan bisa terdampak.
Kenaikan suku bunga juga berdampak pada emiten properti PT Metropolitan Land Tbk (MTLA). Namun perseroan tetap optimis dapat mengejar target penjualan properti yang sudah disiapkan untuk 2026.
Direktur MTLA Olivia Surodjo menyampaikan, pihaknya berharap perbankan bisa memberikan program KPR yang menarik seperti fix and cap atau bunga yang sudah dipatok selama masa tenor.
“Di samping strategi yang dijalankan untuk memberikan kemudahan bagi konsumen,” kata Olivia kepada Katadata, Jumat (26/6).
Seiring dengan naiknya suku bunga BI ke level 5,75%, MTLA menyatakan bunga KPR baru akan dirasakan kenaikannya tiga sampai enam bulan ke depan. Sementara saat ini MTLA belum memiliki rencana untuk merevisi target penjualan dan laba bersih yang sudah perseroan ditetapkan sebelumnya.
“Kami berusaha mengejar target di tengah dinamika yang ada,” ujar Olivia.
Merujuk laporan keuangan kuartal pertama 2026, MTLA membukukan pendapatan Rp 362,14 miliar, turun tipis 0,91% dari Rp 365,50 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Seiring dengan itu, laba bersih MTLA juga tercatat turun 17,4% menjadi Rp 62,16 miliar dari Rp 75,30 miliar secara tahunan.
Meneropong Emiten Properti yang Menarik di Tengah Tingginya BI RateAnalis Panin Sekuritas Elandry Pratama memperkirakan suku bunga acuan akan berada di kisaran 5,25%-2,25% hingga tahun 2026. Menurut dia, BI masih memiliki ruang penurunan suku bunga, namun dilakukan secara bertahap karena BI perlu menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global.
“Dengan inflasi yang relatif terjaga, peluang pelonggaran moneter masih terbuka apabila volatilitas eksternal mulai mereda,” kata Elandry.
Meski suku bunga acuan telah naik 100 bps hanya dalam beberapa bulan terakhir, Elandry memandang sektor properti masih cukup menarik hingga akhir tahun. Dia menjelaskan, penurunan suku bunga akan membantu menurunkan biaya KPR sehingga dapat meningkatkan daya beli masyarakat, terutama pada segmen residensial.
Selain itu, lanjut dia, insentif pemerintah terhadap sektor perumahan juga berpotensi menjaga sentimen pasar.
“Namun, pemulihannya kemungkinan berlangsung bertahap sehingga investor tetap perlu selektif memilih emiten yang memiliki landbank kuat, neraca sehat, dan tingkat pra-penjualan (marketing sales) yang solid,” kata dia.
Untuk saham sektor properti, Elandry merekomendasikan saham CTRA sebagai pilihan utamanya. Saham CTRA ditargetkan melaju ke level 800 per saham karena memiliki recurring income dan penjualan yang relatif stabil.
Selain itu, emiten PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) dengan target harga ke Rp 400 juga dinilai menarik didukung pendapatan mal dan perkantoran yang terus membaik. Sementara itu, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dengan target Rp 800 juga layak dicermati berkat landbank besar dan valuasi yang cukup atraktif.




