Para guru, murid, dan pengurus Yayasan Dayah Teungku Cheik Pante Geulima belum mampu menyembunyikan trauma akibat banjir bandang yang menghancurkan sekolah mereka di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, pada November 2025. Mereka terjebak banjir setinggi sekitar 3 meter selama tiga hari di asrama sekolah tanpa makanan yang memadai, air bersih, listrik, ataupun jaringan komunikasi.
Tujuh bulan setelah bencana berlalu, secercah harapan mulai muncul dengan dimulainya pembangunan kembali sekolah di lokasi baru. Pembaca Kompas melalui Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas (DKK) melakukan peletakan batu pertama pembangunan SD Islam Terpadu An-Nur di Desa Blang Awe, Kecamatan Meureudu, Jumat (26/6/2026).
”Bantuan ini sangat bermakna. Pembaca Kompas tidak hanya membangun gedung sekolah. Bapak dan Ibu sedang membangun pintu harapan, pintu peradaban masa depan, serta membentangkan jalan untuk mendidik putra-putri kami menjadi generasi yang cerdas dan berakhlak mulia,” kata Wakil Ketua Umum Yayasan Dayah Teungku Cheik Pante Geulima, Faisal Hasan Sufi.
Gedung sekolah, asrama, dan rumah dinas guru di bawah naungan yayasan yang menaungi jenjang TK, SD, SMP, dan SMK rusak berat diterjang banjir bandang. Arus banjir yang membawa batang-batang pohon dan lumpur menghantam kompleks perguruan Islam terpadu tersebut.
Sebagian bangunan hanyut terbawa arus, sedangkan bangunan lainnya roboh dan rusak berat. Hingga kini, lumpur yang telah mengering masih menumpuk di ruang-ruang kelas yang tersisa. Kawasan sekolah juga telah ditetapkan sebagai zona merah sehingga seluruh aktivitas pendidikan harus dipindahkan ke lokasi baru.
Menurut Faisal, setelah bencana, para murid terpaksa belajar di rumah-rumah yang disewa yayasan. Sebagian lainnya mengikuti kegiatan belajar di tenda darurat.
Guru Yayasan Dayah, Hamdani Rajali, mengatakan, mereka belum mampu melupakan bencana yang menghancurkan kompleks yayasan. Setiap hujan turun, kenangan akan banjir bandang itu kembali muncul.
”Kami terjebak selama tiga hari di lantai dua asrama sekolah. Kami hanya memiliki persediaan makanan untuk hari pertama. Kami tidak pernah menyangka bisa selamat dari bencana itu,” kata Hamdani.
Ia menuturkan, banjir bandang menerjang secara tiba-tiba pada Rabu malam, 26 November 2025, setelah hujan deras mengguyur sejak pagi. Rumah dinas yang ditempatinya hanyut terbawa arus. Beruntung, ia bersama istri dan ketiga anaknya, termasuk bayi yang baru berusia 20 hari, sempat menyelamatkan diri.
Mereka bersama 48 siswa dan beberapa warga sekitar bertahan di lantai dua asrama. Saat itu, aliran Sungai Krueng Meureudu berpindah jalur ke kompleks sekolah setelah tanggul jebol.
”Tim SAR beberapa kali mencoba melakukan evakuasi, tetapi tidak dapat menembus banjir karena arus sungai sangat deras,” ujar Hamdani.
Ia mengatakan, suasana saat itu sangat mencekam. Listrik padam dan seluruh jaringan komunikasi lumpuh. Pada hari pertama, mereka masih memiliki persediaan makanan yang tersisa di asrama. Namun, memasuki hari kedua dan ketiga, persediaan hampir habis. Mereka hanya bertahan dengan pisang dan roti yang tersisa.
”Kami bahkan menampung air hujan karena sama sekali tidak memiliki air minum,” katanya.
Pada hari ketiga setelah banjir, air mulai surut hingga sekitar 1 meter meski arus masih deras. Tim penyelamat kemudian datang membawa tali. Salah satu ujung tali diikatkan pada tiang lantai dua asrama, sedangkan ujung lainnya diikatkan pada pohon. Satu per satu siswa turun berpegangan pada tali hingga akhirnya berhasil dievakuasi ke tempat yang lebih aman.
Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas Adi Prinantyo mengatakan, pembangunan SD Islam Terpadu An-Nur merupakan bagian dari program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sumatera yang diinisiasi Yayasan DKK. Di Aceh, Yayasan DKK akan membangun dua sekolah.
Selain SD Islam Terpadu An-Nur, Yayasan DKK juga akan membangun SD Negeri Teumpeun di Kabupaten Aceh Timur. Kedua sekolah tersebut ditargetkan rampung pada Desember 2026. Bantuan pembaca Kompas juga akan digunakan untuk membangun sekolah di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, dan Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
"Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas memprioritaskan pembangunan sekolah dasar karena pendidikan dan kesehatan anak-anak pada usia sekolah dasar merupakan fondasi utama bagi masa depan mereka," kata Adi.
Adi juga menyampaikan terima kasih kepada pembaca Kompas yang telah mempercayakan donasi kemanusiaan kepada Yayasan DKK. Menurut dia, partisipasi pembaca merupakan bagian dari semangat Kompas menghadirkan jurnalisme yang memberi makna.
Manajer Eksekutif Yayasan DKK Anung Wendyartaka menjelaskan, proyek tersebut mencakup pembangunan enam ruang kelas, satu ruang guru, dan satu perpustakaan. Yayasan DKK juga akan melengkapi sarana dan prasarana sekolah, seperti meja, kursi, dan papan tulis di setiap ruang kelas.
Untuk pembangunan SD Islam Terpadu An-Nur, Yayasan DKK menyalurkan bantuan pembaca Kompas sebesar Rp3,11 miliar.
Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi mengatakan, daerahnya menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak bencana Sumatera yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pada masa tanggap darurat, sekitar 24.000 keluarga terdampak bencana di Pidie Jaya.
Saat ini, penanganan bencana telah memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Pembangunan sekolah menjadi salah satu prioritas, baik oleh pemerintah maupun melalui dukungan masyarakat.
Sibral menyampaikan terima kasih kepada pembaca Kompas yang ikut membangun kembali sekolah yang rusak di Aceh.
"Bangunan sekolah bisa rusak diterjang bencana, tetapi semangat membangun pendidikan jangan pernah runtuh," katanya.
Berdasarkan data terakhir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana Sumatera mengakibatkan 3.188 satuan pendidikan terdampak di berbagai jenjang. Kerusakan terbanyak terjadi di Aceh sebanyak 1.312 sekolah, disusul Sumatera Utara sebanyak 1.217 sekolah dan Sumatera Barat sebanyak 659 sekolah.
Angka tersebut menunjukkan sekitar 5,7 persen dari sekitar 56.000 sekolah di tiga provinsi terdampak mengalami kerusakan.
Meski bencana Sumatera telah berlalu selama tujuh bulan, proses pemulihan masih terus berlangsung dengan dukungan pemerintah dan berbagai pihak.
"Terima kasih kepada pembaca Kompas. Insya Allah, saya mewakili yayasan akan menerima bantuan ini, menjaganya, mengelolanya, merawatnya, dan memanfaatkannya sebaik-baiknya. Jasa ini akan kami kenang sepanjang hayat," kata Faisal.





