JAKARTA, KOMPAS.TV – Guru Besar Komunikasi Politik dari LSPR Instittute, Lely Arrianie, menyebut haram hukumnya memisahkan antara Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Ri Gibran Rakabuming.
Lely menyampaikan pendapat itu menjawab pertanyaan tentang apakah safari politik Jokowi merupakan langkahnya untuk menuju kontestasi politik 2029 mendatang.
“Pertama, kita haram hukumnya memisahkan Jokowi sama Gibran, itu satu,” kata Lely dalam Program Bola Liar, KompasTV, Jumat (26/6/2026) malam.
Baca Juga: [FULL] Ray Rangkuti dan Mardiansyah Semar Soroti Tujuan Jokowi Blusukan, Bantu Elektabilitas Gibran?
“Ada fenomena bahwa wakil yang tidak mau naik pangkat, misalnya wakil rakyat, nggak mau jadi rakyat, nggak mau naik pangkat. Tapi wakil presiden pasti ingin jadi presiden,” lanjutnya.
Ia juga menyampaikan pendapatnya bahwa tidak tepat jika ada pernyataan yang menyebut bahwa Jokowi turun gunung.
Sebab, istilah turun gunung melekat pada seseorang yang sudah selesai dengan segala hidupnya dan kembali kepada masyarakat untuk mengamalkannya bukan pada satu kelompok tertentu.
“Nah jika manuvernya adalah untuk PSI (Partai Solidaritas Indonesia), kita sudah membaca di 2024. Bahwa PSI punya tagline apa? PSI partainya Jokowi. Tapi tetap kalah, tidak bisa tembus parlemential threshold,” kata Lely.
“Jadi kalau hari ini Jokowi bersafari, seperti safari Ramadan gitu ya, biasanya hanya Ramadan safari itu. Tapi ini safari politik bisa dilakukan kapan saja,” lanjut dia.
Lely kemudian mengingatkan bahwa kerja politik bukan hanya dilakukan setahun menjelang pemilu, tetapi justru dilaksanakan hanya setahun setelah pemilu.
Penulis : Kurniawan Eka Mulyana Editor : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV
- lely arrianie
- joko widodo
- jokowi
- safari politik jokowi
- gibran rakabuming





