Harga Minyak Melemah, WTI Turun di Bawah US$70 per Barel

bisnis.com
13 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Harga minyak dunia melemah ke level sebelum pecahnya perang Iran di tengah meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati risiko baru setelah Iran kembali mengancam keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Berdasarkan harga OilPrice.com, harga minyak mentah global Brent melemah 4,34% atau 3,27 poin ke level US$71,99 per barel pada akhir perdagangan Jumat (26/6/2026).

Sementara itu, harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) melemah 3,74% atau 2,69 poin ke level US$69,23 per barel.

Melansir New York Times, Sabtu (27/6/2026), harga minyak Brent turun ke level terendah sejak sebelum konflik Iran pecah pada akhir Februari. Penurunan tersebut menghapus lonjakan harga yang sempat membawa Brent menyentuh US$118 per barel ketika ketegangan militer memuncak dan arus pelayaran di Selat Hormuz terganggu.

Selama fase awal konflik, Iran secara efektif menghambat lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi krisis pasokan energi dan mendorong harga minyak melonjak tajam.

Baca Juga

  • Harga Minyak Turun ke Level Sebelum Perang Iran, Lalu Lintas Selat Hormuz Mulai Pulih
  • Impor Minyak Rusia Berlanjut, Bahlil Sebut Kontrak Sudah Rampung
  • Pertamina Dorong Dekarbonisasi Armada Maritim lewat PLTS Kapal Angkut Minyak

Tekanan terhadap harga mulai mereda setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan pada pertengahan Juni untuk kembali membuka Selat Hormuz. Upaya tersebut memungkinkan kapal-kapal yang sempat tertahan di Teluk Persia kembali beroperasi.

Perusahaan data maritim Kpler mencatat lebih dari 330 kapal telah melintasi Selat Hormuz sejak Amerika Serikat mencabut blokade angkatan lautnya pekan lalu. Arus pelayaran meningkat signifikan dibandingkan masa puncak konflik ketika hanya segelintir kapal yang berani melintas setiap hari. Meski begitu, volume tersebut masih sekitar separuh dari kondisi normal sebelum perang.

Normalisasi lalu lintas kapal menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga minyak. Pasar memperkirakan pasokan minyak yang sempat tertahan akan kembali masuk ke pasar global dalam waktu bersamaan sehingga meningkatkan pasokan dan menekan harga.

Namun, situasi keamanan di kawasan belum sepenuhnya stabil. Militer Iran menyerang sebuah kapal kontainer di Selat Hormuz pada Kamis yang memicu kembali kekhawatiran pelaku pasar. Amerika Serikat kemudian melancarkan serangan balasan terhadap Iran pada Jumat.

Insiden tersebut kembali mengingatkan pelaku industri pelayaran bahwa risiko keamanan di kawasan Teluk Persia masih tinggi. Sejumlah operator kapal juga masih berhati-hati setelah Iran beberapa kali meminta kapal mengikuti jalur pelayaran yang ditentukan dan memperoleh izin dari Teheran sebelum melintasi selat tersebut.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan kapal-kapal tidak akan dikenakan tarif maupun biaya tambahan untuk melintasi Selat Hormuz. Namun, Kementerian Luar Negeri Iran pada Jumat kembali menegaskan bahwa jalur pelayaran tersebut tidak menjamin keamanan bagi kapal yang tidak memperoleh otorisasi dari pemerintah Iran.

Meski demikian, pasar tampaknya lebih optimistis terhadap prospek stabilisasi kawasan. Allen Good, Direktur Equity Research Morningstar, menilai diperlukan eskalasi yang jauh lebih besar dibandingkan serangan terhadap satu kapal untuk kembali mendorong reli harga minyak secara berkelanjutan.

”Pasar masih meyakini pemerintahan Donald Trump dan Iran memiliki kepentingan untuk mempertahankan kesepakatan jangka pendek mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz,” ungkap Good seperti dikutip New York Times.

Di sisi lain, dampak ekonomi akibat gejolak energi diperkirakan belum sepenuhnya berakhir. Wakil Presiden Global Economics S&P Global Market Intelligence Ken Wattret mengatakan tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi selama konflik masih memerlukan waktu beberapa bulan untuk mereda.

Menurutnya, kembalinya harga minyak ke level sebelum perang tidak serta-merta menghapus dampak yang telah ditimbulkan terhadap perekonomian global. Bank-bank sentral masih harus menghadapi konsekuensi inflasi yang muncul selama periode kenaikan harga energi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Swedia Ikut, Ini Tim yang Sudah Lolos ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026
• 21 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Lebanon, Israel & AS Teken Rancangan Kesepakatan Perdamaian Trilateral
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Mengisi libur sekolah dengan Airport Edu Tour di Bandara Ngurah Rai
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Dana SAL Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Israel-Lebanon Sepakat Damai, Hizbullah Warning Perang Saudara
• 11 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.