Harga Emas Melemah Empat Beruntun Imbas Sikap Hawkish The Fed

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas dunia melanjutkan pelemahan mingguan selama empat pekan berturut-turut, sekaligus mencatat tren penurunan terpanjang sejak Agustus 2023.

Melansir Kitco.com, harga emas ditutup menguat 1,55% atau 63 poin ke level US$4.088,6 per troy ounce di pasar spot pada akhir perdagangan Jumat (26/6/2026). Meskipun begitu, harga emas masih mencatatkan pelemahan mingguan sebesar 1,61%.

Pasar emas menghadapi tekanan dalam beberapa bulan terakhir setelah perang di Iran mengganggu pasar energi global secara signifikan.

Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran terhadap inflasi yang kini mulai menjadi kenyataan setelah Federal Reserve mengubah arah kebijakannya dari cenderung longgar menjadi hawkish dengan membuka peluang kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.

Pada saat yang sama, analis menilai ketahanan aktivitas ekonomi Amerika Serikat di tengah krisis energi global kembali memicu perdagangan bertema American Exceptionalism, yang semakin memperkuat posisi dolar AS.

Head of Futures and Forex Strategy Tastylive Christopher Vecchio mengatakan pandangannya terhadap emas berubah menjadi bearish setelah pertemuan kebijakan moneter terbaru Federal Reserve.

Baca Juga

  • Harga Emas Perhiasan Hari Ini Sabtu 27 Juni 2026
  • Ramalan Nasib Pergerakan Harga Emas Memasuki Juli 2026
  • Gebyar Hadiah Samsat 2026 Pemprov Jateng Bagikan Hadiah Uang Tunai dan Emas

Meski bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuannya, pembaruan proyeksi ekonomi menunjukkan dukungan terhadap kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun. Pada saat yang sama, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan bahwa stabilitas harga tetap menjadi prioritas utama.

"Ini sepenuhnya soal biaya modal. Permainan pasar ditentukan oleh suku bunga jangka pendek. Jika Anda seorang trader emas, satu-satunya indikator yang perlu diperhatikan adalah imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun," kata Vecchio seperti dikutip Kitco, Sabtu (27/6/2026).

Dia memperkirakan harga emas berpotensi turun ke kisaran US$3.000 per barel jika The Fed terus mendorong kenaikan suku bunga.

Meski imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun telah turun dari puncak terbarunya, level tersebut masih berada di kisaran tertinggi dalam setahun terakhir.

Chief Market Analyst FxPro Alex Kuptsikevich mengatakan harga emas memang masih bertahan di atas level support penting hingga akhir pekan. Namun, dia meragukan level US$4.000 akan mampu dipertahankan.

Menurutnya, pergerakan harga terbaru telah membentuk pola teknikal bearish yang dikenal sebagai death cross, yakni ketika rata-rata pergerakan 50 hari turun menembus rata-rata pergerakan 200 hari.

"Sejak paruh kedua pekan ini, kubu bearish terus berupaya mendorong harga menembus level psikologis US$4.000, meski tekanan itu mulai mereda pada Jumat sore," ujarnya.

Pada grafik mingguan, lanjutnya, upaya membawa harga kembali di atas rata-rata pergerakan 50 minggu gagal. Namun, area ini juga merupakan zona support sejak akhir tahun lalu sehingga persaingan di sekitar level saat ini diperkirakan akan berlangsung ketat.

Meski risiko penurunan masih besar, sejumlah analis menilai harga saat ini mulai menawarkan valuasi yang menarik bagi investor jangka panjang. Mereka juga menilai kecil kemungkinan emas bertahan lama di bawah US$4.000 per troy ounce.

Analis juga mencatat bahwa meski pembelian emas oleh bank sentral melambat, permintaan dari sektor resmi tetap menjadi penopang penting yang diperkirakan mampu menjaga batas bawah harga emas.

Di sisi lain, sejumlah analis masih mempertanyakan apakah Federal Reserve benar-benar akan menaikkan suku bunga tahun ini meski tekanan inflasi tetap tinggi.

Senior Vice President of Equity Research Jefferies Fahad Tariq mengatakan untuk saat ini investor tampaknya hanya memperhitungkan satu skenario, yakni The Fed menaikkan suku bunga tahun ini.

"Seperti yang telah kami sampaikan sebelumnya, kami menilai The Fed masih mungkin mengambil pendekatan look through terhadap guncangan harga minyak, terutama setelah harga WTI kembali berada di bawah US$70 per barel. Kami sulit melihat suku bunga naik tahun ini mengingat implikasi politik dan fiskalnya,” ungkapnya.

Analis menilai laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat pekan depan akan menjadi faktor penting yang menentukan arah kebijakan Federal Reserve selanjutnya.

"Jika laporan ketenagakerjaan AS pada 2 Juli lebih kuat dari perkiraan karena tambahan perekrutan terkait Piala Dunia, narasi hawkish The Fed akan semakin menguat. Jika peluang kenaikan suku bunga pada Juli meningkat, harga emas berpotensi kembali tertekan di bawah US$4.000," ujar Senior Market Analyst FXTM Lukman Otunuga.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IPB University Kembangkan Pakan Komplit Fermentasi Berbasis Biomassa untuk Peternak Garut
• 10 jam lalupantau.com
thumb
Tingkatkan Produktivitas Peternakan, LPPM Unhas Dorong Pemanfaatan Pakan Lokal dan Manajemen Kelompok di Bulukumba
• 19 jam laluharianfajar
thumb
PNM Menegaskan Budaya Kepatuhan untuk Memperkuat Tata Kelola dan Kepercayaan Pelaku Usaha Mikro
• 11 jam lalupantau.com
thumb
Purbaya: Panda Bond Bakal Diterbitkan Akhir Juli 2026
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
BMKG Juanda: Jawa Timur Cerah Berawan Sepanjang Hari, Ada Potensi Hujan Ringan
• 38 menit lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.