Gelombang panas (heatwave) dan kekeringan yang semakin sering melanda Eropa tidak hanya mengganggu sektor pertanian dan rantai pasok, tetapi juga menggerus kondisi keuangan rumah tangga. Dampak perubahan iklim tersebut menyebabkan penurunan pendapatan masyarakat sekaligus meningkatkan risiko kemiskinan di berbagai negara di kawasan itu.
Dikutip dari Bloomberg, ada sebuah penelitian di jurnal Global Environmental Change yang menemukan fakta gelombang panas dan kekeringan sepanjang periode 2004-2022 telah memangkas pendapatan rumah tangga tahunan rata-rata di seluruh Eropa hampir 3 persen dibandingkan tanpa adanya cuaca ekstrem. Sehingga, kini tambahan 5,6 juta warga Eropa dalam risiko kemiskinan.
Sebagai benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia, Eropa menghadapi dampak yang besar terhadap keuangan rumah tangga karena memperlambat pekerjaan. Selain itu, ada juga risiko kesehatan seperti serangan panas dan penyakit kardiovaskular.
Peneliti mengungkap Madrid menduduki peringkat teratas, dengan penurunan pendapatan hampir 10 persen akibat produktivitas yang lebih rendah.
“Ada bukti jelas tentang dampak dan efek perubahan iklim pertama yang dirasakan oleh masyarakat umum,” kata penulis utama studi ini dan ekonom iklim di Climate Analytics, Jessie Ruth Schleypen, dikutip dari Bloomberg, Sabtu (27/6).
Temuan ini menambah bukti mengenai kebutuhan ongkos yang mahal. Para ekonom memperkirakan semakin tinggi suhu, semakin tinggi pula biaya makanan sehingga menekan anggaran rumah tangga.
Ekonom iklim di Columbia Business School, Gernot Wagner mengatakan kemajuan dalam penelitian ekonomi yang dip coupled dengan percepatan perubahan iklim yang pesat kini mempermudah untuk menentukan biaya-biaya ini.
“Dampak kumulatif dari waktu ke waktu cukup besar sehingga sudah terlihat dalam statistik ekonomi. Kita sudah lebih miskin karena perubahan iklim,” katanya.
Penelitian ini menggunakan data pendapatan rumah tangga dan kondisi cuaca di seluruh Uni Eropa sepanjang 2004-2022, kemudian membandingkannya dengan skenario tanpa gelombang panas dan kekeringan.
Mereka menemukan fakta sebanyak 20 persen penduduk termiskin diperkirakan akan mengalami kerugian pendapatan yang lebih besar karena mereka cenderung bekerja di industri yang kurang memberikan perlindungan dari panas, seperti pertanian dan konstruksi.
Cuaca ekstrem ini kadang memaksa pekerja kasar untuk libur, sementara pekerja di kantor berpendingin udara mengalami dampak cuaca ekstrem yang lebih kecil.
Menurut Schleypen, keluarga berpenghasilan rendah juga lebih cenderung tinggal di daerah dengan akses air yang lebih terbatas dan ruang hijau yang lebih sedikit untuk mengurangi dampak gelombang panas.
Para peneliti memperingatkan tanpa kebijakan iklim yang lebih ambisius, Eropa dapat menghadapi kerugian pendapatan dua digit. Jika pemanasan global berhasil dibatasi pada 1,5 derajat celsius sesuai target Perjanjian Paris, pendapatan rumah tangga diperkirakan tetap turun sekitar 7,4 poin persentase dibandingkan kondisi historis.
Namun, suhu diperkirakan akan melampaui ambang batas tersebut, dan pemanasan yang diproyeksikan dengan kebijakan saat ini justru dapat menurunkan pendapatan hingga 27,2 poin persentase.





